Disaster Love

Disaster Love
I HATE YOUR FACE 26



Setelah kejadian itu, Areon hanya pasrah pada hidupnya. Terutama pada Calista, Ia memang terkesan kejam bahkan hampir mirip seorang psychopath. Tetapi, dibalik sifatnya itu Areon juga punya kelemahan yaitu anak-anak. Areon paling tidak bisa menyakiti anak-anak, apalagi yang masih di dalam kandungan. Saat kecil Areon mengalami masa yang sangat sulit, bahkan ia pernah dinyatakan meninggal saat masih kecil karena dipukuli teman-temannya, untung saja keajaiban menghampiri hingga Areon masih bernafas sampai sekarang.


Tadi ketika Calista memeluk Areon. Ia sempat mendorong tubuh Calista hingga wanita yang tengah hamil itu terjatuh pelan. Aaron, Jane dan Dokter yang melihat kejadian itu tidak tinggal diam. Aaron mengancam akan memenggal kepala Areon jika sampai menyakiti Calista terutama bayinya, sementara Jane berubah menjadi monster yang siap memakan siapa saja yang menyakiti Calista.


Calista yang terjatuh hampir saja menangis. Entah mengapa emosinya sangat labil, Calista juga bingung.


Aaron menghadiahi begoman mentah di wajah Areon lalu Aaron menjelaskan tentang yang terjadi selama Areon pergi berlibur. Mau tidak mau Areon harus menuruti perintah Aaron untuk menuruti keinginan Calista, jika tidak semua akses dan aset milik Areon akan diambil paksa Aaron. Kali ini Areon tidak akan melawan, ia kalah telak dengan kakaknya.


Jane membantu Calista berdiri, air mata wanita yang tengah hamil itu kembali mengalir bahkan Calista sesenggukan setelah Areon mendorongnya.


Dengan wajah masam Areon mendekati Calista dan duduk disebelahnya. Calista menatap Areon, tanpa menunggu lama Calista memeluk lengan Areon erat.


Areon menelan ludah dan memejamkan mata. Ingin sekali ia berteriak pada Calista sekarang namun Aaron menatapnya setajam pisau dari jauh. Areon akhirnya pasrah memberikan lengannya dengan sukarela pada Calista. Sementara itu, dokter memeriksa Calista sambil sesekali tertawa kecil melihat tingkah Calista yang seperti anak kecil. Jane masih saja was-was akan keadaan Calista.


"Tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja. Nyonya Calista sedang mengidam. Kasus seperti ini jarang sekali terjadi, biasanya istri akan sangat benci melihat atau mencium aroma suaminya. Itu semua karena bawaan bayi." kata dokter itu sembari tersenyum.


Jane bernafas lega. Ia menatap Calista yang masih nyaman dengan posisinya memeluk lengan Areon. Sedangkan yang dipeluk terlihat sangat tidak nyaman.


"Lalu sampai kapan dia akan menempel padaku seperti ini, tolong akhiri saja penderitaanku ini dokter" ucap Areon memelas.


Dokteri itu tertawa. "Itu tergantung si ibu dan calon bayi. Biasanya ngidam akan berakhir saat usia kandungan antara 4-5 bulan"


"What?? Are you crazy? Apa Kalian berencana membunuhku, huh??!!" ucap Areon dengan suara keras.


Hal itu membuat Calista terkejut. Matanya sudah kembali memerah menatap Areon. Calista yang tadinya hampir tertidur menjadi terbangun karena suara Areon yang sangat keras. Areon menyadari mata Calista yang mulai memerah, air matanya bahkan sudah menggenang. Areon menelan salivanya, ia menarik pundak Calista dan membiarkan wanita itu memeluknya lagi. Areon tau, jika Calista sampai menangis maka nyawanya yang akan terancam.


"Ingat, saat ini nyonya Calista sedang kehilangan ingatannya dan juga ia sedang mengandung. Jangan sampai membuatnya stres, keselamatannya dan bayinya akan terancam. Dan lagi, jika ia sampai stres Calista terancam kehilangan ingatannya selamanya." pesan dokter itu sambil memberi resep vitaman dan segera pergi.


Areon terduduk pasrah. Sementara Jane menghampiri Aaron.


"Kau dengar kan, apa kata dokter tadi. Ini semua karena bawaan sang bayi jadi lebih baik untuk saat ini kau menjaga Calista dengan ekstra hati-hati, jangan sampai ia menangis."


