Disaster Love

Disaster Love
REINCARNATION LOVE 02



"Kita tidak saling mengenal, tapi entah mengapa aku bergetar saat kau menatapku. Saat kerinduan di matamu melumpuhkan seluruh kesadaranku."


~Viollet


Viollet PoV


Semua oksigen di sekitarku rasanya menipis. Aku seharusnya berusaha lepas dari pelukannya, Aku seharusnya melawan, tapi Aku tidak berdaya. Tatapannya melumpuhkanku, tubuhnya yang bergetar membuat hatiku ikut bergetar. Kenapa Aku bisa seperti ini? Ada apa denganku? Kenapa di hadapannya membuatku tak berdaya?


Tangannya memelukku hangat, kenapa berada di pelukannya membuatku merasa nyaman?


Aku terhanyut dalam perasaan nyaman ini untuk beberapa saat. Untuk beberapa saat pula Aku tidak sadar berada di pelukan seorang pria. Mahkluk yang kubenci karena telah menorehkan luka yang begitu dalam. Luka yang akan membekas selamanya di sana. Aku benci pria!


Tiba-tiba amarahku memuncak, kenangan pahit itu kembali merasuki pikiranku. Hatiku berdenyut sakit, terlalu pahit untuk diingat kembali. Dan sayangnya bayangan itu akan menghantuiku seumur hidup. Aku berontak, dan meronta. *Menjijikkan!


"Aku melakukannya lagi! Sial!" kutukku pada diri sendiri*.


Akhirnya aku terlepas dari pelukannya, Aku berbalik dan hendak pergi tapi dia menangkap tanganku. Aku tidak tahan lagi.


Aku berbalik dan menatapnya lagi. Pria asing yang memelukku beberapa saat lalu. Pria dengan pelukan hangat dan tatapan dalam itu. Tatapannya melemah menatapku, dalam gelap tatapannya juga ikut meredup.


Viollet PoV end


"Aaaa..." Vio memekik. Tubuhnya ditarik sangat keras sehingga hilang keseimbangan dan terjatuh di pangkuan laki-laki itu.


"Jangan pergi, ku-ku mohon tetaplah disini..." Laki-laki itu berbisik serak dan dalam, kedua tangannya memeluk Vio erat. Sangat erat seolah enggan membiarkan perempuan itu pergi.


Vio terpaku. Ada apa dengan dirinya, kenapa ia seolah kehilangan semua kendali atas dirinya sendiri. Ia hanya dia dalam pelukan lelaki yang tidak dikenalnya itu, ia sama sekali tidak berontak. Hanya air matanya yang terus mengalir.


"Jangan tinggalkan Aku, Calista"


DEG


"Siapa Calista?" batin Vio penuh rasa penasaran.


Setelah kata-kata itu, tangan yang memeluk Vio merenggang. Pelukan itu tidak lagi posesif seolah takut kehilangan, pelukan itu merenggang. Tangan besar nan hangat pria itu perlahan turun, tidak lagi melingkari punggung Vio.


Vio menahan nafas, kepalanya bergerak melirik pria itu. Vio terpaku, saat mata indah yang menatapnya intens beberapa saat lalu kini terpejam. Tidak ada lagi getaran yang dirasakan Vio pada tubuh pria itu. Dia pingsan, pria itu tidak sadarkan diri.


*****


Sinar matahari yang masuk melalui jendela menyilaukan mata Viollet. Ia terbangun. Ternyata hari sudah terang, ia tertidur di sebuah kursi kayu di kamar Aaron.


Vio tersadar ia masih di kamar itu. Ia ketiduran sesaat setelah membawa Aaron ke tempat tidur. Ia seketika berdiri dan menatap ke seluruh penjuru ruangan. Sepi!


Dimana pria itu?


Vio berjalan menuju pintu dengan terburu-buru. Ia bersyukur jika pria itu tidak ada di tempat itu bersamanya. Vio tidak akan sanggup jika bertatapan langsung dengan pria itu saat sedang terang. Ketika gelap saja jantungnya sudah marathon, matanya hampir meleleh dan tubuhnya bergetar. Bagaimana jika pria itu ada di depannya saat ini dan menatapnya seperti kemarin malam?


