
#NB
Sesuai permintaan kalian, Aku bakalan lanjutin Disaster Love. Aku bakalan lanjutin di work ini, tapi bukan season 2. Judulnya akan berganti menjadi "REINCARNATION LOVE" kisah ini bakalan tetep berat, dengan banyak lika-liku dan rasa sakit, wkwkw
Sedikit cinta segitiga, pengorbanan, tapi akan lebih banyak kejadian romantis dibandingkan dengan sebelumnya, yaitu "DISASTER LOVE".
Oiyaa, part ini juga sekalian Prolog buat Reincarnation Love, yaa...
Happy Reading, Guys 😘
*****
Aaron duduk di atas kursi rodanya, tangannya memegang sebuah bingkai foto wanita yang tersenyum sangat manis. Hatinya memanas dan perih, semakin manis senyum wanita di bingkai foto itu semakin sakit pula hatinya. Setiap kenangan pahit dirinya dengan Calista terlintas, tangisan Calista, rintihan, juga ekspresi kesakitan istrinya berulangkali muncul dan memenuhi dada Aaron.
Sesak, sakit, perih bercampur menjadi satu. Aaron memejamkan mata, tangannya semakin erat memegang bingkai foto Calista. Deru nafasnya makin tidak teratur, pelupuk matanya memanas hingga setetes air mata mengalir. Lolos dari mata indah Aaron yang penuh rasa sakit dan penyesalan.
Aaron mulai menangis, tersedu-sedu. Tangan satunya lagi menyentuh dadanya. Setiap Aaron menarik nafas dadanya akan berdenyut sakit. "Ke-kenapa Calista? Kenapa kau meninggalkanku dengan rasa sakit ini?" ucap Aaron di sela tangisnya.
Aaron memeluk bingkai foto Calista erat, tangisannya makin menjadi. Tangisan yang terdengar memilukan, penuh dengan luka dan penyesalan.
"Kenapaaa??!!!!"
PRANK
Bingkai foto itu dilempar Aaron dan berakhir mengenaskan, pecahan kaca berserakan dimana-mana. Seluruh tubuh Aaron bergetar, ia bahkan menggigil seperti orang kedinginan. Aaron menjambak rambutnya untuk menghentikan tangisannya. Matanya terpejam, semua rasa sakit ini menyiksanya perlahan-lahan. Ia merasa seperti hampir mati setiap harinya menahan rasa sakit itu.
Pintu kamar Aaron dibuka tiba-tiba. "Tuan? Kau baik-baik saja?" suara itu terdengar penuh kekhawatiran dan sedikit tinggi.
"Be-bereskan semuanya, Sarah." ucap Aaron bergetar. Tubuhnya masih menggigil hebat.
Sarah, kepala pelayan itu mengurungkan niatnya menyahuti perintah majikannya. Sarah tau betul arti dari perintah tuannya itu. Semuanya berarti bukan hanya benda yang tadi ia dengar pecah, tapi keseluruhan barang Calista di kamar Aaron. Kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi, jadi Sarah tau yang perlu dia lakukan.
Keadaan kamar gelap gulita, hanya cahaya yang masuk lewat jendela kaca besar di depan Aaron yang membuat Aaron terlihat. Sarah berbalik keluar kamar memanggil beberapa pelayan lain dan segera melaksanakan perintah tuannya.
Sementara Aaron telah menghapus air matanya. Tatapannya kembali dingin dan tajam, menghadap keluar jendela. Sosoknya kembali tak tersentuh, dingin dan menyeramkan di mata semua orang di mansion besar itu. Mansion baru yang dibeli Aaron beberapa hari setelah ia pulang dari rumah sakit. Kenangan pahit di mansion lamanya dengan Calista membuatnya harus menjual tempat itu dan pindah ke mansion yang baru.
Dibalik sosok Aaron yang tak tersentuh, tangannya masih bergetar. Begitu juga dengan hatinya yang berdenyut sakit. Namun Aaron menyembunyikan semua itu dengan sangat sempurna, sampai saat ini belum ada yang menyadarinya. Hati dan tangannya yang bergetar tiap kali mengingat kejadian di masa lalu, tidak ada sentuhan lembut yang dapat menenangkan, tidak ada sentuhan yang membuat rasa sakit itu berkurang.
*****
Aaron, Areon, serta Baby Dree tengah dalam perjalanan pulang kembali dari tempat syuting Areon. Areon merupakan seorang aktor, sekaligus model. Ia memulai karir saat Calista masih hidup, tepatnya 9 bulan lalu. Dan sekarang karirnya sedang naik daun, dan ia sangat sibuk kemana-mana untuk syuting maupun pemotretan. Sementara itu Baby Dree sangat sering ia ajak kemanapun ia pergi. Ia memang masih bayi, namun malaikat kecil itu hampir tidak pernah mau lepas dengan Areon. Beberapa jam saja Areon tidak ada, bayi itu akan resah dan mulai menangis. Tidak ada yang bisa menenangkannya kecuali Areon. Itu mungkin karena saat masih di dalam kandungan, Calista mengidam selalu ingin dekat dengan Areon. Dan itu semua berlanjut sampai sekarang.
