Disaster Love

Disaster Love
CURIGA 38



Keesokan harinya Aaron mendapati tempat yang ditiduri Calista sudah kosong. Nampaknya Calista sudah bangun lebih awal, Aaron masih menyesuaikan cahaya yang merambat masuk ke kamarnya. Ia menyandar di kepala ranjang sambil mengecek notifikasi di smartphone nya. Banyak sekali pesan dan notif yang masuk, dan mayoritas dari pesan itu adalah dari Alexandra. Aaron menghela nafas, wanita gila itu terus mengganggunya. Apa jadinya jika suatu saat Calista tau yang terjadi. Aaron belum siap memberitau Calista dan Ia juga belum siap Calista mengetahui segalanya.


Aaron meletakkan handphonenya kembali, sudah waktunya ia pergi ke kantor. Tanpa babibu Aaron membersihkan diri dan bersiap menuju ke kantor.


Sebenarnya Aaron sangat malas pergi ke kantor, tempat itu sekarang terasa bukan miliknya lagi. Apalagi semua gairahnya untuk bekerja seakan lenyap. Aaron yang gila kerja mendadak sangat malas untuk pergi ke kantor. Perhatiannya sudah menghilang dari berkas-berkas itu, semua perhatiannya sudah diambil alih oleh seseorang. Orang yang membuatnya mampu merasa bersalah, dan merasakan sakit akibat penyesalan. Orang itu adalah Calista, wanita cantik yang merupakan istrinya dan calon ibu bagi anaknya yang belum lahir.


Walaupun anak itu hadir akibat dari kemarahannya tapi ia menyayangi anak itu. Secara tidak sengaja Aaron menantikan kehadirannya.


"Baby cepatlah hadir" batin Aaron berucap dengan tulus.


Aaron sampai di meja makan, sarapan sudah terhidang namun hanya pelayan yang ada di sana. Aaron bertanya-tanya dalam hati, kemanakah Calista? sejak pagi wanita itu tidak kelihatan. Sebenarnya Aaron merindukan senyum Calista, tetapi apa boleh buat. Aaron tidak tau kemana dia dan ia juga terlalu berat untuk sekedar bertanya keberadaan istrinya itu pada pelayan.


Akhirnya Aaron makan dalam diam, ia menghabiskan sarapannya dan segera berangkat ke kantor dengan wajah datar. Kekecewaan di hatinya ia kubur dalam-dalam. Aaron pandai melakukannya, ekspresi nampak tegas seperti biasa tetapi dalam hati jauh berbeda. Banyak hal yang ia rasakan, banyak juga yang ia pikirkan.


Sementara Calista keluar dari dapur, daritadi ia mengintip segala aktivitas Aaron dari dapur. Air matanya mengalir, hatinya masih sakit mengingat kejadian semalam. Calista tidak sanggup jika harus menghadapi pria itu pagi ini, ia takut dadanya sesak lagi. Ia juga takut tidak bisa menahan air matanya. Semenjak hamil, emosinya sangat labil. Ia sangat mudah untuk menangis karena hal kecil.


Calista melihat Aaron yang sama sekali tidak menanyakan tentang dirinya. Aaron nampak makan dengan tenang, tidak ada sedikitpun ekspresi yang menyatakan kekhawatiran pria itu pada dirinya. Hati Calista kembali sakit, terasa diremas-remas. Semua pikiran buruk itu berkeliaran di otaknya.


"Apa Aku memang tidak penting di hidupmu Aaron?" lirih Calista. Ia memegang dadanya, pagi ini tidak baik untuk hatinya. Semoga saja siang ini tidak lebih buruk. Semoga saja...


Di mansion itu ada Calista, James, Jane dan juga Areon. Laki-laki itu masih dalam tahap pemulihan, Areon sama sekali tidak mengganggu Calista bahkan laki-laki itu tidak berani menyapa Calista. Untuk sekedar dekat saja Areon enggan, ia tidak mau menambah luka di tubuhnya lagi. Karena James bisa saja melakukannya tanpa alasan hanya karena ia berada di dekat Calista.


Mereka berempat sedang makan di meja makan, awalnya Areon tidak ingin bergabung tapi Jane memaksanya. Alhasil ia duduk paling ujung dan menjauh dari Calista, James dan juga Jane. Dari tadi James menatapnya dengan tatapan membunuh, entah mengapa hal itu membuat nyalinya sedikit ciut. Areon belum pernah melihat seorang pria seperti James. Dari penampilan dan tatapan saja Areon tau bahwa pria itu bukan pria biasa yang dapat diremehkan, bahkan Aaron kalah mematikan dari James.


Setelah makan siang Calista merasa gelisah. Ia tiba-tiba memikirkan Aaron, ia sama sekali tidak bisa berhenti mengkhawatirkan suaminya. Rasanya ia begitu ingin memeluk pria itu atau setidaknya melihat saja Calista sudah sangat senang. Calista akhirnya memutuskan untuk pergi menemui Aaron di kantornya, karena ia juga tidak bisa menghubungin ponsel Aaron.


Calista menuruni tangga dengan tergesa, ia sama sekali tidak peduli dengan perutnya yang sudah membuncit. Calista menabrak seseorang hingga hampir saja terpeleset, untung saja pria itu memeganginya erat.