Tidak! Itu tidak akan terjadi. Vio berlari keluar kamar, ia mengendap-endap seperti pencuri. Lantai dua sangat sepi, hanya ia manusia yang berada di sana. Ketika sampai di ujung tangga, samar-samar Vio mendengar tangisan bayi dan suara percakapan. Vio terhenti beberapa saat, bagaimana caranya ia bisa keluar dari tempat itu?


Saat sedang tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya. Vio terkejut, ia seketika berbalik melihat orang itu. "Siapa kau?"


Menatap pria yang menyentuh pundaknya, Vio makin ciut. Tanpa sadar dia mundur, hingga kakinya terpeleset dan kehilangan keseimbangan.


"Aaaa......" pekik Vio.


Pria itu menangkap tangan Vio yang melayang di udara, dan menariknya. Tepat sebelum perempuan itu terjatuh ke tangga.


Vio tertarik sangat keras hingga menjatuhi pria itu.


Nafas mereka berdua memburu. Mereka saling tatap untuk beberapa saat, Vio yang berusaha mengembalikan roh-nya yang tadi seakan melayang dari badan kasarnya. Sedangkan pria itu, Areon menatap mata Vio. Areon berada di bawah Vio, ia juga terkejut dengan respon perempuan itu yang hampir terjatuh karena terkejut. Untung saja ia menarik tangannya tepat waktu. Jika tidak, perempuan itu akan berakhir mengenaskan dibawah.


Vio lama terdiam dalam keadaan itu. "Ekhhmm" Areon berdeham.


"Kau akan terus diam atau bangun dari atas tubuhku?"


"Eeiitt, tidak semudah itu! Kau mau lari setelah aku menyelamatkanmu kemarin malam?" ucap Areon datar. Ia menahan lengan Vio dan membalik tubuh perempuan itu hingga menatapnya.


Seperti biasa, wajah Areon terlihat sangat menyebalkan. Tidak ada senyum sedikitpun, Vio yang melihatnya malah bergidik ngeri.


"Lepaskan Aku, ku mohon biarkan Aku pergi." pinta Viollet.


Areon mengeluarkan senyum smirk-nya. "Seperti yang Aku katakan tadi, tidak semudah itu!" Areon menyeretnya ke lantai satu.


Terdengar suara tangisan Baby Dree dari arah ruang makan. Para pelayan sedang berusaha menenangkan pangeran kecil itu, mereka semua kelimpungan menghadapi satu mahkluk kecil menggemaskan itu. Areon menarik Vio ke ruang tamu, dia didudukkan di sofa.


"Kau tidak akan dibiarkan pergi dari tempat ini sebelum semuanya jelas!"


"Ap-apa maksudmu? Aku bukan orang jahat, ak-aku korban." jawab Vio gelagapan. Pasalnya Areon berada di depannya sembari menatapnya tajam.


Tangisan Baby Dree Makin kencang, bahkan makin dekat. Areon berdecak kesal. Baby Dree yang menangis itu dibawa mendekat ke Areon, biasanya jika bersama Areon bayi kecil itu akan lebih tenang.


"Maaf Tuan, tapi Baby tidak mau berhenti menangis. Mungkin dia merindukanmu" kata pelayan itu.


"Bilang saja kau tidak becus merawatnya, jangan membuat alasan!" Pelayan itu menunduk sepenuhnya. Satu kalimat dari majikannya itu serasa mampu menelannya hidup-hidup.


"Ma-maaf, Tuan" cicit pelayan itu.


Pelayan itu izin pamit dan segera menjauh dari Areon. Berapa pelayan mengawasi mereka dari jarak yang agak jauh. Sementara Areon tengah sibuk menenangkan Baby Dree.


Anehnya bayi kecil itu tidak mau berhenti menangis. Segala cara dilakukan Areon untuk menenangkannya, tapi tidak berhasil. Biasanya jika bersama Areon, Baby Dree akan sangat anteng. Bahkan saat Baby Dree sakit kemudian bertemu Areon, bayi itu akan berangsur-angsur membaik. Tapi tidak dengan sekarang, Dreeyan tetap menangis kencang. Viollet bahkan tidak Areon hiraukan saking sibuknya menenangkan Baby Dree.


