Disaster Love

Disaster Love
DISASTER LOVE 45 (END)



"Sebuah kisah pasti mempunyai akhir yang manis, jika tidak artinya kisah itu belum berakhir."


githaprawisanti (author)


*****


Bagai disambar petir, seluruh tubuh Aaron lemas. Rasanya seperti semua tulang di tubuhnya hilang entah kemana. Cengkraman di lengan suster itupun terlepas. Aaron berjalan mundur beberapa langkah, jantungnya sudah berdetak tak karuan, pikirannya menampilkan seluruh ingatan tentang Calista.


Aaron menggeleng. "Tidak! tidak mungkin, Calista tidak mungkin...." ucapannya menggantung.


Ingatan beberapa jam lalu ketika ia menggendong Calista kembali terlintas di benaknya. Wajah Calista pucat pasi, hidungnya terus menerus mengeluarkan darah.


Aaron berjalan lunglai menuju ke luar ruangan bayi tersebut. Tujuannya kini hanya satu, mencari Calista. Istrinya itu pasti masih beristirahat di ruangannya, apalagi setelah melahirkan anak mereka. Istrinya tidak mungkin pergi. Aaron mulai meyakinkan dirinya sendiri, terutama hatinya yang sudah tak karuan.


Aaron hanya berjalan perlahan dengan sesekali memegangi tembok di lorong rumah sakit. Tenaga Aaron lenyap, nyalinya juga menghilang setelah kata-kata suster itu yang terus terngiang di pikirannya.


"Calista Maylafaisha, ibu anak itu sudah pergi..." bagaikan kaset rusak perkataan suster itu berputar-putar dan membuat kepala Aaron pusing.


Sepanjang jalan pandangan Aaron kabur, pelupuk matanya dipenuhi air mata yang menggenang. Tubuhnya bahkan kembali merasakan sakit yang berdenyut akibat pukulan James, namun Aaron tetap melangkah. Langkah demi langkah yang terasa semakin menyakitkan baginya. Semakin dekat Aaron dengan tujuannya, semakin ia takut. Badannya semakin bergetar di setiap langkahnya. Aaron takut jika Calista benar-benar meninggalkan dirinya. Aaron juga takut, mimpi dan khayalannya tentang Calista itu menjadi kenyataan.


Dengan tertatih Aaron melangkah ke ruangan itu, ruangan yang berada di depan matanya. Mungkin hanya butuh beberapa langkah lagi, namun kakinya mendadak lemas melihat pemandangan di depannya. Hatinya seolah diremas sangat kuat, rasanya begitu nyeri dan menyakitkan. Di depan ruangan itu, seorang wanita paruh baya menangis histeris. sementara, pria yang terlihat lebih muda di dekatnya hanya terduduk melamun dengan air mata yang menghiasi wajahnya.


Tangannya bergetar hebat, ia menelan salivanya sekuat tenaga. Aaron menarik nafas dalam, sedalam yang ia sanggup. Aaron kembali melangkah, dengan tertatih dan sangat lambat. Hatinya semakin yakin jika Calista tidak baik-baik saja. Ia ingin sekali berbalik, pergi menjauh dari tempat itu. Karena apapun yang terjadi Aaron yakin ia tidak akan sanggup mendengar kenyataannya. Tapi raganya dan hatinya terus saja tertarik ke tempat itu. Menariknya menuju kehancuran.


Aaron sampai, di depannya tepat pintu yang menjadi gerbang menuju Calistanya. Tangannya bergerak ingin membuka pintu ruangan itu, tapi sebuah suara menghentikan aksinya.


"Berhenti!"


"Mau apa kau, b*j*ng*n?" James berdiri. Matanya memerah, urat-urat di wajahnya tercetak dengan jelas, bahkan terdengar gemeletuk gigi. James benar-benar terlihat menahan dirinya sekuat tenaga. Ia memandang Aaron dengan tatapan yang sangat suram, gelap, dan menyeramkan.


Aaron melirik sedikit, namun ia terlihat tidak peduli sama sekali. Aaron kembali hendak membuka pintu itu.


"Kubilang hentikan!!!" teriakan James bergerumuh.


