
Sarapan pagi ini membuat Calista harus mengatur pernafasannya dengan lebih baik. Calista harus benar-benar sabar menghadapi Areon.
Dimulai dari Areon yang menjelma menjadi raja di mansion suaminya. Lalu, Calista yang mendadak diperbudak adik suaminya itu. Areon pagi ini sangat menyebalkan, bayangkan saja sudah 4 kali dia meminta sarapan yang berbeda pada Calista. Sebenarnya Calista ingin menolak tetapi Areon selalu mengancamnya dengan berbagai cara hingga mau tidak mau Ia harus menuruti keinginan Areon.
Calista dipaksa menyiapkan setiap keinginan Areon dengan senyuman. Masakan pertama dan kedua Calista masih dapat tersenyum dan bersabar, namun ketika Calista membuat masakan ketiga Ia hampir kehilangan kesabaran pada Areon. Wajah dan tingkah menyebalkan Areon tiba-tiba membuat rasa Calista takut Calista pada Areon memudar dan berganti dengan rasa kesal.
Ketiga masakan Calista selalu ditolak Areon. Itu membuat Calista hampir meledak, hampir saja Calista membunuh Areon di tempat itu.
"Apa kau tidak bisa masak, huh? Istri macam apa kau? Membuat masakan seperti ini saja tidak becus,, sampah" ucap Areon sambil membenarkan tatanan rambutnya.
Calista menarik nafas dalam-dalam, dihembuskan nafas itu perlahan.
"Relax, Calista. Relax" batin Calista sambil memegang dadanya.
Calista memaksakan tersenyum pada Areon, namum tangannya terkepal. Ingin sekali rasanya Calista mengacak-acak wajah Areon dan pastinga mulut pedas laki-laki itu.
"Okay!! Aku ingin nasi goreng. Siapkan dalam 5 menit, aku mau sudah tersaji di depanku" kata Areon dengan tidak menatap Calista sama sekali.
Calista melototkan matanya. Ia tidak pernah mendengar masakan itu sebelumnya. 24 tahun umurnya tapi belum pernah ia mendengar makanan itu. Ingin sekali ia mencekik Areon, namun laki-laki itu terlebih dahulu bersuara.
"Apa yang kau tunggu? Cepat lakukan! waktumu 4 menit 26 detik lagi" kata Areon lagi. Kali ini kakinya dinaikkan ke meja makan.
Calista berlalu ke dapur. Ia mengacak rambutnya frustasi, mau tidak mau Calista harus menyiapkan masakan itu. Bagaimana pun caranya. Akhirnya, dengan akal cerdik Calista masakan ke-empat yang diminta Areon tersaji di meja makan.
"Kau terlambat, 1 menit 37 detik" ucap Areon memandang jam tangannya.
Jika saja Calista memegang pisau, sudah pasti pisau itu akan berakhir di dada atau perut Areon. Calista menarik nafas dan membuangnya perlahan. Ia harus ekstra bersabar.
PRANK
Piring yang berisi nasi goreng itu berakhir tragis di lantai. Mulut Calista terbuka memandang masakannya yang berserakan, sementara Areon sudah berdiri dan membuang masakan yang sudah dikunyahnya.
"Sial! Kau menyebutnya dengan makanan? Bahkan kucing pun tidak akan mau mencicipinya." ketus Areon.
Kesabaran Calista sudah habis, ia melepas celemek yang dipakainya. Dan berkata dengan keras.
"Sebenarnya apa mau mu, huh? Dari keempat masakan itu tidak ada yang salah sama sekali. Apa kau tidak bisa menghargai makanan barang sedikit saja? Makanan itu bahkan tidak ada yang masuk ke mulutmu, tapi kau selalu mengatakan tidak enak. Kau gila?" marah Calista panjang lebar.
Areon kembali menjelma menjadi iblis yang menyeramkan. Ia menatap Calista dengan tatapan membunuh. Areon terus mendekat yang membuat Calista menciut dan mundur perlahan. Calista menelan ludahnya, jika sudah seperti ini Calista tidak akan berani menatap Areon. Laki-laki itu sangat menyeramkan, lebih menyeramkan dari suaminya.
