Disaster Love

Disaster Love
MEMBURUK 18



Calista terbangun pada tengah malam. Ia menyadari dirinya yang masih mengenakan dress dan belum menghapus make up. Calista kemudian bergegas membersihkan diri. Ia teringat akan suaminya, Calista segera menuju ke kamar Aaron. Calista ragu, ia berbalik kemudian menuju ke ruang kerja Aaron.


Benar saja, suaminya disana. Aaron tertidur dengan laptop masih menyala serta berkas yg berantakan. Calista masuk, Aaron terlihat begitu kelelahan. Calista membereskan berkas yg berserakan, serta mematikan laptop Aaron.


Calista berjongkok di sebelah Aaron yang tertidur. Ia menatap lekat wajah suaminya yg terlelap. Calista tersenyum, tangannya terulur dan mengusap lembut kepala suaminya. Calista melakukannya selama sepuluh menit. Ia mengecup kening Aaron lembut.


"Have a nice dream, my husband" ujar Calista lembut lalu beranjak dari ruang kerja suaminya.


Calista berbaring di tempat tidurnya, ia menghela nafas. Kepercayaan akan sikap Aaron yang pasti kembali seperti dulu yang membuat ia masih bertahan hingga sekarang. Selain itu, Calista juga mencintai Aaron. Lebih dari apapun, bahkan dirinya sendiri. Aaron pernah menjadi segalanya bagi Calista.


Calista menarik selimut dan memejamkan mata. Sudah banyak yg terjadi hari ini, mungkin alam mimpi akan lebih indah dari kenyataan. Setidaknya Calista tidak akan bertemu pria seperti Henry, rekan kerja Aaron. Ataupun menghadapi sikap Aaron yg membuat hatinya sakit dari waktu ke waktu.


Calista mulai terlelap. Semoga ia bermimpi indah.


Calista bangun keesokan paginya. Ia melirik jam di nakas, 06.58. Ternyata sudah siang.


"uhukk, uhuukk" Calista terbatuk karena asap di kamarnya.


Ternyata di kamarnya ada Aaron. Suaminya itu sedang duduk di jendela kamarnya sambil merokok. Aaron merokok? Calista sama sekali tidak tau bahwa suaminya merokok.


Calista duduk dan hendak bangkit namun suara Aaron menghentikan niatnya.


"Bagaimana rasanya bermesraan dengan lelaki lain?" Aaron menghembuskan asap rokok itu dan tertawa sambil menatap ke luar jendela.


Kening Calista mengkerut, ia tidak mengerti yang dikatakan suaminya.


"Apa maksudmu, Aaron? Aku tidak...." jawab Calista menggantung ketika Aaron lebih dulu menyanggah perkataannya.


"kau tidak menyangkalnya bukan? hahahaha"


"Berapa lelaki yang kau goda selama aku tidak ada, huh?" lanjut Aaron sambil bangkit dan menatap tajam Calista.


Calista berdiri, ia mendekati Aaron dan balas menatapnya tajam.


"Aku bukan wanita murahan yg menggoda lelaki manapun, Aaron" ucap Calista agak tinggi.


Aaron berdecih dan kembali berkata "Jalang sepertimu pasti setiap malam menjajakan tubuhnya kepada pria-pria diluar sana. Buktinya kau tidak menolak disentuh klienku"


Mata Calista membulat mendengar perkataan Aaron.


"AKU BUKAN JALANG!" Ucap Calista penuh penekanan dengan tatapan makin tajam pada Aaron.


Aaron kembali tertawa. "Jadi, berapa mereka membayarmu perjam?"


PLAKK


Aaron sudah keterlaluan. Calista menamparnya dengan keras, suaminya menuduh tanpa alasan yg jelas.


Rahang Aaron mengetat, tangannya juga mengepal. Lancang sekali Calista menamparnya.


Aaron menekan wajah Calista dengan satu tangannya dengan keras. Amarah yang sejak kemarin Ia tahan kembali menguasi dirinya. Aaron kali ini sangat marah, giginya bahkan sampai bergemeletuk.


"Berani-beraninya kau!" teriak Aaron depan wajah Calista.


Air mata Calista meluruh, Aaron tampak sangat marah saat ini. Ia takut, tubuhnya gemetar. Seluruh pikiran buruk menguasi pikirannya sekarang, Calista benar-benar takut menghadapi Aaron sekarang.