Tetapi Areon juga mengajak serta seorang baby sitter untuk mengurus segala keperluan Baby Dree saat dirinya tengah sibuk. Malam ini tidak ada baby sitter yang diajak Areon karena memang dia sedang cuti.
Aaron memperhatikan ke luar jendela mobil. Suasana begitu sunyi, jalanan juga sangat sepi. Baby Dree sudah tertidur di gendongan Areon, karena memang sudah hampir tengah malam.
CIIITT
Mobil mereka mengerem mendadak hingga menimbulkan bunyi decitan yang cukup keras. Mereka semua terkejut, Aaron yang mau membuka suara mengurungkan niatnya. Dirinya terpaku dengan gadis tepat di depan mobilnya yang menutupi wajah dengan kedua tangan. Saat menyadari dirinya tidak tertabrak, gadis itu menurunkan tangannya. Terlihat jelas kepanikan dan keterkejutan di wajah gadis itu. Dadanya juga naik turun.
Beberapa saat mereka semua terpaku termasuk supir Aaron. Hingga tangisan Baby Dree membuyarkan semuanya. Gadis itu juga tersadar dan menoleh ke seberang jalan. Wajahnya makin panik, ia kemudian menggedor-gedor pintu mobil seraya berteriak meminta tolong. Gadis itu juga terlihat menangis.
"Help!! Help me, please.." gadis itu terlihat sangat panik sambil sesekali menengok ke seberang jalan.
Sopir Aaron terlihat bingung, ia melirik takut pada Aaron yang duduk di bangku belakang. Ia sebenarnya tidak tega dengan gadis itu, tetapi dirinya bisa-bisa dibunuh jika bertindak demikian. Ternyata Aaron mengalihkan wajahnya, seakan sama sekali tidak ada kejadian apapun. Sang sopir menelan saliva susah payah sambil menjalankan mobil perlahan.
Areon terlihat sibuk menidurkan kembali Baby Dree yang terkejut. Ia juga tidak terlalu peduli dengan kejadian barusan.
"Kumohon tolong aku, Tuan!! Tolooong." Teriak gadis itu.
Gadis itu kemudian berlari meninggalkan mobil Aaron dengan wajah panik dan pucat. Mata Aaron mengikuti gerakan gadis itu, saat Mobil mulai melaju beberapa pria kembali menghentikan mobil mereka. Tanpa rasa bersalah pria-pria itu berlari ke arah yang sama dengan gadis tadi. Akibat pengereman mendadak yang kedua kalinya, Baby Dree kembali menangis dengan kencang. Areon berdecak sebal dan mengumpat. Sementara sopir itu makin resah karena kedua majikan killernya terlihat kesal. Nyawanya bisa-bise menjadi taruhan jika sampai itu terjadi lagi.
Kali ini mobil mulai melaju, tidak ada kejadian yang sama yang menghentikan mobil mereka. Baby Dree tidak kunjung berhenti menangis. "Sayang, jagoan paman kenapa, huh?"
"Tenang-lah Dree....cup...cup..." segala cara sudah dilakukan Areon, tapi Baby Dree tidak berhenti menangis. Sementara itu, sesuatu mengganjal di hati Aaron. Semakin lama semakin resah ia dibuatnya, bukan hanya karena tangisan Baby Dree tapi juga karena....
"STOP!!"
"Putar balik!" lanjut Aaron tak terbantahkan. Areon sempat terkejut tapi sebelum ia bertanya, kakaknya sudah menjawab terlebih dulu.
"Bereskan mereka, Areon!" ujar Aaron tanpa menatap adiknya.
Areon mengangguk, mobil itu memutar balik sementara tatapan Aaron tajam ke luar jendela. Sedari tadi, kejadian di masa lalu dan tadi mengusik pikirannya. Ekspresi Calista dan gadis itu sangat mirip. Rasa takut di mata gadis itu dan Calista sangat mirip sehingga benar-benar tidak bisa Aaron acuhkan. Aaron tidak tahu, tetapi gadis itu sangat mengusik pikirannya. Mungkin juga hal itu karena Baby Dree menangis, karena tidak biasanya Aaron akan mengurusi orang asing seperti ini.
