
Calista dibawa ke rumah sakit oleh Areon. Dalam perjalanan tak henti-hentinya Areon mengeluarkan sumpah serapahnya karena kondisi Calista. Sampai di rumah sakit Areon menghubungi Aaron namun tidak bisa. Areon ingin menghubungi orang tua Calista namun Ia tidak tahu kontak Jane ataupun James.
Areon mengacak rambutnya frustasi. Areon berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU. Harusnya Areon senang jika Calista mati, tapi itu tidak boleh terjadi. Permainan tidak akan seru, jikalau Calista mati haruslah Aaron atau Areon yang menyebabkan bukan karena orang lain. Dengan itu, pembalasan dendam mereka akan terbayarkan.
"Aarrggh, wanita menyebalkan! aku harusnya membunuhmu dari waktu itu."
"Aku pergi saja" kata Areon frustasi sambil melangkah pergi.
Baru 5 langkah Areon sudah berbalik. "Bagaimana nanti jika dia mati? Aaron pasti juga akan membunuhku karena meninggalkan wanita sialan itu" batin Areon.
Areon serba salah, ia bukan siswa yang pintar dahulu saat sekolah. Areon memiliki sifat yang tempramen, kejam, jahil, dan tidak sabaran.
Akhirnya Areon menelpon anak buahnya untuk memberitahu Aaron bahwa Calista kecelakaan. Hanya itu cara yang dapat terpikirkan oleh Areon pada saat ini. Setengah jam kemudian Sarah datang.
"Tuan, bagaimana keadaan Nyonya Calista? Dia baik-baik saja, bukan?" tanya Sarah dengan air mata yang sudah mengalir.
"Kau, siapa? Kenapa kau bertanya padaku?! Tanyakan saja pada dokternya" ketus Areon.
"Aku kepala pelayan di mansion Tuan Aaron, seseorang memberitahu ke mansion bahwa Nyonya Calista kecelakaan." jawab Sarah.
"Aaiisshh, dimana Aaron?"
"Tuan masih..." ucapan Sarah dipotong Areon terlebih dahulu.
"Aaaahhh, lupakan. Hubungi orang tuanya, Aku tidak mau ikut campur. Merepotkan!" ujar Areon lalu melangkah pergi.
Sarah menghubungi Jane, tidak berselang lama Jane datang bersama James. Sarah menceritakan bahwa Calista berkendara setelah bertengkar dengan Aaron. Tetapi Sarah tidak menceritakan permasalahan yang terjadi antara Calista dan Aaron, termasuk wanita yang dibawa Aaron ke mansion.
Jane menangis tersedu mendengar penuturan Sarah tentang kecelakaan itu. Untung saja James memeluknya dengan erat, jika tidak Jane pasti sudah lemas. Air mata James juga ikut mengalir, ia tidak percaya jika Calista mengalami kecelakaan. Baru beberapa hari lalu James bertemu dengan adiknya itu.
Seorang dokter keluar dari ruangan itu. James dan Jane menghampiri dan bertanya keadaan Calista.
"Saya belum dapat memastikan keadaannya. Dia mengalami benturan yg sangat keras di kepalanya, dia juga mengalami pendarahan di dalam kepalanya." jelas dokter itu lalu segera pergi terburu-buru.
Jane kembali terisak mendengar penjelasan dokter itu, begitupun dengan Sarah. James membantu Jane untuk duduk di kursi tunggu dekat ruangan itu. James memeluk erat Jane yang terus saja menangis memanggil nama Calista.
"Dia akan baik-baik saja. Calista adalah wanita yang kuat." bisik James untuk menenangkan Jane.
Kata itu bagaikan mantra yang diucapkan James berulang kali untuk menenangkan Jane. Beberapa saat kemudian dokter kembali dengan seorang suster.
"Keluarga nona Calista?" tanya suster itu.
"Ya benar, kami keluarganya" jawab James
"Kami membutuhkan persetujuan kalian untuk melakukan operasi pada Calista karena pendarahan di kepalanya akan berakibat fatal jika tidak dilakukan tindakan segera" kata suster panjang lebar.
Jane menutup mulutnya mendengar pernyataan suster itu. "Lakukan yang terbaik, selamatkan adik saya" ucap James tegas.
"Kalau begitu anda harus menandatangi surat pernyataan di bagian administrasi"
James berlari meninggalkan Jane dan Sarah. Ia harus segera menandatangi surat yang dimaksud agar Calista terselamatkan.
Operasi berjalan selama beberapa jam, Sarah dan Jane tidak dapat menghentikan air matanya. James juga harap-harap cemas. James tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Calista apalagi sampai kehilangan Calista. Ia sangat menyayangi Calista.
Lampu tanda operasi berjalan telah mati, itu artinya operasi telah selesai. Seorang dokter keluar beberapa saat kemudian.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Jane
"Operasinya berjalan lancar, tetapi keadaan pasien saat ini kritis. Reaksi tubuhnya yang menyebabkan demikian. Berdoalah, semuanya ada di tangan Tuhan." ucap dokter tersebut lalu melangkah pergi.
Di mansion Aaron
Matahari bersinar cerah, hari sudah menunjukkan pukul delapan lewat beberapa menit. Aaron memegang kepalanya sembari menuruni tangga. Sementara dibawah sudah ada Areon yang menonton televisi di sofa sambil memakan camilan. Aaron mendekat dan duduk di meja makan. Kepalanya berdenyut sakit akibat mabuk kemarin malam. Aaron memanggil pelayan dan menyuruhnya mengambilkan air perasaan jeruk nipis untuk menghilangkan sedikit bekas mabuknya semalam. Pelayan datang dan menyajikan minuman itu di depan Aaron.
