
Viollet terbangun di atas sofa yang empuk. Ia menyadari keadaan tempat itu yang sangat gelap, sama sekali tidak terlihat apapun. Vio lalu mendudukkan dirinya, kepalanya sedikit pusing dan lehernya juga sakit. Mungkin akibat dari tidur di sofa.
"Aaahhh.... ada dimana aku sekarang?" gumam Vio pelan.
Vio terdiam sejenak, di kepalanya terlintas ingatan sebelum ia pingsan. Hormon adrenalinnya meningkat, yang mengakibatkan jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya bahkan mulai gemetaran.
"Tidak, Aku tidak boleh seperti ini. Ak-aku harus pergi dari sini" gumam Vio sembari menatap sekeliling yang sangat gelap.
Vio lalu mulai berdiri, tangannya meraba-raba ke depan mencari jalan agar tidak terbentur sesuatu. Bayangan-bayangan aneh mulai singgah di pikirannya, keadaan tempat itu yang gelap juga sunyi membuat dirinya bertambah takut.
"Dimana ini? siapa yang telah menolongku? apakah aku selamat atau malah sebaliknya?" batin Vio yang terus saja dipenuhi banyak pertanyaan.
Vio menoleh sana sini, terkadang ia juga menoleh ke belakang. Takut-takut ada sesuatu yang mengikutinya dari belakang. Setelah beberapa langkah berjalan dan beberapa kali juga terbentur sesuatu, ia menemukan sebuah cahaya. Dua buah lampu yang mengapit pintu yang cukup besar.
Vio bernafas lega dan tersenyum "Akhirnya..."
Ia mempercepat langkah menuju pintu itu. Sebelum akhirnya suara pecahan kaca menghentikan langkahnya.
DEG
DEG
Denyut jantungnya kembali terpacu sangat cepat. Ia menelan saliva susah payah. Vio merasakan bulu kuduknya merinding, kakinya mulai gemetaran. Untuk sekarang hanya ada dua pilihan, berlari keluar atau menengok ke belakang.
Otaknya kini bekerja keras mengambil keputusan. Vio berkeringat di suhu udara yang tidak bisa dibilang hangat itu. Di US sudah memasuki bulan November dan artinya musim dingin sudah dimulai.
"Aku sudah memilih...." batinnya bersuara.
Vio mulai menghitung dalam hati, ia mulai mengambil ancang-ancang.
"Aku hanya perlu berlari kencang dan keluar dari pintu itu. setelah itu semuanya akan baik-baik saja..."
PRANKK
Lagi, suara pecahan kaca terdengar. Kepalanya secara automatis menengok ke sumber suara. Tepatnya dari atas tangga di belakangnya. Sepi.
Setidaknya di kegelapan itu Vio tidak melihat bayangan apapun. Ia memberanikan diri melihat sekeliling, lalu Vio berjalan mundur. Sebelum ia benar-benar berbalik, indera pendengarannya mendengar suara lagi. Dan kali ini sukses membuat seluruh tubuhnya merinding dan bergetar.
Namun, suara tangisan itu menjadi aneh. Bukan tangisan perempuan, melainkan laki-laki. Sesekali juga terdengar suara menggeram frustasi. Entah kenapa semua rasa takut Vio dikalahkan oleh rasa penasaran. Batin dan hatinya seperti tertarik oleh suara itu, suara yang menyiratkan banyak luka.
Kaki Vio melangkah begitu saja mendekati suara itu. Mungkin dia sudah gila, jika orang lain ada di posisinya mungkin sudah akan berlari menjauh. Tetapi Ia justru sebaliknya, Vio mendekat. Ia ditarik mendekat, hatinya tergerak seolah ingin menenangkan tangisan itu.
Perlahan Vio naik, hingga ia menemukan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Di dalam sana cahaya dapat masuk melalui jendela yang terbuka, dan suara itu makin jelas.
Vio masuk ke kamar itu, dirinya terpaku beberapa saat serta tangannya kembali gemetaran saat ia mendapati seorang laki-laki tengah terbaring di lantai. Tanpa mempedulikan apapun Vio berlari mendekati laki-laki itu. Laki-laki dengan tubuh yang jauh lebih besar dari Vio. Tubuh laki-laki itu bergetar, Vio sekuat tenaga membantu mengangkatnya kursi roda. Entah mengapa saat ini matanya terasa panas, bibirnya juga bungkam. Vio seperti terlarut dalam kesedihan laki-laki ini.
"Eerrgggghh...." suara laki-laki itu terdengar bergetar.
Vio menatap wajahnya sambil berusaha mengangkat tubuh laki-laki itu. Hingga tak sengaja pandangan mereka bertemu, laki-laki itu menatapnya dengan mata yang memerah, pandangan sayu namun dalam serta sisa air mata yang mengalir. Tatapan keduanya terkunci, sama-sama menyelam ke mata yang dipandangnya.
Air mata Viollet akhirnya tumpah. Pandangan laki-laki seolah menghipnotisnya, menyalurkan rasa sakit yang ada di dalamnya.
Vio akhirnya memutuskan kontak mata itu. Ia mendudukkan laki-laki itu di kursi roda dengan bersusah payah dan berniat pergi. Suasana hatinya sangat aneh, Vio sungguh ingin berlari dari suasana itu saat itu juga. Tapi niatnya gagal, ketika berbalik tangannya dicekal.
Dingin, tangan besar itu mencekal pergelangan tangan Vio kuat. "Tu-tunggu..."
Vio menahan nafas. Dengan berat hati ia berbalik. Laki-laki itu menatapnya, dengan pandangan yang sama. Walau keadaan kamar yang agak gelap, Vio masih dapat melihat dengan jelas tatapan laki-laki itu, ia juga dapat merasakan laki-laki itu yang gemetaran bahkan di seluruh tubuhnya.
Namun Vio tidak seharusnya berada disana. Ia berontak dan ingin berlari menjauh. Namun cekalan laki-laki malah semakin kuat.
"Ja-jangan..." samar-samar Vio mendengar suara laki-laki itu yang sangat dipaksakan. Vio makin berusaha melepas cekalannya.
"Aaaa..." Vio memekik. Tubuhnya ditarik sangat keras sehingga hilang keseimbangan dan terjatuh di pangkuan laki-laki itu.
"Jangan pergi, ku-ku mohon tetaplah disini..." Laki-laki itu berbisik serak dan dalam, kedua tangannya memeluk Vio erat. Sangat erat seolah enggan membiarkan perempuan itu pergi.
Vio terpaku. Ada apa dengan dirinya, kenapa ia seolah kehilangan semua kendali atas dirinya sendiri. Ia hanya dia dalam pelukan lelaki yang tidak dikenalnya itu, ia sama sekali tidak berontak. Hanya air matanya yang terus mengalir.
"Jangan tinggalkan Aku, Calista"
Bersambung.....