*****
Gadis itu terus meronta dan berteriak di sela tangisannya. Empat pria berpenampilan urakan dan kondisi dengan setengah mabuk itu benar-benar melecehkannya. Ia menangis kencang saat seluruh pakaiannya dirobek paksa. Perlawanannya juga sia-sia, Ia benar-benar hanya bisa pasrah sambil terus berteriak mengutuk ke-empat pria biadab itu.
Seluruh tubuhnya diperlakukan kasar. Mereka tidak segan untuk memukul, menampar bahkan melukai kulit Viollet dengan kuku mereka. Viollet benar-benar benci dengan dirinya pria-pria ini, amarahnya meluap-luap tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Viollet menangis meraung-raung, sementara pria-pria itu tertawa sumbang penuh kemenangan.
"Sayang, tubuhmu yang indah ini akan jadi milik kami malam ini. Hahahaha...." ujar salah satu pria itu.
"Benar sekali!! Hahahaha...." saut pria lainnya. Mereka semua nampak tertawa sangat puas melihat Viollet yang hampir terlanjang bulat.
Viollet menggeram dalam hati. Ia menatap tajam pria-pria di depannya. Jika bisa, ia akan berteriak mengutuk mereka lagi dan lagi, tetapi bibirnya sekarang sudah disumpal dengan bajunya sendiri yang telah mereka robek dari tempat yang seharusnya.
"Tidak semudah itu, ferguso."
Mereka ber-lima menoleh ke sumber suara. Disana Areon tersenyum miring dengan tongkat bisbol di pundaknya.
"Haah....sudah lama aku otot-ototku ini tidak bergerak." Sebelah alis Areon terangkat, ia masih tersenyum miring pada pria-pria itu.
"Cuihh! Berani-beraninya kau mengganggu kami." Salah satu pria itu berludah dan berdiri paling depan di antara ke-empatnya.
"Mau mati, kau?" ujar yang lainnya lagi.
"Hahaha.... aku atau kalian?" Areon tertawa kecil.
"Banyak bacot!"
Perkelahian tak terbendung lagi. Sementara Viollet berlinang ari mata. Ia begitu senang dan bersyukur hingga menangis terharu. Viollet tersenyum begitu bahagia saat Areon menghampiri dirinya. Wajah Areon datar, ia berjongkok di depan Viollet dan melepas jaket kulitnya. Viollet terus menatap Areon, air matanya masih saja mengalir, jutaan rasa terimakasih ingin ia ucapnya namun ia begitu lemah. Kepalanya terasa sangat berat, tubuhnya lemah dan bergetar hebat.
"Kau baik-baik saja?" pertanyaan Areon tidak dapat Viollet cerna, pandangan mengabur dan perhalan ia pingsan.
"Hey, hey, kau jangan ping..." ucapan Areon menggantung karena gadis di depannya lebih dulu kehilangan kesadaran.
*****
Aaron mengelus rambut hitam putranya yang sudah tertidur. Baby Dree baru berhenti menangis saat Areon pergi membereskan pria-pria itu. Dan entah mengapa Baby Dree juga baru bisa tertidur lagi, ia seperti merasa tenang setelah sesuatu yang mengganggunya menghilang atau selesai.
Tiba-tiba jendela mobil itu turun dan menampilkan sosok Areon yang sedang menggendong seorang gadis yang tidak sadarkan diri. Aaron menatapnya tajam. Ia seolah berkata "Untuk apa kau membawanya kemari?" tapi tidak terucap, hanya tersirat melalui tatapan mata.
Areon mengerti itu. "Aku tidak punya pilihan" ucapnya tak berdosa.
Sopir mereka turun untuk membantu Areon. "Kakak, dimana Aku harus menaruhnya? Haruskah Aku letakkan di bagasi?" ujar Areon dengan begitu ringan.
Aaron menggeram. "Bawa masuk."
Areon dan supir itu saling tatap. Mereka bingung, tidak biasanya Aaron bersikap begitu. Sang supir pun membuka pintu belakang mobil, Areon dengan hati-hati menempatkan gadis itu di dalam mobil.
Mobil mewah itu sekarang tengah melaju, dengan suasana yang semakin kikuk. Tidak ada yang berani bersuara, pasalnya keadaan di belakang begitu mencekam. Bagaimana tidak, gadis itu sedang dipangku Aaron dan Baby Dree juga berada di gendongan Aaron.
Hal itu merupakan kejadian langka, pasalnya setelah kematian Calista, Aarok menjadi pribadi yang sangat tak tersentuh. Tidak ada seorang pun yang akan dibiarkan dekat dengannya kecuali Baby Dree. Dan sekarang Aaron membiarkan orang asik tidur di pangkuannya, lebih tepatnya pingsan di pangkuannya. Sebuah keajaiban dunia ke-8.
Bersambung.....
Violleta Azzerina