BUGH


"Beraninya kau memperlihatkan batang hidungmu di tempat ini, huh!!"


BUGH


"B*j*ng*n sepertimu tidak pantas menginjakkan kaki disini!!"


BUGH


"Kau mau apa lagi, br*ngs*k? Belum puas, kah, kau?!" James memukulnya tanpa ampun. Saat ini Ia sudah tak terkendali, semua amarahnya dilampiaskan pada Aaron.


James mengangkat kerah pakaian Aaron. "Ku tanya sekali lagi, apa maumu datang kesini, huh?"


"Kau mau tertawa sekarang? Rencanamu sudah berhasil! Ayo, tertawalah! Tertawa di depanku sekarang juga, br*ngs*k!!" Aaron kembali terhempas ke lantai.


"Uhhukk, uhuukk...." Aaron terbatuk memegangi dadanya.


James kembali mendekati Aaron dan menarik kerah baju Aaron. "Ak-aku ingin bertemu Calista."


Pukulan kembali mendarat di wajah Aaron. Amarah James kembali membuncah mendengar perkataan Aaron.


"Berani-beraninya kau ingin bertemu dengannya, b*j*ng*n! Kau bahkan tidak pantas untuk sekedar menyebut namanya!!"


"Uuhuukk, aarrgh.."


"Stop!" Jane berdiri dan mendekati James. Wanita paruh baya itu menampar James dengan keras. Seketika James terdiam, genggamannya pada Aaron juga terlepas.


"Dan kau... Kau ingin menemuinya, bukan? Untuk apa? Dia sudah pergi! Calista sudah pergi, dia pergi untuk selamanya."


Aaron menatap dalam kedua mata paruh baya Jane. Mata yang kembali mengalirkan air mata, mata yang menyiratkan rasa sakit, amarah, dan kehilangan yang mendalam. Semua rasa itu bercampur menjadi satu dalam mata Jane. Tidak ada kata yang dapat mengutarakan rasa sakit di hatinya. Tidak ada satu katapun yang dapat menjelaskan reaksi tubuhnya sekarang. Aaron hancur.


Sementara Jane kembali menangis dan terduduk. "Kau, bercanda, bukan? Calista masih hidup, dia baru saja melahirkan anak kami, dia tidak mungkin..." ucap Aaron terbata-bata.


"Mungkin!! Dia meninggal setelah melahirkan bayinya. Kau puas? Kau puas sekarang?" Aaron kembali terdiam. Seluruh harapannya hancur. Pertahanan dirinya juga hancur bersama pernyataan Jane.


"Ke-kenapa?"


Jane tertawa lalu menangis lagi, kemudian ia menjawab. "Kenapa kau tidak bertanya demikian pada dirimu sendiri? Kenapa baru sekarang kau bertanya? Apa baru sekarang kau sadar? Disaat dia sudah pergi bersama semua rasa sakitnya!!?" Jane menunjuk-nunjuk Aaron dengan telunjuknya, sesekali ia juga memukul dada Aaron untuk meluapkan rasa sakitnya.


Aaron begitu bodoh. Semua yang dikatakan Jane memang benar. Ia terlambat untuk bertanya, ia bahkan terlambat untuk semuanya.


"Semuanya karena kau! Karena b*j*ng*n seperti dirimu-lah dia pergi! Selama ini dia menyimpan semua rasa sakitnya sendiri, dia bahkan merahasiakan penyakitnya.... hiks" ucap Jane


James yang sedari tadi diam kembali berdiri. Ia kemudian menarik Aaron untuk menjauh dari ibunya. James melempar pria itu menjauh dengan nafas yang terengah.


"Jangan coba-coba menunjukkan batang hidungmu lagi di depanku, atau Aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu."


Saat itulah seorang laki-laki datang dan berteriak memanggil Aaron.


"Kakak!" Areon datang dan membantu Aaron untuk bangun.


"Ayo, kita pergi dari sini" Areon sudah mengetahui semuanya. Pihak rumah sakit menelponnya untuk memberitahu keadaan Aaron beberapa saat lalu. Areon buru-buru datang, saat sampai disini ia terkejut. ia terkejut mendengar kabar kematian kakak iparnya. Wanita yang pernah ia sakiti dulu.


