
"Aku membencimu, tapi tidak dengan hatiku. Rasa cinta dan amarah ini berjalan beriringan, begitu sakit, dan.....perih."
~Calista Maylafaisha
*****
Aaron POV (Point of View)
Aku melangkah mantap menuju ke lift yang dikhususkan untukku di perusahaan ini. Perusahaan yang mati-matin aku pertahankan, bahkan Aku tega membohongi istriku untuk perusahaan ini. Seperti biasa, semua pegawai menunduk hormat saat aku berjalan. Aku hanya fokus pada tujuanku kali ini tanpa memperdulikan mereka semua.
Aku sudah mempersiapkan untuk hari ini selama beberapa bulan, tentu saja aku tidak ingin seseorang mengacaukan rencana yang telah kupersiapkan dengan sangat matang.
TING
Lift terbuka, aku sudah berada di lantai teratas gedung ini tempat ruanganku berada. Hari ini khusus aku persiapan untuk seorang wanita, yaitu Alexandra.
"Selamat pagi, Pak" sapa sekretarisku.
"Hari ini anda terlihat sangat bersemangat."
"Persiapan semuanya dengan baik, seperti yang Aku jelaskan sebelumnya. Ingat, tidak boleh ada kesalahan sekecil pun!" Tegasku.
"Seperti yang anda katakan, Pak. Semuanya sudah siap tanpa kekurangan apapun." Kulihat sekretarisku itu menunduk memberi hormat sebelum Aku masuk ke ruangan tanpa menjawab ucapannya.
Aku tidak bisa menjalankan rencana ini sendiri. Alexandra sangat cerdik, beberapa kali dia menggagalkan rencanaku untuk menyingkirkannya. Tapi kali ini tidak boleh lagi. Sudah cukup dia main-main dengan hidupku, aku muak. Ada perasaan lain juga yang menggebu-gebu untuk diutarakan. Perasaan yang mampu menghapus semua luka masa lalu, perasaan aneh yang mampu menghapus semua rasa lelahku hanya dengan senyumnya. Aku telah tenggelam dalam perasaan ini, rasa jatuh cinta untuk pertama kalinya. Jatuh cinta pada istriku sendiri.
Saking hanyutnya dengan khayalanku sendiri, aku sampai tidak menyadari sudah ada seseorang yang bergelayut manja di leherku. Siapa lagi kalau bukan Alexandra.
"Morning, Babe" Alexandra memang cantik dan sexy. Ia nampak seperti model internasional dengan pakaiannya yang tidak akan dapat dibayangkan berapa harganya dan juga kecerdikan yang luar biasa. Banyak lelaki kaya raya yang mengincarnya, hanya saja aku tidak mengerti kenapa dia mengincarku.
"Morning." Aku membalasnya dengan senyuman. Kulihat dia terpaku beberapa detik.
"Apa aku tidak salah? Ada apa dengan hari ini? Kau membalas salamku bahkan sambil tersenyum." Kedua tangan Alexandra kini berpindah memegang wajahku.
Dia menatap mataku tajam, berusaha mencari kebohongan di mataku ini.
"Apa kau merencanakan sesuatu lagi kali ini?" dia menatapku dengan sangat serius.
Aku menarik pinggangnya agar lebih menempel pada tubuhku. Dengan senyum menawan dan tatapanku, aku berbisik dalam di depan wajahnya.
"Aku telah menyianyiakan bidadari di depanku ini. Dan Aku menyesal." kulihat binar di mata Alexandra. Sudah kuduga, dia akan masuk perangkapku kali ini.
"Ta-tapi... Aku tidak percaya kau secepat itu menyukaiku. Kemarin kau mengatakan kau membenciku." ucapan Alexandra sedikit tergagap, Aku tau dia gugup. Wanita selicik Alexandra ternyata bisa gugup juga.
Aku mendorong Alexandra hingga menempel di dinding. Aku mengukung tubuhnya dengan tubuhnya. Ku tatap kedua matanya intens, pandangan kami bertemu. Aku memegang dagu Alexandra lembut.
"Aku berusaha menyangkal fakta itu, Aku begitu bodoh hingga menyianyiakan mu selama ini. Alexandra, aku menyukaimu."
CUP
Aaron POV end.
