Disaster Love

Disaster Love
TIDAK BAIK 41



Setelah malam itu, hubungan Calista dan Aaron kembali membaik. Ya, Calista membuat hubungan mereka baik-baik saja. Ia melakukan kewajibannya mengurus suaminya, mulai dari menyiapkan pakaian, makanan, hingga menanti suaminya pulang bekerja. Aaron bersyukur dengan hal itu, Calista menjadi semakin berharga dihidupnya. Rasa yang tumbuh di hati Aaron makin tumbuh dan berakar sangat kuat hingga rasanya sangat sulit bahkan mustahil untuk menghapus rasa itu pada Calista. Rasa yang Aaron ketahui adalah rasa cinta.


Kandungan Calista sudah 8 bulan. Perutnya membesar dan bayinya tumbuh dengan baik disana. Calista ingin baby-nya nanti mendapat kasih sayang seorang ayah. Calista tidak ingin nanti ketika ia pergi, anaknya tidak akan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Oleh sebab itu, Calista membuat hubungannya dengan Aaron membaik. Calista melupakan kejadian di perusahaan Aaron dan juga wanita yang bersama suaminya.


Walaupun sulit dan sangat sakit Calista rela, ia melakukan semua itu demi anaknya nanti. Ya, hanya demi anaknya.


Selama beberapa bulan belakangan, hari-hari mereka berjalan biasa. Dan hal yang paling penting adalah, Aaron belum mengetahui tentang penyakit Calista. Terkadang Calista tertawa pilu akan kenyataan itu, Aaron sangat sibuk hingga sama sekali tidak menyadari bahwa selama ini istrinya sakit. Sakit parah.


Takdir memang kejam, Calista sering menangis dalam diam. Menyimpan rasa sakitnya sendiri, ia tidak pernah benar-benar melupakan semua kejadian yang menyakiti hatinya, ia hanya mengesampingkan itu semua. Hatinya seringkali menjerit, berdenyut, bahkan menangis ketika rasa cemburu itu menggerogoti. Sampai saat ini Calista masih bertanya-tanya siapa wanita yang bersama suaminya itu? mengapa sampai sekarang suaminya tidak memberitahunya?


Dan yang paling Calista benci, apakah sebodoh itu dirinya dimata suaminya? Hingga Aaron dengan tega selingkuh dibelakangnya.


Balkon kamar menjadi saksi bisu tangisnya selama ini. Ia beberapa kali hampir menyerah akan rasa sakit oleh penyakit juga rasa sakit yang diberikan suaminya akibat kebohongan itu. Jiwa dan raga Calista merasakan rasa sakit itu, sangat sakit. Tiap malam ia berpura-pura menampilkan senyum, dan selalu sabar ketika suaminya pulang larut. Seperti malam ini, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat dan Aaron masih belum pulang.


Calista duduk di teras, malam ini angin menyapa dirinya dengan lembut. Menerbangkan rambut yang ia biarkan tergerai. Tiba-tiba tubuhnya terasa hangat, seseorang memeluknya dari belakangan.


"I miss you so bad" Calista tersenyum kecut. Orang itu membalikkan badan Calista menghadap dirinya.


"Disini dingin, tidak baik untukmu dan baby." Calista menatap manik mata Aaron dalam. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan pria itu.


"Aku merasa lebih baik disini, bulan selalu menemaniku ketika menunggumu pulang." Aaron mengelus lembut kepala istrinya. Ia mengecup kening istrinya lama.


Ingatan Calista kembali kepada wanita yang bersama Aaron. Amarahnya tiba-tiba memuncak, hatinya seperti diremas kuat sehingga menimbulkan rasa nyeri yang menyakitkan. Air matanya pun dengan lancangnya menetes.


Calista buru-buru menghapusnya. Aaron tidak boleh menyadari dirinya menangis. Calista memaksakan senyum terbaiknya untuk malam ini kepada Aaron, walaupun hatinya sakit tetapi ini untuk babynya.


Sepersekian detik Aaron terhipnotis dengan senyum Calista. Hatinya menghangat dan seluruh rasa penatnya terangkat dan hilang hanya dengan melihat senyum Calista.


"Wanita ini, Aku tidak akan melepaskannya." bisiknya dalam hati. Diam-diam Aaron berdoa agar wanita ini terus menemaninya hingga ajal menjemput dirinya terlebih dahulu. Entah mengapa, muncul rasa takut yang begitu besar jika Calista meninggalkan dirinya. Aaron tidak tau dari mana asal ketakutan ini, yang jelas ia tidak tau bagaimana jadinya jika wanita yang dicintainya ini pergi, meninggalkannya.


Aaron membungkuk, ia mengelus perut besar Calista. Aaron mengecupnya lama.


"Hi, baby, aku tidak sabar menunggu kehadiranmu." Air mata Calista kembali menetes. Cepat-cepat Calista menghapusnya, sebelum menetes dan mengenai Aaron.


Interaksi ayah dan anak itu membuatnya sedikit lega. Setidaknya Calista tau, jika ia pergi maka Aaron akan menyayangi anak mereka. Aaron akan merawat dan menyayangi anak mereka saat ia tiada nanti.


"Sekarang tidurlah, ini sudah larut. Kau harus beristirahat, Aku akan mandi dan menyusul nanti." ucap Aaron setelah berdiri dan mengelus pipi Calista dengan ibu jarinya.