Aaron merontak menolak pegangan Areon. Ia sama sekali tidak peduli dengan siapapun bahkan dirinya sendiri. Ia hanya ingin menemui Calista. Aaron sangat merindukan senyuman hangat wanita itu, Aaron juga merindukan tatapan mata teduh yang mampu membuat hatinya bergetar. Saat ini pikirannya hanya dipenuhi oleh Calista.


"Calista, Calista, Calista...." hanya nama Calista yang ia sebut dalam hatinya.


Aaron berdiri dengan susah payah, Areon sama sekali tidak diizinkan untuk membantunya. Ketika berhasil berdiri ia kembali berjalan menuju ruangan Calista. Hal itu membuat amarah James kembali membuncak. James kembali mendekati Aaron dan memukul wajahnya yang sudah babak belur.


Aaron tersungkur dan meringis. Mulutnya kembali robek dan mengeluarkan darah. Sekarang Aaron benar-benar terlihat menyedihkan, wajahnya penuh luka lebam yang berwarna keunguan. Bibirnya berdarah, dan juga beberapa luka lebam di seluruh tubuhnya hingga Aaron kesulitan untuk berdiri. Sementara amarah Areon hampir terpancing karena tindakan James tadi. Areon kembali mendekati Aaron dan membantunya berdiri.


"Aku tidak pernah main-main dengan perkataanku. Jika kau sekali lagi berani mencoba menemui Calista, kau akan mati di tanganku." James terlihat sangat marah, tangannya memerah setelah memukul Aaron. Wajahnya terlihat sangat beringas, seperti mafia yang kabur dari tahanan.


"Hehe... uhuukk" Aaron malah tertawa disusul batuk. Mulutnya bahkan kembali mengeluarkan darah akibat batuk itu.


"Bunuh saja, jika kau membunuhku akan lebih mudah bagiku menemui Calista." Dengan terbata dan sisa tenaga Aaron berujar. James kembali menggila dan hampir menyerang Aaron kembali.


"Sialan!! Beraninya kau..." Areon menghadangnya.


"Langkahi dulu mayatku sebelum kau menyentuh Kakakku" Sekarang Areon dan James berpandangan dengan jarak yang begitu dekat. Pandangan mereka sama-sama sengit. Mereka berdua terlihat menyeramkan.


Sementara Aaron kembali terbatuk, ia berusaha berdiri lagi dan tidak mempedulikan kedua pria yang hampir saking baku hantam di depannya.


"Tunggu aku, Calista" gumam Aaron dalam hati. Ia kembali melangkah ke ruangan itu. Namun pandangannya tiba-tiba jatuh pada sosok wanita di ujung lorong. Aaron membeku, senyum terbit di wajahnya dan seketika rasa sakit di tubuhnya sedikit menghilang.


"Calista?" gumam Aaron kecil.


Aaron berjalan mendekati wanita itu. Perasaannya luar biasa membuncah. Dengan tertatih ia berusaha, tanpa mempedulikan semua rasa sakitnya ia mendekati wanita di ujung lorong itu. Niatnya memasuki ruangan pun hilang. Aaron melangkah sekuat tenaga, dengan senyum mengembang. Tetapi wanita itu tiba-tiba berjalan menjauh bersama suster disebelahnya. Di ujung lorong mereka berbelok hingga tak dapat lagi dilihat Aaron. Senyum dibibir Aaron luntur, ia berjalan lebih cepat bahkan berlari kecil untuk mengejar wanita itu.


Ketika ia berbelok di ujung lorong, wanita itu sudah akan memasuki lift. "Calista! Tunggu aku, jangan pergi!" Aaron semakin mempercepat langkahnya.


James, Areon dan Jane terperanjat mendengar teriakan Aaron. Areon memutus pandangan dari James dan berbalik untuk melihat kakaknya yang tadi berada di belakangnya. Areon mulai panik ketika Aaron tidak ada di belakangnya, itu berarti ia tidak salah dengar. Kakaknya tadi yang berteriak dan teriakan itu berasal dari ujung lorong. Areon berlari ke ujung lorong, sementara James masuk ke ruangan Calista disusul Jane. Mereka berdua terpaku melihat brankar di ruangan Calista.


