
Aaron telah berkutat dengan pekerjaannya selama beberapa jam. Ia tengah terburu-buru untuk menyelesaikan pekerjaan yang paling mendesak saat ini. Siang ini Calista diizinkan pulang, dan Aaron juga sudah berjanji akan mengantarkan istrinya itu pulang ke mansion. Aaron tidak akan membiarkan James mencuri kesempatan untuk berdua dengan istrinya.
Tadi pagi Calista lah yang memaksa Aaron untuk pergi ke perusahaan setelah menyuapinya makan. Aaron sebenarnya enggan meninggalkan wanita itu, namun tidak bisa dipungkiri bahwa perusahaan juga menunggu kehadirannya. Akhirnya Aaron pergi dengan berat hati, ia juga berjanji akan kembali untuk mengantar istrinya itu pulang.
Aaron melirik jam tangannya, ternyata ia sudah hampir terlambat untuk kembali ke rumah sakit. Aaron bergegas membereskan berkas-berkas penting itu. Baru beberapa langkah Aaron berjalan, sekretarisnya lebih dulu masuk ke ruangannya.
"Tuan, putri Mr.Maxwell ingin bertemu dengan anda sekarang juga." ujar sekretaris itu dengan sopan pada Aaron.
"Aku tidak bisa, sekarang aku harus pergi ke rumah sakit. Suruh dia datang lain kali." Aaron ingin melangkah namun dihentikan oleh ucapan sekretarisnya lagi.
"Dia mengatakan ini sangat penting tuan, menyangkut masa depan perusahaan. Dia juga mengatakan jika kau tidak mau menemuinya sekarang maka dalam 3 hari perusahaan ini akan hancur." Sekretaris itu tidak berani menatap Aaron. Ia berujar sambil menunduk hormat dengan hati-hati.
Aaron mengusap wajahnya kasar, ia melirik jam tangannya lagi. Waktu terus berjalan, jika ia lebih lama disini ia pasti akan terlambat.
"Apa yang diinginkan wanita itu?" batin Aaron. Ia sama sekali tidak takut, tapi ia benar-benar penasaran dengan wanita ini. Aaron ingin tau apa yang diinginkan wanita ini sampai dia mengancam akan menghancurkan perusahaan. Dia juga menggunakan nama ayahnya untuk mengancamnya.
"Biarkan dia masuk." titah Aaron.
Sekretaris itu menunduk dan berbalik berjalan ke luar ruangan. Setelah itu masuklah seorang wanita dengan penampilan yang elegan dan modis. Terlihat sekali pakaian yang dipakai adalah hasil tangan desainer ternama.
Aaron menatap wanita itu tajam. Kedua tangannya dimasukkan ke celana kainnya. Wajah dingin dan tatapan tajam Aaron tidak mempengaruhi wanita itu. Wanita dengan rambut sebahu itu nampak tersenyum dan berjalan mendekati Aaron. Ia mengelilingi Aaron seraya tersenyum bangga. Kemudian wanita itu berjalan dan duduk di kursi kebesaran Aaron.
"Mr.Gavrilo, ruangan anda sangat indah dan kursi ini juga lumayan nyaman." ujar wanita itu angkuh. Aaron masih tetap pada posisinya tanpa berbalik menatap ataupun merespon wanita itu.
"Tapi sayang sekali, ini semua akan segera menjadi milikku" tambahnya.
"Nona Maxwell, kau mabuk pada siang hari. Lebih baik sekarang kau angkat kaki dari ruanganku." Akhirnya Aaron mengeluarkan suaranya.
Mendengar kata-kata Aaron, wanita itu malah tertawa. Aaron berbalik menatapnya aneh.
"Kau sangat lucu, Aaron. Sayangnya Alexandra Maxwell sedang sangat sadar." Wanita itu berjalan mendekati Aaron.
"Perusahaan ini sedang dalam kondisi krisis. Daddy ku sudah mencabut investasinya, dan jika salah satu investor mencabut investasinya lagi, maka...." tambah Alexandra. Saat ini Ia sedang membenahi tatanan dasi Aaron, wajah mereka sangat dekat. Alexandra tersenyum menang setelah mengucapkan kalimat itu.
Rahang Aaron mengetat. Ia menghempaskan tangan wanita itu dari dasinya dan menggenggam wajahnya kasar.
"Sebaiknya kau enyah dari tempat ini." kata Aaron tegas sambil menatap mata Alexandra tajam. Alexandra melepas tangan Aaron dari wajahnya.
"Tatapanmu itu tidak akan menakutiku Aaron. Aku sudah lama mengenalmu, aku tau semua tentang dirimu dan sekarang masa depan perusahaan ini ada di tanganku." Aaron semakin geram dengan wanita itu. Wajahnya mengeras sempurna, amarahnya sudah di ubun-ubun dan sial meledak kapan saja.
"Jangan macam-macam denganku" desis Aaron dingin. Ia sekarang tengah sekuat tenaga menahan amarahnya agak tidak meledak.
CUP
Alexandra mencium Aaron sekilas. Wanita itu masih saja setia dengan senyuman manis di wajahnya.
"Jika kau menyakitiku sedikit saja, perusahaan ini secara automatis akan menjadi milikku dan selamanya kau tidak akan bisa kembali. Tetapi, jika kau menuruti kemauanku dapat kupastikan semua ini akan tetap menjadi milikmu." lirih Alexandra tepat di telinga Aaron sambil berjinjit.
_____________
Sudah satu jam Calista menunggu Aaron. Pria itu berjanji akan mengantarnya pulang, tetapi tidak kunjung datang sampai sekarang. Harapan Calista pupus, Aaron mengingkari janjinya.
Calista tersenyum hambar, dadanya kembali sesak dan hatinya sakit. Aaron selalu memberinya harapan palsu, sia-sia sudah penantian dan harapannya. Sekarang semua itu hancur, hatinya berdenyut sakit.
"Kita pulang saja. Dia tidak akan kembali." ujar Calista. James melihat kesedihan di wajah Calista. James benci melihat Calista sedih, dan sekarang tangannya panas ingin menghajar Aaron. Orang yang telah membuat Calista bersedih.
"Kau yakin, sayang? Kita bisa menunggunya sebentar lagi. Mungkin Aaron sedang sibuk." ucap lembut Jane.
James tidak mengizinkan Calista berjalan, sehingga sekarang Calista menggunakan kursi roda.
"Dia tidak akan datang, Aunty. Aku ingin pulang, aku lelah. menunggunya" tentu saja kata terakhir itu diucapkan Calista dalam hati. Calista benci keadaan ini, dimana ia diterbangkan oleh janji Aaron tetapi kemudian dijatuhkan begitu saja hingga hancur. Ia terlalu berharap, dan sekarang rasanya sakit. Pandangan Calista buram oleh air mata yang berkumpul di pelupuk matanya, dan tanpa izin setetes air mata itu lolos dan membasahi wajahnya.
Calista segera menghapus air matanya. Ia segera menepuk tangan James di kursi rodanya.
"Baiklah, kita pulang sekarang." tegas James.
James melihat air mata itu. Tanpa sadar rahangnya mengetat. Lancang sekali Aaron membuat Calista menangis. James benar-benar tidak terima. James mendorong kursi roda Calista, sementara Jane mengikuti mereka dengan pasrah.
**To be continue.....
*Note:
#2
Hah, susah yaa ternyata. Author masih di sklh, selalu sempetin nulis cuma buat nepatin janji 5 chapter. Astungkara bisa yaa....
Hehehe***.....