Calista mengangguk. Jujur saja, semakin hari tubuhnya makin lemah. Penyakitnya semakin menggerogoti raganya, tidak jarang kepalanya berdenyut sakit. Tetapi untungnya, rasa sakit itu muncul saat Aaron tidak dirumah. Selama ini, Aaron akan berangkat bekerja pagi dan pulang larut malam. Walaupun hubungan mereka membaik, Calista masih tidak tau perasaan Aaron kepada. Aaron tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Calista. Ia memang menunjukkan perhatian dan tindakan mesra pada Calista, tapi tidak pernah mengatakan apapun.


Itulah yang membuat Calista yakin jika Aaron tidak mencintainya. Kata-kata dan perhatian itu hanya palsu, hanya untuk membuat Calista tidak mengetahui hubungan suaminya dengan perempuan lain. Pikir Calista.


Calista naik ke tempat tidur, mencari tempat senyaman mungkin dan mencoba menutup matanya. Ia merasa lelah, walaupun tidak melakukan sesuatu sepanjang hari. Tubuhnya semakin lemah, berdiri terlalu lama saja ia tidak kuat. James rutin mengajaknya berobat, dokter yang merawatnya bahkan tercengang Calista masih bisa bertahan selama itu. Biasanya orang yang menderita penyakit separah itu tidak akan mampu bertahan lama, tetapi Calista tidak. Karena bayinya lah alasan Calista bertahan.


Malam itu, pelukan dan kehangatan membawa mereka tertidur lelap. Tuhan sedang membiarkan mereka menikmati kebersamaan sejenak sebelum takdir yang kejam hadir dengan sejuta kejutan tak terduga.


*****


Keesokan harinya, tidak seperti biasa. Matahari sedang tertutupi awan gekap. Langit mendunh seolah menandakan sesuatu yang tidak baik.


Aaron bangun terlebih dahulu, yang pertama dilihatnya adalah wajah Calista yang sedang terlelap. Wajah itu sangat cantik walaupun sedanh tertidur dan tertutupi beberapa anak rambut. Aaron tanpa sadar tersenyum menyadari ciptaan Tuhan yang hampir sempurna di depannya. Aaron menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Calista. Aaron memandangi wajah itu lama, ia menyadari satu hal. Wajah itu nampak pucat.


"Apakah dia sakit?" Pikir Aaron. Saat sedang sibuk dengan pikirannya tiba-tiba smartphone nya berdering.


"Ckk, mengganggu saja. Siapa yang menelpon sepagi ini?" keningnya mengernyit melihat nama yang tertera. Wanita yang mengganggunya selama beberapa bulan ini. Mau tidak mau ia harus menjawabnya. Aaron bangkit perlahan dari tempat tidur, ia pergi ke balkon dan wajahnya menegang. Terlihat guray marah pada wajah tampan Aaron ketika lawan bicaranya ditelepom berbicara.


"Sial!! Sepagi ini dia sudah membuat masalah." Aaron memijat kepalanya setelah telpon dimatikan. Sudah ia duga, wanita itu akan selalu menyusahkannya. Aaron berjalan ke kamar mandi dan bersiap pergi ke kantor. Secepatnya ia harus menuntaskan masalah Alexandra, ia sudah tidak tahan. Setelah itu, ia akan mengutarakan perasaannya pada Calista. Perasaan yang sudah beberapa bulan ini mengakar dihatinya, membuat semangatnya bangkit tiap kali terpuruk. Membuat ia tersenyum hanya dengan mengingat wajah Calista. Ya, cinta itu aneh.


Aaron berangkat tanpa sepengatahuan Calista. Aaron tidak tega membangunkan Calista yang masih nyenyak dalam tidurnya. Akhirnya, ia hanya meninggalkan note kecil di nakas.


"Ada pekerjaan penting yang harus kulakukan hari ini. Tidurmu sangat nyenyak, Aku tidak tega membangunkanmu. Istirahatlah, wajahmu kelihatan pucat. Jaga kesehatanmu dan baby. :)"


Aaron


Your Husband.


*****


Calista merasakan seluruh tubuhnya lemas, ia bangun sejak setengah jam lalu dan sudah tidak ada disampingnya. Sudah jam 8 lewat, ia sangat ingin bangun dan mencari Bi Sarah. Tapi jangankan berjalan, berbicara pum rasanya tidak mampu. Naasnya, sekarang ia mulai merasakan rasa sakit pada kepalanya. Semakin lama semakin sakit, Calista menangis dalam diam. Ia tidak mampu berbicara ataupun bangun, rasa sakitnya pun makin menjadi.


"Sakit sekali, Tuhan..." Calista merapalkan doa dalam hati, berharap akan ada seseorang yang datang dan menolongnya.


Kepalanya seolah akan meledak saking sakitnya. Calista juga merasa benda cair mengalir dari hidungnya.


Darah menetes di seprai, matanya melotot. Calista meringis dan air matanya mengalir tanpa henti.


"Tuhan tolong Aku, rasanya sakit Tuhan. Sangat sakit...." lirih Calista dalam hati.


To be continue....


Beberapa part lagi menuju ending!! Aku tidak tau tepatnya berapa yaa, bisa satu, dua, atau mungkin lebih. Hehe, semangatin terus aja yaa...


Typo bertebaran, maafkeun guys...


See you,