Terlambat. Aaron terlampau marah, tidak Ada seorang pu yang dapat mehentikannya sekarang.


Aaron mendorong tubuh Calista hingga terhentak ke dinding dengan keras. Calista meringis.


Aaron menempelkan kedua tangan Calista di atas kepala Calista. Tangan itu di genggam dengan sangat kuat. Tanpa basa-basi Aaron melumat bibir Calista kasar. Calista menangis dan meronta, namun tubuh Aaron mengurung tubuhnya. Tenaganya kalah jauh dari Aaron. Pikiran Calista kembali berputar pada kejadian malam kelam itu. Ia semakin menangis, Calista sangat takut.


Aaron semakin gila. Ia telah turun ke leher Calista dan merobek pakaian tidur Calista dengan tangan satunya yg bebas.


"No, please. Aaron jangan lakukan ini, kumohon" mohon Calista.


Aaron seperti orang kesetanan. Ia mengikat tangan Calista di atas kepala. Aaron menatap Calista dengan tatapan membunuh sekilas, kemudian melanjutkan aksinya.


Aaron melempar Calista ke tempat tidur dan segera naik ke atas istrinya. Ia kembali melumat bibir Calista kasar. Pakaian Calista ditanggalkan satu per satu oleh Aaron dengan kasar hingga tubuh Calista sekarang polos, tanpa sehelai benang pun.


Calista menggeleng seraya memohon agar Aaron tidak melakukannya.


"Don't do it, please. Aaron, kumohon" ucap Calista.


Aaron kesal dengan Calista yang tidak bisa diam. Amarahnya makin menjadi. Aaron menyumpal mulut Calista dengan kain. Ia melepas celana dan tanpa aba-aba memasukkan kejantanannnya ke lubang milik Calista.


Calista memekik kesakitan namun tertahan, mulutnya telah disumpal Aaron. Tangannya juga terikat, sementara tubuhnya di tahan tubuh Aaron. Calista menangis menahan sakit di area kewanitaannya. Ia belum siap sama sekali.


Aaron melakukannya dengan kasar. Semakin lama Aaron memaju mundurkan kejantanannnya dengan cepat dan menggila, tidak peduli akan Calista yang menangis menahan sakit.


Aaron juga menyerang leher dan dada Calista hingga meninggalkan bekas kemerahan.


Pagi itu berakhir buruk. Suasana begitu mencekam di kamar Calista. Mentalnya terguncang karena ulah Aaron. Bukan hanya raga Calista yang sakit, namun hatinya juga. Untuk yang kedua kalinya Aaron memperlakukan dirinya dengan kasar. Aaron bahkan melakukan kekerasan pada tubuhnya dengan tangan besar Aaron.


Tidak ada cinta atau kenikmatan. Mereka melakukannya atas dasar amarah dan rasa sakit. Mereka berdua tersiksa.


Aaron pergi begitu saja setelah melakukannya. Amarah dan wajah Calista saat Ia menangis serta menahan sakit terus saja membayanginya. Aaron ke ruang kerjanya. Ia berteriak frustasi. Aaron melempar barang-barang di dekatnya.


"Aaarrghhh, kenapa? kenapa, huh? Kenapa takdirku begitu buruk!!" teriak Aaron frustasi.


Air mata Aaron menetes. Entah kenapa rasa penyesalan timbul di hatinya ketika melihat air mata Calista. Calista yang menangis sambil menahan rasa sakit akibat perbuatannnya, teriakan Calista yang menahan sakit membuat kupingnya panas.


Aaron tidak mengerti, kenapa Calista begitu berpengaruh pada dirinya. Kenapa disaat ia menyakiti Calista, dirinya juga ikut merasakan sakit.


Aaron mengambil botol minuman dan menyesapnya. Ia memandang foto Calista yg terpajang di dinding. Sesaat kemudian botol minuman itu melayang ke foto Calista.


PRANKK


Pecahan kaca dan minuman berserakan di lantai. Aaron tertawa sekaligus menangis. Air matanya kembali menetes, namun Ia segera menghapusnya. Aaron benci perasaannya, ia selalu berkhianat dengan pikirannya jika mengenai Calista.


Aaron kembali tertawa. Tawa menyeramkan yang menggema di ruangan itu.


To be continue.....


Leave your comment below :)


Don't forget to likes, Thank You 😘