
Hari ini adalah saatnya Calista periksa kandungan ke rumah sakit. Aaron mengantarnya ke rumah sakit tetapi kemudian pergi lagi ke perusahaan karena ada rapat mendadak yang sangat penting.
Aaron sebenarnya tidak tega meninggalkan Calista sendiri, namun rapat ini sangat penting karena menyangkut keberlangsungan perusahaan.
Calista sedang berbaring di brankar. Bajunya terangkat sedikit sehingga memperlihatkan perutnya yang sudah sedikit membuncit. Perutnya diolesi gel oleh dokter, lalu dokter itu mendekatkan sebuah alat ke perut Calista. Di alat lainnya terlihat bayangan baby yang masih sangat kecil. Mata Calista berbinar melihat babynya, Calista sungguh bahagia.
"Lihatlah Nyonya, baby nya masih sangat kecil. Dia nampak sehat. Apa kau mau mendengar detak jantungnya?" kata dokter wanita yang masih sangat muda.
Calista mengangguk sembari menatap dokter itu. Beberapa saat kemudian, detak jantung babynya terdengar. Calista tercengang, ini pertama kali baginya mendengar detak jantung anaknya sendiri. Perasaan Calista membuncah, air matanya bahkan menetes tanpa ia sadari. Dokter itu ikut bahagia melihat ekspresi kebahagiaan Calista.
"Usianya sudah 4 bulan. Kandungan anda sudah mulai menguat pada usia ini, tetapi walaupun begitu anda tidak boleh stres karena akan berakibat buruk bagi bayinya." kata dokter itu sembari memberi resep vitamin setelah Calista duduk di depan mejanya.
"Terimakasih banyak, dok"
"Ingat periksakan kondisi kandungan anda secara rutin." ucap dokter seraya menjabat tangan Calista.
"Tentu, saya pamit" kata Calista seraya melangkah pergi.
Senyum terus menghiasi wajah Calista setelag keluar dari ruangan dokter. Ia mengusap perutnya lembut. Di tempat itu sudah ada orang suruhan Aaron untuk mengantar Calista pulang, sedangkan Aaron sendiri masih sibuk dengan rapatnya.
Sampai di mansion, Calista menuju ke kamarnya. Ia duduk di balkon menikmati desiran angin yang sejuk. Calista memejamkan mata, walaupun ia hilang ingatan tetapi ia bersyukur telah memiliki suami yang perhatian dan juga calon anak mereka yang akan segera hadir. Calista merasa sangat beruntung.
Calista merasa sangat beruntung, setidaknya untuk saat ini. Sebelum ingatan Calista kembali sepenuhnya.
Lama kelamaan Calista merasa bosan, ia bahkan sudah berpindah tempat beberapa kali namun ia masih saja merasa bosan. Tidak ada pekerjaan yang ia bisa lakukan karena Aaron melarangnya melakukannya. Ini juga belum waktunya makan siang, jadi Calista tidak bisa memasak sekarang.
Akhirnya Calista memutuskan untuk beres-beres. Ia merapikan kamar tidurnya dengan suaminya. Dengan hati-hati Calista merapikan meja rias, lemari, nakas dan laci kecil di dekat tempat tidur.
"Hah, akhirnya selesai juga" Calista tersenyum bangga melihat hasil kerjanya.
Ia berdiri dan menatap sekeliling, ternyata ada satu tempat yang belum ia rapikan. Sebuah meja kecil dekat tempat tidur, Calista mulai membuka laci kecil meja itu. Laci itu awalnya susah untuk dibuka, pada akhirnya laci itu terbuka sedikit. Calista penasaran dengan isi di dalamnya. Ia memasukkan tangan dan meraih sesuatu di dalam laci itu.
Jantung Calista berdegup kencang ketika meraba sesuatu yang tidak asing di dalam laci itu. Calista tidak bisa mengeluarkan benda itu, akhirnya ia menarik sekuat tenaga laci itu.
Laci itupun terbuka dan membuat Calista jatuh terduduk karena laci itu lepas dari meja. Isi di dalamnya pun ikut terjatuh keluar.
Calista meringis pelan memegang perutnya, hingga beberapa saat kemudian ia sadar dengan benda yang ada di lantai. Tidak salah lagi, itu benda yang Calista raba di dalam laci.