Jarak Areon dan Calista sangat dekat. Calista sudah tersudut di dinding. Menarik nafas pun Calista takut. Areon tersenyum menang.
"Bereskan semua kekacauan itu, atau aku akan memperkosa dirimu setelah itu membunuhmu perlahan" bisik Areon di telinga Calista.
Seketika bulu kuduk Calista berdiri. Seluruh tubuhnya menegang.
Areon pergi dengan senyum sinis. Ia telah mengerjai Calista pagi ini. Ia sangat puas, walaupun tidak bisa menyakiti Calista secara langsung tetapi Areon akan membuat Calista perlahan menjadi gila. Setelah itu Areon akan menyakiti Calista perlahan-lahan.
Semua pelayan tidak ada yang berani menentang ataupun ikut campur dengan yang dilakukan majikan mereka, taruhannya adalah pekerjaan atau bahkan nyawa mereka.
Banyak sekali ulah Areon di mansion Aaron pada hari itu. Calista bahkan kelimpungan menghadapi keinginan Areon yang di luar batas wajar. Keinginannya bahkan bisa disebut gila, sangat gila. Sementara, di perusahaan Aaron telah dilanda masalah. Salah satu karyawannya membocorkan rahasia perusahaan ke pihak musuh yang membuat perusahaan rugi besar, bahkan para investor mengancam akan mencabut investasi mereka pada perusahaan Aaron.
Kepala Aaron ingin pecah. Setiap staf yang masuk ke ruangannya selalu mendapat luapan amarahnya. Tetapi bukan Aaron namanya jika tidak bisa menyelesaikan masalah itu. Dengan cara yang tidak terpikirkan, Aaron membereskan masalah itu di hari yang sama. Karyawan yang membocorkan rahasia perusahaan bahkan tidak bisa dilacak lagi keberadaannya, tidak ada yang tau bagaimana Aaron membereskan orang tersebut, yang jelas roh orang itu sudah tenang di alam lain.
Di mansion Aaron....
Calista tengah mengobati luka di tangannya ditemani Sarah. Areon sudah kembali ke kamarnya beberapa saat lalu. Calista bisa bernafas lega, mungkin Areon sudah lelah mengerjainya seharian penuh. Jam sudah menunjukkan pukul 01.13 dini hari. Sarah masih setia mengobati luka di telapak tangan Calista yang disebabkan oleh Areon. Sementara Aaron belum pulang. Calista sangat cemas, bagaimana pun juga Aaron adalah suami Calista. Ia tidak akan bisa tidur dengan tenang sebelum suaminya itu pulang dengan selamat.
Pintu diketok dengan keras. Calista dan Sarah saling tatap. Calista segera berlari ke pintu masuk. Calista yakin itu pasti suaminya.
Calista tersentak, lidahnya kelu untuk berbicara. Aaron tampak mabuk, berjalannya saja sudah sempoyongan jika tidak dibantu wanita itu. Amarah Calista tiba-tiba naik ke ubun-ubun. Ia tidak terima suaminya bersama wanita lain. Calista merebut Aaron dari wanita itu, dengan tatapan marah Calista memandang wanita itu. Calista memapah Aaron dan membantu suaminya berjalan.
Wanita itu hampir terjatuh ketika Calista sedikit mendorongnya ketika merebut Aaron. Tetapi ia tersenyum menang ketika Aaron sedikit sadar dan mendorong Calista hingga terjatuh.
"Dasar Jalang! berani-beraninya kau menyentuhku, huh? Aku tidak sudi!" kata Aaron kasar.
Wanita itu menghampiri Aaron dan membantunya berjalan. Ia tersenyum menatap Calista yang terduduk di lantai. Calista nampak syok akan sikap suaminya yang mendorong dan menyebutnya jalang. Calista segera bangkit dan menghampiri wanita yang bersama Aaron.