Ternyata benar Aaron ada disana, Areon terkejut ketika kakaknya berjalan dengan terburu-buru untuk memasuki lift satunya lagi yang baru saja terbuka.


"Kakak tunggu!"


Areon berlari mengejar Aaron, tetapi Ia terlambat. Pintu lift sudah lebih dulu tertutup. Kedua lift disana juga masih tertutup. Areon kesal dan mengacak rambutnya. Ia melihat sekeliling dan menemukan tangga darurat. Tidak ada pilihan lain, Areon berlari mengejar kakaknya menggunakan tangga itu.


Di dalam lift Aaron benar-benar tidak sabar, senyumnya kembali mengembang. ia sangat bersemangat, kali ini ia tidak akan melepaskan Calista lagi. Calista tidak boleh pergi lagi darinya ataupun dari hidupnya.


TING


Pintu lift Aaron terbuka, wanita yang ia kejar itu berada di lobby tepatnya di meja resepsionis.


"Calista!!" Aaron kembali berteriak. Namun wanita itu seolah tidak mendengarnya bahkan berjalan ke pintu keluar.


Aaron mengejar wanita itu, kakinya semakin terasa sakit dan sulit diinjakkan. Jarak mereka cukup jauh hingga Aaron sulit mengejarnya. Tapi entah kekuatan darimana, saat wanita itu menghentikan taksi kaki Aaron tiba-tiba terasa sangat ringan. Ia bahkan berlari dengan kencang dan langsung memeluk wanita itu dari belakang.


"Calista, jangan pergi lagi. Aku mohon jangan tinggalkan aku" Aaron menangis di pundak wanita itu.Wanita itu meronta mencoba melepas pelukan Aaron


"Tidak, kumohon jangan pergi." Aaron malah memeluknya semakin erat. Sangat erat hingga wanita itu terdiam.


"Jangan pergi lagi, Calista. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu." Aaron tersenyum, ia tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya.


Tetapi wanita itu hanya diam saja. Mungkin ia terlalu lelah untuk berontak.


Aaron sangat merindukan wajah Calista, tatapan mata hingga senyumnya. Semua yang ada pada Calista, sangat Aaron rindukan. Aaron membalik wanita itu dengan perhalan.


DEG


Tubuhnya seolah disambar petir yang dahsyat. Senyumnya luntur seketika, raut wajah Aaron berubah dengan sorot mata melemah. Sementara hatinya? Sudah tidak berbentuk, hancur berkeping-keping. Pasokan oksigen di paru-paru Aaron seolah habis ketika melihat wajah wanita itu.


Dia bukan Calista. Hanya seseorang yang mirip Calista dari belakang. Aaron begitu terpukul, ketika sorot mata yang begitu ia harapkan ternyata tidak ia dapatkan. Ketika harapannya yang sudah melambung tinggu ke langit ke tujuh dijatuhkan begitu saja.


Aaron tidak baik-baik saja. Wanita itu memandang dirinya aneh, wajahnya terlihat kesal lalu tanpa basa-basi pergi menjauh menaiki taksi yang berhenti di belakangnya.


"Kakak!!" Areon berdiri di pintu rumah sakit dengan pandangan iba.


Aaron tertawa sumbang bersama air mata yang mengalir dari kedua matanya. "Calista... Kau dimana, huh? Jangan bersembunyi dariku, kumohon keluarlah!!"


Aaron berteriak frustasi. Ia masih sangat yakin jika Calista-nya masih hidup dan hanya bersembunyi untuk menghindarinya. Ia kembali berjalan dan menatap satu per satu orang yang berlalu lalang di jalan raya sembari menatap dirinya aneh. Beberapa orang iba melihat Aaron yang terlihat sangat frustasi.