"Hampir saja" desis pria itu.


Calista hanya mampu mengatur nafasnya yang memburu. Ia juga kaget, ia hampir terpeleset tetapi untung saja James memeganginya. Ia terlalu ceroboh, ini semua karena ia terlalu memikirkan Aaron.


"Hah.... Apa yang kau lakukan, Caly? Kau may mencelakai dirimu dan anakmu lagi?"


"Maafkan aku" jawab Calista dengan lirih sembari menunduk. Wanita itu menunduk dan tidak berani menatap wajah James, ia juga menyesali kecerobohannya yang bisa saja mencelakai dirinya dan calon bayinya.


"Sudahlah, lupakan. Kau mau kemana? kenapa sangat terburu-buru?" James memandang penampilan Calista dari atas sampai bawah, terlihat berbeda dari biasanya. Calista terlihat rapi dan cantik. di mata James, Calista memang selalu tampak cantik bahkan saat ini wanita itu tampak semakin cantik karena perut buncitnya.


"Aaa... Aku mau pergi ke perusahaan Aaron." ucapnya sambil menunduk.


"Apa yang kau lakukan, kakak?"


"Apa lagi? Aku akan mengantarmu." tegas James.


"Tapi, aku..." bantah Calista.


"Tidak ada bantahan, aku tidak akan sampai membunuh suaminya. Kau tenang saja." Calista tidak lagi berbicara, ia membiarkan James menariknya dengan lembut. Calista tau ia tidak akan mempu melawan keinginan kakaknya itu.


Calista sampai di perusahaan Aaron. Sepanjang perjalanan menuju ke ruangan Aaron, semua mata tertuju pada James. Pria itu menjadi pusat perhatian karena paras dan juga perawakannya yang gagah. James tidak peduli, begitupun Calista. Di pikirannya kini hanya satu, yaitu Aaron. Ia begitu bersemangat karena akan bertemu Aaron. Entah itu keinginan baby atau dirinya sendiri, Calista tidak tau. Yang jelas sekarang ia akan segera bertemu Aaron.


Di tengah jalan James disapa oleh seorang pria yang nampak seumuran dengannya. Mereka berbincang yang sama sekali Calista tidak mengerti, sementara dirinya sangat tidak tenang. Calista benar-benar ingin menemui Aaron, akhirnya wanita itu berpamitan pada James yang sedang berbincang dengan rekan bisnisnya yang tidak sengaja ditemuinya.


Dengan terpaksa James membiarkan Calista pergi sendiri, ia tidak bisa meninggalkan rekannya itu.


Calista melangkah dengan semangat, dalam 5 menit ia sudah sampai di depan ruangan Aaron. Jantung Calista berdetak kencang. Ia begitu gugup, seperti saat masih berpacaran dengan Aaron. Bahkan tangannya bergetar saat memegang knop pintu. Meja tempat sekretaris Aaron bekerja kosong, Calista sebenarnya ragu untuk masuk. Jantungnya Makin berdebar kencang, akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka pintu itu perlahan.


Senyumnya yang mengembang indah tiba-tiba luntur. Tanpa izin air matanya menggenang, dadanya sesak. Debaran jantungnya melambat bahkan sangat lambat, itu membuat pasokan oksigen di paru-parunya terasa makin menipis. Di dalam ruangan itu ternyata Aaron tidak sendiri, ada wanita lain yang menemaninya. Air mata Calista meluncur indah, mengalir menelusuri pipi dan menetes ke lantai. Dadanya terasa ditikam ribuan jarum melihat pemandangan di depannya. Baru sedikit pintu dibuka, tetapi hal pertama yang terlihat sudah mampu membuat Calista terkejut. sangat terkejut.


Calista mundur perlahan. Air matanya melolos makin deras, sangat sulit untuk bernafas saat ini. Pemandangan di depannya makin menghilang dengan pintu yang tertutup. Calista memegang dadanya yang terasa sangat sakit, tangisnya pecah dalam diam.


Di dalam, Aaron tengah berciuman mesra dengan wanita lain. Mereka tampak sangat romantis.


Calista jatuh terduduk di depan ruangan Aaron. Tangisnya begitu memilukan, Calista menutup bibirnya sekuat tenaga agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain. Calista ingin berteriak, namun tertahan. Dadanya memanas dan terasa sangat sakit. Aaron sangat jahat, pria itu membuat hatinya sakit lagi dan lagi.


Sekuat tenaga Calista menahan tangisnya yang makin menjadi. Beberapa saat kemudian seseorang memeluknya, pelukan yang hangat dan menenangkan. Kemudian ia terangkat dan samar-samar ia merasakan orang itu mencium lembut kepalanya. Calista masih dengan tangisnya, ia malah menangis semakin menjadi di pelukan pria itu.


to be continue.....



"I see you guys, like and comment below if you want your life is save today and the day after tomorrow!" James said.


Hola!! Selamat malam, pagi atau siang!!


Perjalanan menuju tamat, author udah ngga sabar nih mau cepet² namatin?


Ada yang sama? Ada yang kepo sama endingnya? :)