Disaster Love

Disaster Love
CONFUSE 32



Aaron sampai di ruangan Areon. Laki-laki itu nampak tertidur dengan wajah kebiruan akibat pukulan Aaron. Aaron berjalan mendekat ke brankar Areon. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana serta menatap Areon.


"Bagaimana keadaanmu?" Areon membuka mata mendengar ucapan Aaron. Ternyata laki-laki berumur 20 tahun itu tidak tertidur.


"Calia sudah tiada" kata Areon dengan pandangan kosong. Areon sama sekali tidak menjawab pertanyaan Aaron, ia malah mengatakan hal lain.


Aaron tercengang, seketika amarahnya kembali bangkit mendengar nama Calia disebut. Aaron tahu betul bahwa Calia yang menembak kedua orang tuanya hingga meninggal. Aaron juga selama ini menyakiti Calista untuk memandapatkan informasi tentang Calia atau paling tidak membuatnya keluar dari persembunyian. Tapi ternyata dia sudah mati. Aaron memejamkan mata menahan marah.


"Apa yang kau katakan, huh? Darimana kau mengetahuinya?!!" tanya Aaron marah. Ia menarik kerah baju Areon sambil menatapnya tajam.


"Dia sudah mati!! Calista sendiri yang mengatakannya padaku."


Pegangan Aaron pada kerah baju Areon terlepas. Ia terduduk lemas di tempat duduk di belakangnya. Areon tau tatapan itu, tatapan Aaron yang sarat akan luka dan penderitaan masa kecil. Penderitaan setelah orang tua mereka meninggal. Tatapan Aaron nampak kosong, ia duduk pasrah dan mematung. Areon menyadari hal itu.


"Apa wanita hamil itu terluka?" Areon membuka suara. Rasa bersalahnya terhadap Calista menyelimuti dirinya. Hingga setiap ia memejamkan mata terlintas ekspresi Calista yang menahan sakit di perutnya, itu berarti tentang baby dan Areon paling benci jika menyangkut baby. Ia akan lemah begitu saja.


"Dia baik-baik saja"


Aaron bangkit dan keluar dari ruangan itu. Bukan kembali ke ruangan Calista, Aaron pergi ke kantornya. Ia harus menenangkan diri terlebih dahulu. Semua hal yang terjadi seakan membuat kepalanya pecah. Hidup begitu mempermainkannya. Sekarang apa yang harus ia lakukan pada Calista. Aaron benar-benar dilema, kemarahan dan ingatan masa lalu terus membayanginya. Jika Aaron melihat Calista akan secara automatis mengingatkannya pada Calia. Aaron takut jika ia lepas kendali dan menyakiti ibu dari calon anaknya itu.


Calia dan Calista, dua wanita yang membuat hidupnya berantakan. Calia sukses menghancurkan masa kecilnya dan membuatnya dan adik-adiknya merasakan penderitaan yang begitu menyakitkan. Sementara Calista, wanita itu sukses memporak-porandakan perasaannya. Dengan sifat Calista, Aaron menjadi gila. Wanita itu selalu bisa hadir di setiap ia memejamkan mata. Calista juga selalu bisa membuatnya merasa bersalah di setiap hal buruk yang Aaron lakukan padanya. Calista telah membuat Aaron jatuh dalam cinta. Calista sangat mencintai Aaron dan Aaron sudah terbiasa dicintai istrinya itu.


Aaron kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Perusahaannya sekarang bahkan terombang-ambing dan terancam rugi besar karena Aaron terlalu fokus pada masalah pribadinya, terutama Calista. Banyak rapat yang Aaron tinggalkan bahkan batalkan karena harus mengurus Calista.


Hari sudah gelap. Aaron masih belum beranjak dari kursi kebesarannya, matanya masih terfokus pada MacBook di depannya. Aaron bahkan melewatkan makan malamnya. Sesekali pria itu meregangkan otot-otot yang terasa kaku karena terlalu lama duduk. Waktu berjalan sangat cepat, hingga tak terasa sudah pukul 11.23 itu artinya sudah hampir tengah malam. Aaron mengakhiri pekerjaannya dan menutup MacBook.