Areon melirik Aaron sekilas. "Dua wanita sekaligus, luar biasa. Aku tidak menyangka rencanamu selicik itu" ucap Areon dengan tidak mengalihkan perhatian pada televisi.
"Apa yang kau maksud, aku sama sekali tidak mengerti" ucap Aaron sambil meringis meneguk minuman itu.
Areon tertawa dengan keras. Tawa itu terdengar mengejek. "Katakan padaku, apa servicenya memuaskan?"
Aaron baru saja ingin menjawab kata-kata Areon, namun ingatannya kembali. Ia ingat kemarin malam ia mabuk di club, Alexa menghampirinya. Wanita yang dibawa Aaron semalam bernama Alexa.
Aaron juga mengingat kemarin malam, Alexa berada di mansionnya. Calista melihatnya dengan Alexa dan Ia juga sempat mendorong hingga memarahi Calista.
"Dimana wanita itu?" tanya Aaron sambil berdiri, wajahnya sedikit menegang.
Aaron mendekati Areon dan menarik kerah baju adiknya. Ia menatap tajam Areon.
"Jangan sebut dia jalang, dia wanita baik-baik" ucap Aaron penuh penekanan.
Areon kembali tertawa keras di depan wajah Aaron. "Jalang tetaplah jalang"
"Katakan saja dimana Calista, bodoh!!" teriak Aaron di depan wajah Areon. Jika sudah jam segini biasanya Calista sudah akan menyiapkan sarapan, atau paling tidak wanita itu akan berada di sekitar ruang tamu dan dapur. Aaron juga melihat kamar Calista kosong. Itu artinya Calista tidak berada di rumah.
"Dia di rumah sakit." jawab Areon tanpa dosa.
Aaron melototkan mata "Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa berada di rumah sakit!!?"
"Kenapa kau tidak bertanya pada dirimu sendiri, huh??!! Dasar wanita bodoh, bisa-bisanya dia menabrak pohon dan melukai dirinya sendiri. Padahal kalau dia ingin mati, aku dengan senang hati akan melakukannya" kata Areon sambil tertawa di akhir kalimatnya.
Aaron bergegas pergi setelah Areon mengatakan letak rumah sakitnya dengan paksaan. Alexa juga tidak ada di kamarnya. Ia ingat betul kemarin malam ia dan Alexa tidak melakukan apapun, karena sialnya ketika akan melakukan dengan Alexa yang terbayang malah wajah Calista. Wajah Calista yang menangis dan meringis menahan sakit berputar di kepalanya. Itu semua membuat Aaron frustasi.
Alexa juga pergi setelah Aaron terlelap. Ia kesal karena Aaron tidak jadi melakukannya. Aaron adalah mantan kekasihnya dulu semasa kuliah.
Aaron sampai di rumah sakit yang dimaksud Areon. Aaron melihat Sarah juga Jane dan laki-laki yang membuat amarahnya ingin meledak saat itu juga di depan ruang operasi Calista. Aaron mendekat, ia ingin berbicara namun bogeman mentah mendarat di pipinya.
James menghadiahi Aaron bogeman itu.
"Tidak berguna!! Kau yang membuat Calista dalam bahaya, nyawanya tencam karena kau!" teriak James penuh penekanan. James sangat marah, jika saja Jane tidak memeganginya ia akan membuat Aaron menyesali perbuatannya yang membiarkan Calista sampai kecelakaan.
Aaron memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Ia harus tenang, ia tidak boleh terpancing. Aaron mendekati Jane serta menceritakan yang terjadi, ia juga meminta maaf atas kesalahannya. Jane menangis seraya memeluk Aaron. Sementara Sarah hanya bungkam mendengar kebohongan majikannya.
Seorang suster keluar dari ruangan Calista dengan tergesa. Beberapa saat kemudian dokter datang bersamanya dan segera masuk ke ruangan Calista.
"Suster, apa yang terjadi pada istri saya?" tanya Aaron setelah berhasil mencegat salah satu suster.
"Pasien mengalami kejang, saat ini dokter akan memeriksanya" jawab suster itu dan segera masuk ke ruangan Calista.
Semua orang terkejut mendengar penuturan suster itu. Tidak lama berselang, dokter tadi keluar dan bernafas lega.
"Kami sudah menanganinya. Syukurlah, pasien berhasil melewati masa kritisnya. Tetapi..."
"Tapi apa dok?" Aaron bertanya dengan cemas.
"Pasien mengalami koma."
**To be continue....
James**
"**Jangan macam² James jauh lebih berbahaya dari yang kalian pikirkan"
Hai,, aku balik lagi :)
Maaf yaa update agak lama, jalan ceritanya pasti udah ketebak yaa?
Untuk next chapter kita buat kesepakatan, okay?
Kalau Chapter ini tembus 35 likes hari ini (sampai jam 23.59) besok author bakalan update gila-gilaan 2-3 chapter. Tapi kalau tidak berhasil tembus 35 likes, author akan update seperti biasa 1 episode, besok atau lusa pagi :(
Di sekolah author ada kegiatan, jdi besok author sibuk sampai sore _-
Gimana? 😂😂😂
Ini tantangan pertama author buat para readers 'Disaster Love' Semoga tembus 35 likes yaa 😘😘
Jangan lupa juga ramaikan kolom komentar :v
Terimakasih 🙏
Salam Rindu,
githaprawisanti ❤**