"Aku mengerti" jawab Aaron singkat.


Areon melambai pada kakaknya. Ia mengisyaratkan bahwa Calista sudah tertidur. wanita itu nampak kelelahan karena menangis.


Aaron mendekat lalu mengangkat Calista yang memang sudah terlelap. Aaron melakukannya dengan sangat hati-hati, takut jika Calista terbangun. Jane mengikuti mereka ke kamar, setelah Calista direbahkan di tempat tidur Aaron mengelus kepala Calista lembut. Pria itu nampak menghembuskan nafas lelah. Aaron bahkan tidak bisa marah mengingat kondisi Calista saat ini dan juga Jane yang berada di mansion ini. Setelah itu Aaron pamit ke kantor pada Jane.


Sementara Areon, laki-laki itu tidak terlihat di ruang tamu. Sepertinya Ia sedang menenangkan dirinya di kamar.


Aaron baru kembali dari kantor saat Calista sudah kembali tertidur di tengah malam. Aaron terlihat begitu lelah, ia bergegas membersihkan diri lalu merebahkan diri di sebelah istrinya. Aaron menatap Calista sekilas, mereka tertidur dibatasi guling. Beberapa saat kemudian Aaron ikut terlelap karena matanya yang terasa sangat berat.


Calista terbangun beberapa jam kemudian karena perutnya yang mendadak sangat lapar. Ketika membuka mata, wajah Aaron yang pertama kali ia lihat. Calista seketika berteriak dan memukul wajah Aaron dengan bantal. Aaron yang tidurnya tengah nyenyak seketika bangun dan terkejut mendengar teriakan Calista.


"Apa yang terjadi?" tanya Aaron dengan nafas memburu. Sungguh tadi mimpinya begitu indah, tetapi karena teriakan Calista semuanya mendadak hancur. Jantungnya bahkan berdegup kencang sekarang.


Calista kembali menangis dan melempari Aaron dengan bantal. Aaron yang tidak habis pikir ingin mendekati Calista namun wanita itu menangis makin keras. Aaron akhirnya menjauh dari tempat tidur dan mengacak rambutnya frustasi.


"Aarrrgghh. Apa yang terjadi? kenapa kau berteriak, Aku mohon berhenti menangis" ucap Aaron di ujung kesabarannya.


HIKS


HIKS


Calista menangis sesenggukan. "I hate your face!" ucap Calista disela tangisnya.


Aaron melongo mendengar jawaban Calista. Mulutnya bahkan terbuka dengan wajah yang tidak habis pikir. Bayangkan saja, baru saja istrinya itu mengatakan ia benci melihat wajah suaminya sendiri. apakah ingatan Calista sudah kembali?


Aaron kembali tersadar saat Calista kembali menangis dengan keras.


"But, why?? apa kau sudah ingat semuanya?" tanya Aaron pelan.


Calista menggeleng. "I don't know" ucapnya sesenggukan.


Calista meringis memegang kepalanya yang kembali terasa sakit. Aaron berjalan mendekat tetapi Calista kembali berteriak.


"Jangan mendekat!! Pergi! Pergi! Menjauhlah" teriak Calista.


Aaron seketika berhenti dan berjalan menjauh. Ia memegang kepalanya sambil berjalan mondar-mandir. ia ingin menolong Calista namun mendekat saja sudah membuat istrinya itu histeris.


Pintu terbuka dan masuklah Jane. Wanita itu segera menghampiri Calista dan memeluknya.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Jane sambil menatap Aaron.


"Aarrrgghh, I don't know! Aku bisa gila jika terus seperti ini." jawab Aaron sambil keluar dari kamar itu. Hanya satu orang yang dapat membuat ia bisa tidur dengan nyenyak lagi, Areon. Hanya Areon yang dapat membuat Calista berhentik menangis.


**To be continue..


Areon Gavrilo**



"**Hey, I'm Areon! I really want to kill her but, she has a baby in her womb. Ini sangat gila bukan? Aku tidak habis pikir."


Hii, everyone! Author udah janji mau update malam ini yaa... Dan author nepatin janji.


Btw, author mau ngasih info penting. Untuk besok sama lusa author lomba, jadi ngga akan bisa update :(


Malam ini aja maksaan ngetik cuma buat nepatin janji kalian. Maaf pendek, sehabis lomba author janji update lebih panjang.


Terimakasih 🙏


Pukul 22.55


githaprawisanti 💕**