Vio ingin kabur, tapi ia tidak tega mendengar tangisan Baby Dree. Vio berdiri ingin pergi, namun ia kembali menatap Areon beserta Baby Dree, hatinya terenyuh tidak tega.


Saat itu pula, Baby Dree melihat ke arah Viollet. Kedua tangan mungilnya terbuka ke arah Viollet, berusaha meraih perempuan itu.


Viollet mengernyit saat bayi itu ingin digendong olehnya. Areon bahkan bingung dengan kelakuan ponakannya. Tidak biasanya Baby Dree ingin digendong oleh orang asing, bahkan sangat anti dengan orang asing. Tapi sekarang dia malah semakin meronta di gendongan Areon, bayi itu ingin segera digendong oleh Viollet.


Areon malah menjauhkan baby Dree dari Vio. Alhasil yang terjadi malah Baby Dree semakin histeris. Areon menyerah dan mendekatkan Dreeyan ke Viollet.


"Aku mengawasimu." ucap Areon dingin.


Vio mengambil alih Baby Dree dengan perasaan campur aduk. Tapi rasa takutnya yang paling mendominasi, ia tau mahkluk kecil ini adalah pangeran di rumah mewah ini. Dan tentunya, nyawanya yang menjadi taruhan jika terjadi sesuatu pada bayi ini.


Ketika sampai di gendongan Vio, tangisan Baby Dree mereda. Bayi itu bahkan berhenti menangis setelah beberapa detik ditenangkan Viollet. Hanya beberapa detik!


Bayi tampan itu tampak sangat nyawan digendongan Viollet. Tangannya naik, berusaha menggapai wajah Vio. Bahkan sesekali tawa kecilnya terdengar. Areon dan beberapa pelayan tidak habis pikir dengan pemandangan itu. Berjam-jam Baby Dree rewel dan sangat susah ditenangkan, tapi hanya beberapa detik perempuan itu dapat melakukannya.


Viollet memandang Baby Dree intense. Matanya menyalurkan kasih sayang yang besar pada bayi menggemaskan itu. Kulitnya yang putih, mata bulat, bibir tipis serta pipi gembul mampu membuat Viollet jatuh cinta pada pandangan pertama pada bayi itu. Apalagi saat Baby Dree tertawa, rasanya perasaan Vio ikut menghangat melihatnya.


Vio tersenyum sangat indah saat menyaksikan Baby Dree mulai tertidur digendongannya. Tanpa sadar is mencium pipi gembul Baby Dree yang membuat Areon berteriak padanya.


"Kau..!!" hardik Areon keras. Vio terkejut dan menghentikan aksinya.


Baby Dree menggeliat lagi, ia hampir terbangun kembali setelah mendengar suara pamannya. Untung saja Vio menenangkannya, hingga bayi itu kembali tertidur.


Areon menggeram, ia berusaha menahan amarahnya sembari menunggu Baby Dree benar-benar terlelap. Areon mondar-mandir tidak sabaran, Vio hanya menunduk dan fokus pada Baby Dree. Setelah beberapa menit, Areon mendekati Vio dan mengambil alih Baby Dree. Tapi bayi itu kembali terusik dan menangis keras. Baby Dree bangun tapi malah terus menangis setelah melihat Areon.


Areon terkejut dengan Viollet yang sudah berada di sampingnya. Perempuan itu ingin kembali menggendong Baby Dree yang menangis, awalnya Areon enggan menyerahkan baby Dree, tapi melihat Baby Dree yang menangis makin kencang akhirnya Areon menyerah. Dia menyerahkan bayi tampan itu pada Vio. Perempuan asing yang kemarin malam ia selamatkan.


Bersambung.....


Baby Dree (Kim Aldreeyan Gavrilo)



Susah nyari visual yang pas. Jadi anggap aja Baby Dree kek foto di atas, cuma bayangin aja matanya lebih bulat warna hitam. Next kalian mau visual siapa lagi?