*****
Alexandra melebarkan matanya mendengar ucapan Aaron. Jantungnya kini berdebar sangat cepat. Sial, Aaron menciumnya. Hatinya menjerit senang. Sungguh ia sangat bahagia, hari ini sungguh luar biasa. Akhirnya Aaron membalas perasaannya.
Tadi apa yang pria itu katakan? "Alexandra, Aku menyukaimu" Alexandra ingin berteriak sekarang saking senangnya. Usahanya untuk mendapatkan Aaron tidak sia-sia. Dan sekarang pria itu ******* bibirnya.
Tadinya Alexandra tidak mempercayai Aaron, tidak mungkin pria itu tiba-tiba berubah. Tetapi pengakuan dan perlakuan pria itu menghapus itu semua. Alexandra seolah diterbangkan saat Aaron memperlakukannya semanis ini.
Aaron menatap Alexandra intens. Mereka sangat dekat, tatapan mereka masih terkunci. Alexandra tersenyum dan balas mencium Aaron lebih intens.
"Yap! Kena kau!" batin Aaron bersorak senang. Langkah pertamanya berhasil, kini saatnya menjalankan langkah selanjutnya. Aaron akan melakukannya sebaik mungkin, rencananya tidak boleh gagal lagi.
*****
Ribuan jarum terasa menusuk kepalanya bersamaan, sakit. Jarum itu juga masuk semakin dalam ke kepalanya secara bersamaan. Tidak ada kata-kata yang dapat mendefinisikan rasa sakitnya, Calista menangis semakin terisak seraya memegang kepalanya yang sangat sakit.
Calista melihat gelas, tangannya berusaha menggapai gelas itu. Sekuat tenaga sambil menahan isakan, ia meraih gelas itu.
"Sedikit lagi..." bisik Calista dalam hati. Namun gelas itu malah semakin jauh. Calista berusaha lebih keras, tubuhnya sudah berada di ujung tempat tidur.
PRANNGG
BUUGGG
"Aarrgh..." Suara gelas pecah dan disertai dengan Calista.
Pandangan Calista mulai redup, sekarang tangan dan beberapa anggota tubuhnya terasa perih. Calista tidak tau pasti apa yang terjadi, kegelapan sudah lebih dulu menghilangkan kesadarannya.
Mansion Aaron sangat sepi pagi ini, James berdecak begitu melihat ruang tamu yang sepi. Hari ini adalah saatnya Calista pemeriksaan rutin mengenai penyakitnya.
Sejak pagi perasaan James tidak tenang. Detak jantungnya berpacu lebih cepat, tangannya bahkan bergetar tanpa sebab. Ia begitu khawatir pagi ini, perasaannya tidak baik. Sesuatu mengganggu pikirannya terus menerus, tapi ia tidak tau apa itu.
James menatap lantai atas tempat kamar Aaron dan Calista berada, entah mengapa hatinya terpanggil untuk segera kesana. James tidak tau, tetapi hatinya seolah menggila mendorongnya ke kamar Calista. James mengkhawatirkan Calista, dokter mengatakan di kehamilannya yang sekarang keselamatan Calista akan jauh terancam. Kondisinya bisa kapan saja drop. Perkataan dokter menghantui James setiap malam, dan pagi ini kembali terngiang di telinganya.
James melangkah ke kamar Calista, namun ia berhenti setelah dua langkah. Ia melirik jam tangannya, pukul setengah sembilan dan ini waktunya sarapan. Aaron berbalik ke arah dapur berniat mengambilkan Calista sarapan. Walaupun hatinya seolah ingin secepat mungkin pergi me kamar Calista.
"Kemana semua pelayan? Kenapa disini sangat sepi?"
"Pelayan! Bi Sarah...." panggil James. Tidak ada orang sama sekali disini.
"I-iya Tuan. Anda memanggilku?"
"Dimana Bi Sarah?"
"Bibi Sarah sedang sakit, jadi dia beristirahat di kamarnya. Ada yang bisa kubantu?" kata pelayan itu sambil menunduk di sebelah James.
"Apa Calista sudah sarapan?"
"Belum, Tuan. Nyonya belum keluar dari kamarnya." jawab pelayan itu ragu.
"Siapkan sarapan untuknya, dan bawakan ke kamarnya." ucap James seraya melenggang pergi dari dapur.
"Baik, Tuan."
James sudah tidak tahan, ia ingin sekali melihat keadaan Calista. Tidak biasanya adiknya itu belum bangun jam segini. Dan sialnya, sekarang perasaannya malah semakin gelisah.