Tanga Calista bergetar, air matanya ikut meluruh, jantungnya juga marathon. Calista mundur dan menggeleng, benda hitam itu mengingatkannya dengan suatu kejadian.
Kepala Calista mulai berdenyut. Benda itu merupakan sebuah pistol. Benda yang selama ini menjadi trauma Calista. Calista memegang kepalanya dan mulai menangis, rasanya sangat sakit. Calista bahkan mulai berteriak histeris di tengah tangisannya.
Kepalanya terasa berputar, satu per satu kejadian di masa kecilnya dapat Calista ingat. Insiden penembakan itu, kematian kedua orang tuanya serta kakaknya Calia. Semua ingatan itu terus berputar di kepanya bagaikan kaset rusak.
"Stop it, please!! Stop!"
HIKS
HIKS
Beberapa pelayan mendatangi Calista, namun Calista malah semakin histeris. Ia terus saja menangis sambil memegang kepalanya.
"Kakak kumohon jangan pergi, Kakak..." teriak lantang Calista.
Nafas Calista memburu. Calista menatap sekeliling. Beberapa pelayan dan juga Areon telah berada di sekitarnya. Entah kapan laki-laki itu datang, yang jelas laki-laki itu sekarang tengah menatap Calista tajam. Ia kembali diingatkan dengan Calia, wanita yang telah membunuh kedua orang tuanya.
"Apa yang terjadi dengan Calia?" tanya Areon dengan nada tegas. Areon memegang kedua pundak Calista dan menatapnya tajam. Calista terpaku pada pandangan Areon, jantungnya masih berdegup kencang. Tubuhnya masih gemetaran, tetapi Areon malah semakin menakutinya.
"Jawab Aku!! Apa yang terjadi pada Calia, huh!!" teriak Areon tepat di depan wajah Calista.
Calista menangis semakin menjadi dan memejamkan matanya. Lidahnya kelu untuk menjawab. Kepalanya bahkan terus saja berdenyut.
Areon memegang wajah Calista dengan satu tangan dengan kasar. Pelayan lain tidak ada yang berani berkutik, mereka hanya menjadi penonton di tempat itu.
"Apa kau tuli, huh?! Katakan dimana Calia!!" teriak Areon dengan nada tinggi. Suaranya bahkan sampai bergema di ruangan itu.
Sekarang bukan hanya kepalanya, tetapi perutnya ikut terasa keram. Calista meringis namun tidak dihiraukan oleh Areon, laki-laki itu malah semakin menatapnya tajam. Areon menghiraukan keadaan Calista yang tengah hamil.
"Sa...kitt" lirih Calista sambil memegangi perutnya.
"Jangan coba-coba mengelabuhiku. Atau aku akan membunuhmu. Dimana wanita pembunuh itu, dimana kakakmu!??"
"Dia... sudahhh..." ucap Calista terbata-bata.
Perutnya semakin sakit bahkan sekujur tubuhnya sekarang terasa sakit. Pandangan Calista makin mengabur.
"Ka..kak sudah tiad..aa"
Calista pingsan usai mengatakan itu. Areon bengong mendengar jawaban Calista. Pegangannya melemah.
"Daraahh... Tuan, Nyonya Calista pendarahan." jerit salah satu pelayan.
Areon mengalihkan pandangan pada Calista. Dan benar saja, bagian bawah wanita itu sudah mengeluarkan darah. Melihat itu Areon melemas, ia sungguh hilang kendali tadi ketika mendengar nama Calia. Wanita yang selama ini dia incar selain Calista, wanita yang telah membunuh kedua orang tuanya.
Sarah datang membuka pintu kamar itu. Alangkah terkejutnya ia mendapati Calista yang tidak sadarkan diri. Sarah tidak tinggal diam, ia segera memanggil orang kepercayaan Aaron yang sedang berjaga dan membawa Calista ke rumah sakit. Sementara Areon masih terpaku di tempatnya semula.
Calista di temani Sarah. Mobil yang membawa mereka melaju kencang membelah jalanan Los Angeles. Sarah terus berdoa sepangjang jalan. Ia berharap Calista dan bayinya baik-baik saja.
To be continue......
Who can guess, what will happen?? 😂
Maaf banget udah buat kalian menunggu, Aku janji kedepannya bakalan rajin up dan ceritanya bakalan makin seru.
Terimakasih atas dukungannya 🙏
Merry Christmas & Happy New Year