Tepat sekitar 50 meter dari tempat Aaron berdiri ada sebuah mobil dengan mesin menyala. Di dalam mobil itu seorang wanita menggenggam kemudi mobil dengan sangat erat. Wajah wanita itu juga memerah menahan marah. Ia sudah bersiap untuk menginjak pedal gas. Dilihatnya Aaron yang berteriak-teriak di jalanan. Ketika dirasa tepat, wanita itu dengan lagas menginjak gas dengan kecepatan tinggi.


Areon yang baru saja akan menghampiri Aaron melotot ketika melihat Mobil melaju kencang menuju ke arah kakaknya.


"Kakak, awas!!"


BRAKK


Tabrakan tidak terhindarkan lagi. Areon membeku, jantungnya seakan copot dari pembuluh darah yang menyangga. Areon membeku melihat mobil yang menabrak kakaknya hingga Aaron terpental jauh.


Tubuh Aaron berguling-guling dan akhirnya terkapar di atas aspal. Wajahnya dipenuhi darah segar, badannya penuh luka, dan matanya masih menyisakan sedikit kesadaran.


Aaron bernafas dengan susah payah, pandangannya buram dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Seluruh tubuhnya bagai ditusuk ribuan pisau di setiap incinya, tulang-tulangnya pun terasa remuk. Di sisa kesadarannya, Aaron berusaha menggapai sesuatu. Tangannya berusaha menggapai bayangan Calista yang muncul dengan wajah sedih. Aaron berusaha menggapai bayangan Calista namun kegelapan lebih dulu menyelimuti dirinya.


Areon berlari mendekati kakaknya. Pria itu menangis dan memangku kepala Aaron. Areon berteriak memanggil kakaknya dan juga meminta bantuan. Orang-orang masih terpaku melihat kejadian yang begitu cepat terjadi itu.


Sementara mobil yang menabrak Aaron menghilang. Di dalam mobil, seorang wanita tertawa dengan sangat keras. Ia benar-benar puas dengan hal yang sudah berhasil ia lakukan.


Alexandra tertawa begitu keras, ia sudah kehilangan akal sehatnya ketika menyadari ia sudah ditipu oleh Aaron. Alexandra begitu marah saat hidupnya dan seluruh karirnya berhasil dihancurkan oleh Aaron dalam semalam. Ia bahkan tidak peduli dengan konsekuensinya setelah ini, yang terpenting Aaron mati di tangannya sendiri.


*****


Di sisi lain, seorang bayi laki-laki yang sangat tampan menangis dengan sangat keras. Bayi itu seolah tau, kejadian yang buruk baru saja terjadi pada kedua orang tuanya. Bayi itu menangis tanpa ada seorang pun yang bisa menenangkannya, entag itu paman atau neneknya.


Kisah ini belum berakhir, justru baru saja akan dimulai kembali. Hanya saja jika terus dilanjutkan, maka akan menimbulkan rasa sakit yang jauh lebih menyakitkan kepada Calista maupun Aaron, ataupun yang lainnya. Calista sudah pergi, ia meninggal setelah bayinya lahir. Ia meninggal karena kanker darah yang di derita dan juga komplikasi saat melahirkan.


"Aku akan pergi bersama rasa sakit yang kau tinggalkan. Selamat tinggal Aaron, terima kasih karena telah memberiku rasa sakit ini bersama cinta yang belum sempat terbalaskan. Tolong jaga anak kita dengan baik. Aku mencintaimu, Aaron. Aku mencintaimu yang telah memberiku rasa sakit yang teramat sangat ini."


~Calista Maylafaisha


The end


Aaron Gavrilo



Calista Maylafaisha



Areon Gavrilo



Jane



James



Kim Christian (Ayah Calista)



Ini adalah para visual di cerita Disaster Love. Pada akhirnya Disaster Love bisa tamat, terimakasih bnyak saya ucapkan kepada seluruh reader yang sudah vote, comment, dan like. Author mengharapkan part terakhir ini dapet like yang jauh lebih banyak dari part lainnya! Akan ada ekstra partnya, so kalau kalian kepo sama kelanjutan ceritanya, nasib Aaron, sama visual baby, akan ada di ekstra part!!


Don't miss it!


Lebih banyak like and vote, lebih cepat update!!