"Ya Tuhan, jangan biarkan terjadi hal buruk pada Calista. Aku mohon Tuhan." setulus bunga teratai yang akan mekar dengan sempurna, setulus itulah doa James dalam hatinya. James benar-benar belum siap terjadi sesuatu pada Calista.
"Caly? Dimana kau?" James masuk dengan jantung yang semakin berdebar kencang. Ia benar-benar takut sekarang.
James mendekati tempat tidur Calista. "Darah?" lirihnya.
"Caly, dimana kau? Caly, jangan membuatku takut." James melihat sekeliling, ia melihat ke sebelah tempat tidur lainnya.
DEG
Waktu seakan berhenti saat itu juga, nafas James tercekat. Oksigen seakan hilang hingga ia tidak bisa bernafas dan dadanya sesak. Calista disana, terbaring tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di sekitar tubuhnya.
Seseorang tolong James, melihat Calista seperti itu membuat James kehilangan kendali akan dirinya sesaat. Kalinya sangat lemas, seluruh keberaniannya lenyap entah kemana. James sekuat tenaga mengendalikan dirinya. Entah keajaiban seperti apa ia berlari mendekati adiknya yang terbaring itu. Pelupuk mata James penuh dengan air mata hingga penglihatannya menjadi buram.
James mengangkat Calista, semoga tubuhnya bisa bekerja sama. Calista dalam bahaya, James tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain membawa adiknya itu ke rumah sakit secepatnya.
Siapa yang telah menghabiskan seluruh oksigen? Dadanya sesak sekarang, Calista digendongannya tak sadarkan diri dengan wajah pucat pasi. Tidak terasa air mata James menetes tanpa izin.
"Penjagaa!! Siapkan mobil! Cepat!" Teriakan James menggelegar di mansion itu, mengundanh perhatian seluruh pelayan dan penjaga. Mereka semua nampak sangat terkejut mendapati James yang menggendong majikan mereka yang sudah tidak sadarkan diri.
"Apa kalian tidak dengar? Cepat siapkan mobil!! Aaarggghh!!" Teriak James lagi.
Dengan tangan bergetar salah satu penjaga menyiapkan mobil dan membawa Calista dan James ke rumah sakit. James tidak henti-hentinya berteriak seperti kesetanan untuk menyuruh penjaga itu mengemudi lebih cepat.
"Bertahanlah, Caly. Ku mohon, bertahanlah" James tidak henti-hentinya berbisik di telinga Calista. Ia mencium dan memeluk erat Calista, seolah enggan melepas adiknya pergi.
Percayalah, tidak akan ada laki-laki yang kuat melihat orang yang disayanginya terluka. Termasuk James, ia hanya manusia biasa. James benar-benar lemah melihat Calista seperti itu, seluruh harapannya runtuh.
*****
James jatuh terduduk di lorong rumah sakit dan dipeluk oleh Jane. Dokter baru saja mengatakan bahwa Calista berhasil melewati masa-masa kritisnya. James bernafas lega, Tuhan mengabulkan doanya.
Jane sempat pingsan mengetahui keadaan Calista, ia sama hancurnya saat mendapati anaknya terbaring di brankar rumah sakit dengan alat-alat yang melekat di tubuhnya. Membayangkan Calista merasakan sakit yang teramat sangat itu membuat hati Jane teremas kuat. Untung saja Calista dapat melewati masa kritisnya. Jane bersyukur, doanya masih didengar oleh Yang Kuasa.
Sementara James terduduk lemas, pikirannya melayang jauh. Beberapa jam tadi sungguh menguras kinerja jantung juga otaknya, James hampir mati ketakutan saat Calista berada di masa kritisnya. Apalagi ditambah ibunya yang jatuh pingsan, dunianya hampir runtuh.
"Keluarga pasien atas nama Calista?" Jane dan James menoleh serentak pada perawat yang menyebut nama Calista.
"Saya kakaknya, bagaimana keadaannya, Sus? Bisakah kami melihatnya?"
"Pasien masih belum sadar, tapi dia terus mengigau memanggil nama Aaron. Sebaiknya kalian melihat kondisinya secara langsung."
"Terimakasih, Sus" seru James.
"Tapi ingat, jika pasien sadar dia tidak boleh terlalu lelah. Pasien masih memerlukan banyak istirahat." tambah suster itu.