PLAKK
Calista menampar wanita itu dengan keras.
Aaron menggeram marah dan balas menampar Calista. Air mata Calista melolos begitu saja, hatinya sangat sakit dan perih. Suaminya menamparnya di depan wanita lain. Calista memegang pipinya, sambil mencoba menahan tangisnya agar tidak bersuara.
"Lancang sekali kau!! Dia adalah wanita terhormat, tidak seperti kau! Kau hanya wanita murahan. Kau melayani setiap lelaki hidung belang di luar sana! Jangan pernah samakan dirimu dengannya! Camkan itu baik-baik" ujar Aaron dengan marah. Aaron berkata dengan menatap tajam Calista bahkan matanya sampai memerah saking marahnya.
Aaron dan wanita itu beranjak meninggalkan Calista. Sementara Calista sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menangis tersedu-sedu. Rasanya begitu sakit, dadanya sesak. Calista terduduk dan memukul-mukul dadanya. Ia bahkan berteriak frustasi. Sarah tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa memeluk Calista yang menangis begitu histeris. Calista terus memukul dadanya dan menyakiti dirinya sendiri.
"Aaaaaaaaa....."
Hiks
Hiks
"Kenapa? kenapa kau tega melakukannya padaku? kenapa Aaron? Rasanya sakit, sangat sakit..." teriak Calista frustasi. Calista menangis tersedu-sedu. Sarah memeluknya, Ia bahkan ikut menangis.
Seseorang memandang adegan tadi dari kejauhan. Areon berdiri di depan pintu kamarnya, ia melihat semua adegan tadi. Areon tersenyum sinis. Aaron memang sangat cerdik dalam urusan melukai hati seseorang.
Calista tiba-tiba bangkit. Ia masuk ke kamarnya lalu pergi ke luar. Calista tidak memperdulikan Sarah yang memanggilnya. Calista pergi menggunakan mobil, Sarah sangat khawatir Calista pergi dalam kondisi seperti itu. Areon tidak tinggal diam, melihat Calista yang pergi terburu-buru dengan mobil membuat Areon mengerjarnya. Bahaya jika Calista sampai melaporkan kejadian itu pada ibunya atau Jane.
Calista mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Air mata terus saja mengalir dari matanya, dadanya masih sangat sesak. Hatinya sakit, Calista harus pergi. Ia tidak bisa terus berada di rumah itu dan membuat hatinya hancur perlahan-lahan.
Areon berdecak sebal melihat Calista yang mengemudikan mobil ugal-ugalan.
Calista terus memacu mobilnya tanpa peduli mobil di belakang yg membunyikan klakson terus menerus. Calista melampiaskan amarahnya pada stir mobil. Karena kesal akan mobil di belangkangnya, Calista melirik di spion. Calista melirik hingga tidak memperhatikan di depannya ada orang menyebrang. Ketika kembali melihat ke depan orang itu sudah sangat dekat. Calista membanting stir, mobilnya melaju ke pinggir dan menabrak pohon dengan keras.
Areon mengerem mendadak. Ia turun dari mobil dan menghampiri mobil Calista. Seketika jalanan macet karena kecelakaan tunggal itu. Orang-orang berkerumun untuk sekedar membatu atau menelpon bantuan.
Calista tidak sadarkan diri. Kepalanya terbentur dengan keras dan darah mengalir memenuhi wajahnya.
"Kau sangat merepotkan!" decak sebal Areon yang mengeluarkan Calista dari mobil itu.
**To be continue......
Note :
Ada yang kesel? Hehehe....
Terimakasih tidak bosan² aku ucapin buat semua dukungan kalian. Jangan bosen buat like and comment yaa...
Author malah seneng klo kalian marah² di comment atau gregetan sama 'Disaster Love'
Cerita ini dipersembahkan untuk mengaduk-aduk emosi kalian. Selanjutnya bakalan lebih seru ;)
Salam Hangat,
githaprawisanti ❤**