Aaron melangkah keluar. Ia melajukan mobil sport hitamnya menuju rumah sakit tempat Calista dirawat. Wanita itu pasti mencarinya. Aaron mengusap wajahnya kasar, ia lelah. Pekerjaannya bahkan belum selesai setengahnya, tetapi jika ia terus mengerjakannya sampai pagi pun tidak akan selesai. Malam ini setidaknya Aaron harus memejamkan mata, besok perusahaan sangat membutuhkannya.


Aaron sampai di ruangan Calista. Istrinya itu sudah terlelap dengan wajah yang sangat tenang. Ada sedikit gurat kekhawatiran pada keningnya, entah apa yang dipikirkan wanita itu dalam tidurnya. Aaron mendekat dan berdiri di sebelah Calista. Aaron melihat wajah cantik istrinya yang tertidur lelap.


"Takdir terlalu mempermainkanku. Kau tau, aku ingin membencimu, menyakitimu, tapi hatiku juga terasa sakit saat dan setelah melakukannya." Aaron berujar dengan pelan di depan wajah Calista yang terlelap. Tangannya mengusap lembut kening dan rambut Calista. Mata Aaron memanas, bulir-bulir air mata telah memenuhi pelupuk matanya.


Aaron menghapus air matanya. Ia menarik nafas dalam dan berusaha mengendalikan dirinya. Sekali lagi Aaron menatap wajah Calista. Wajah yang begitu cantik, sungguh ciptaan Tuhan sangat indah. Aaron tersenyum sinis, amarah dan perasaan aneh dihatinya menjadi satu. Sulit untuk memisahkan mereka.


Aaron beranjak dari sebelah Calista. Ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Dinginnya air seolah meringankan sedikit beban di kepalanya. Hari ini ia benar-benar lelah. Aaron selesai membersihkan diri lalu beralih ke sofa di ruangan Calista.


Aaron menghembuskan nafas lelah. Ia berbaring menatap langit-langit. Perlahan rasa kantuk mulai menguasainya, Aaron tertidur di sofa itu.


Setelah beberapa saat dirasa Aaron sudah tertidur, Calista membuka mata. Air matanya mengalir, ia menutup mulutnya yang dengan nakal mengeluarkan suara tangis. Sekuat tenaga Calista menahan isakannya agar Aaron tidak terbangun. Semua kata-kata Aaron dapat didengarnya dengan jelas. Calista sebenarnya terbangun saat suaminya itu mulai mengelus kepalanya. Calista juga sekuat tenaga menahan air matanya saat Aaron bercerita. Ingin rasanya Calista memeluk Aaron. Ternyata rahasia besar yang disimpan suaminya begitu menyakitkan.


Dari kata-katanya saja Calista tau bahwa hal yang sudah dilalui Aaron serta adik-adiknya begitu berat. Dan itu semua terjadi karena kesalahan di masa lalu.


Tangis Calista makin menjadi. Dadanya sesak menahan tangis. Kini semua ingatan Calista sudah kembali termasuk saat Aaron memperlakukannya dengan buruk. Malam ini Calista menangis dalam diam, ia meringkuk memeluk dirinya sendiri juga baby di kandungannya. Biarlah malam yang meredakan tangisnya. Calista harus kuat, semua ujian ini harus dapat ia lalui.


Calista mencintai Aaron, sampai kapanpun dan apapun yang dilakukan Aaron Calista tetap akan mencintai suaminya itu. Selamanya.


To be continue.....


Calista Maylafaisha



Terimakasih semuanya yg sdh dukung, terimakasih sudah setia nunggu Calista, Aaron dan Areon 🙏


Terimakasih untuk vote, like, dan commentnya.


Happy New Year All!!


Wish You All The Best :)