James dan Jane bergegas masuk ke ruangan Calista. Air mata Jane tidak bisa berhenti mengalir, melihat kondisi anaknya yang terbaring lemah.
"Aa..rron..." gumam kecil Calista seraya terpejam.
"Calista sayang, ini aku Jane. Bangunlah, aku ada disini." Ditatapnya wajah Calista yang memiliki guratan kecil di keningnya serta peluh yang bercucuran.
"Caly, bangunlah. Kami disini, bangunlah." James berbisik di telinga Calista. James mengusap lembut kepala Calista. James menepuk lembut pipinya.
"Aaroon..." Calista sadar. Ia menatap sekeliling ruangan.
"James, aku dimana? Aunty? Kenapa kau juga disini?" tanya Calista lemah.
"Kau berada di rumah sakit, kau akan baik-baik saja, okay?" ucap James demikian. walaupun ia tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
"Aaron? Aku ingin bertemu dengannya, kumohon..." James dan Jane saling pandang, tidak tau apa yang harus ia katakan kepada Calista.
"Dia tidak tau kau disini, kau mau memanggilnya sekarang? Dia akan mengetahui segalanya." Calista tersadar. Ia tidak tau kenapa ia sangat ingin bertemu Aaron. Ia bahkan lupa bahwa Aaron tidak mengetahui penyakitnya. Tapi hatinya berkata lain, hatinya begitu merindukan Aaron.
Calista bungkam. Ia merasakan perih di tangannya, dan ternyata disana sudah terbalut oleh perban. Calista ingat, terakhir kali penyakit kambuh dan ia terjatuh dari tempat tidur. Beberapa bagian tubuhnya mungkin mengenai pecahan gelas itu. Setelah itu tidak ada lagi yang dikatakan Calista. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri dan juga rasa sakitnya. Rasa sakit bertubi-tubi yang seolah tidak pernah berhenti menyiksanya.
*****
Sudah larut malam, Aaron sedang menjalankan rencananya menyingkirkan Alexandra. Dan sialnya Aaron juga terjebak di tempat itu, tepatnya di apartment milik Alexandra.
Ia belum memberitau Calista, ia cemas Calista akan menunggu kepulangannya seperti biasa. Sekarang istrinya itu pasti sedang menantinya.
Alexandra sedang di kamar mandi. Aaron memanfaatkan kesempatan untuk menghubungi Calista.
Berkali-kali Aaron coba menghubungi Calista namun selalu tidak dijawab.
"Apakah Calista sudah tidur?" pikir Aaron.
Aaron mencoba sekali lagi dan untungnya tersambung. "Halo" Aaron tersenyum mendengar suara Calista, hatinya menghangat.
"Ini aku, kau sudah tidur?" Aaron bodoh, tentu saja Calista sudah tau ia yang menelpon. Aarggh Calista sudah mampu membuatnya sangat gugup hanya dengan menelpon saja.
"Belum" mereka kembali terdiam cukup lama. Suasana benar-benar canggung.
"Calista, malam ini tidak usah menungguku. Tidurlah, jaga kesehatanmu dan baby."
"Kenapa?" Celaka. Kenapa Calista bertanya alasannya, Aaron sangat benci berbohong tapi tidak mungkin ia mengatakan ia sedang berada di apartment wanita lain. Hell no!
"Aku... Aku harus lembur. Ada pekerjaan penting yang perlu kulakukan." bohong Aaron.
Lama Calista tidak menjawab Aaron. Jantungnya berpacu sangat cepat, Aaron sangat menantikan jawaban Calista saat ini.
"SAYANG?"
Mata Aaron melebar, secara automatis tubuhnya berbalik mencari sumber suara. Disana hanya ada dirinya dan Alexandra. Ya, Alexandra berseru sangat keras memanggilnya "sayang".
Alexandra berjalan mendekatinya sementara Aaron melihat kembali smartphone-nya. Masih tersambung!!
"Sial, apakah Calista mendengar suara Alexandra?"
To be continue.....
Halo semua, part ini 2X lebih panjang dari biasanya. Sebentar lagi tamat! 1-2 Chapter lagi yaa....
Ayo, bantu semangatin author untuk terus nulis dengan like, comment, dan vote sebanyak-banyaknya!
Happy Ending or Sad Ending?
Wkwkkw itu semua tergantung author yaa, so jangan lupa share ke temen² kalian.