
Aaron berjalan lelah menuju ke ruangan Calista. Ia terfokus pada smartphonenya karena banyak email penting yang masuk mengenai perusahaan. Sehingga Aaron terpaksa mengecek email itu satu per satu. Di koridor rumah sakit, setiap wanita yang berpapasan dengannya selalu melihatnya dengan takjub. Bagaimana tidak? Aaron sangat tampan dengan tubuh atletisnya juga balutan jas yang mahal membuat tatapan para wanita lapar akan tubuhnya. Belum lagi aura pria itu yang begitu memikat, Aaron bagaikan berlian besar di toko perhiasan yang dikagumi juga didambakan para wanita.
"Dia sangat tampan" kira-kira seperti itu ucapan para wanita yang berpapasan dengannya. Walaupun mereka berucap sambil berbisik tetapi Aaron masih dapat mendengarnya samar-samar.
Aaron tau tatapan wanita-wanita itu mengarah padanya, tetapi Ia acuh. Aaron sama sekali tidak peduli pada wanita-wanita itu. Saat ini yang ada di pikirannya hanya perusahaan dan juga.... Calista.
Aaron sampai di depan pintu ruangan Calista. Ia memegang knop pintu dan hendak membukanya, tetapi suara gelak tawa dari dalam menghentikannya. Aaron tau betul suara tawa itu, suara itu adalah milik istrinya. Aaron tersenyum kecil, setiap Calista bersama dirinya wanita itu belum pernah tertawa seperti itu. Tawa seolah ia tidak ada beban sama sekali, seolah wanita itu sama sekali sedang tidak mengalami hal buruk.
Pintu Aaron buka setengah, ia masuk dan pikirannya jadi kacau. Entah kenapa Aaron sangat kesal melihat istrinya tertawa karena orang lain, terutama orang itu adalah James.
Aaron mengeratkan tangannya pada knop pintu. Rahangnya mengeras, dadanya panas. James sedang tertawa sambil memegang pinggang istrinya, sedangkan Calista nampak tertawa lepas dipelukan James. Calista tidak berhenti menggeliatkan tubuhnya karena kegelian oleh tangan James.
"Hentikan! Hahahaha"
"Geli Kakak, Hahaha.... hentikan!" kata Calista ditengah tawanya. Calista dan James sepertinya tidak tau jika Aaron datang. Mereka terlalu terbawa suasana.
Aaron berbalik dan keluar dari ruangan itu. Ia mengepalkan tangannya erat bahkan sangat erat. Aaron sangat marah melihat kebersamaan mereka. Emosinya sekarang bercampur aduk, rasa lelah setelah berkutat dengan berkas dan juga macbook serta kebersamaan yang membuat kepalanya mau pecah. Dan sesuatu didalam dirinya juga memanas, hatinya.
Aaron melangkah di koridor dengan wajah yang menyeramkan. Auranya sangat dingin, tidak ada yang punya nyali cukup besar untuk menyapa Aaron, bahkan suster atau dokter sekalipun. Aaron melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Stir itu ia genggam erat, tatapannya lurus dan tajam.
"Kakak hentikan, geli sekali" ucapan Calista disertai gelak tawa yang tidak berhenti. Jane sedang tidak ada di ruangan itu, jadi James puas mengerjai Calista.
"Nope! Aku belum puas melihatmu tertawa. Aku akan membuatmu tertawa, selamanya kalau memungkinan"
"Hahahaha, tidak mungkin. Kau malah akan membuatku mati karena terus tertawa"
James menghentikan kegiatannya. Ia memangdang tidak suka setelah Calista mengucapkan kalimat terakhirnya. Calista yang menyadari tatapan itu berhenti tertawa dan memandang James balik. James memegang kedua pundaknya dan menatap matanya dalam.
"Aku tidak suka kau mengatakan itu. Kau akan panjang umur dan hidup dengan sehat bersama anakmu kelak." James memeluk Calista erat setelah berkata demikian.
Calista mengernyit. Ia tidak membalas pelukan kakaknya itu karena terkejut dengan reaksi James yang tiba-tiba berubah.
"Hahaha... Tentu saja Aku akan panjang umur dan hidup dengan suami serta anakku kelak" Calista tertawa.
James melepas pelukannya dan menatap Calista dengan tatapan yang sulit dijabarkan.
"Ya, tentu saja. Kau akan baik-baik saja" James melanjutkan kalimat terakhir di dalam hati. James tersenyum dan memantapkan hatinya dengan mengucapkan itu.
"Dimana suami tercintamu itu? Kenapa sampai sekarang dia belum muncul juga? Apakah dia meninggalkanmu dari pagi?" tanya James dengan tatapan serius.
"Tenang kakak, dia sangat sibuk. Belakangan ini perusahaan membutuhkannya lebih dari aku." Calista tersenyum lembut.
Inilah alasan James mencintai Calista. Bagaimana hatinya tidak terpikat dengan senyuman teduh itu. Sikapnya yang dewasa, pengertian dan juga sabar membuat James selalu berdebar saat senyum Calista mengembang. Hatinya menghangat, mau tidak mau senyumnya juga ikut terbit. James membelai pipi Calista kemudian mencubitnya gemas.
"Aawwhh, sakit kak!!" omel Calista.
Calista memukul lengan James beberapa kali. James tertawa menanggapi respon wanita hamil itu, baginya pukulan itu seperti pijatan lembut di lengannya. Calista malah yang menjadi kesal dengan usahanya yang sia-sia. Calista akhirnya merenggut dan menyilangkan kedua lengan di depan dadanya. Wajahnya ia buat semasam mungkin kepada James. Melihat ekspresi Calista malah membuat James semakin gencar mencubit pipi Calista.
"Kak James, Sakiit!" Teriak Calista lalu memukul lebih keras lengan James. Pria itu malah tertawa penuh kemenangan.
Adegan itu berlangsung hingga Jane datang dan menjauhkan James dari Calista. Jane memarahi anaknya yang membuat Calista kesal setengah mati, tetapi pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum mengejek Calista. Sementara Calista melupakan Aaron, tetapi semakin larut malam dirinya semakin tidak tenang. Aaron mengatakan akan kembali, tapi sampai sekarang pria itu tidak kembali.
Calista harus menenangkan hatinya, jika tidak malam ini Ia tidak akan bisa tidur karena memikirkan suaminya.
Aaron sampai di mansionnya. Areon ada di ruang tamu dan pelayan sedang membantunya mengobati luka ditubuhnya. Melihat Aaron datang pelayan itu berdiri dan memberi hormat pada tuannya. Namun Aaron sama sekali tidak peduli, yang berputar dikepalanya hanya satu, Calista dan Jems yang nampak sangat serasi. Mereka bahkan tertawa dan berpelukan.
Areon melirik sekilas kakaknya, Ia hanya diam. Ia tau kakaknya sedang tidak dalam kondisi yang bagus untuk disapa.
Aaron menutup pintu kamarnya dengan sangat keras, hingga menimbulkan bunyi nyaring. Aaron pergi ke kamar mandi dan menghuyur tubuhnya dengan air dingin. Bayangan itu tidak kunjung hilang, malah semakin lama.
"Aaarggghh" Aaron menggeram marah.
Aaron mengatur nafasnya, tidak akan ia biarkan Calista dengan mudah mengubah suasana hatinya. Tidak akan!
Beberapa saat kemudian Aaron keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian santai. Ia kembali berkutat pada pekerjaan, Aaron harus menyingkirkan bayangan Calista.
Setelahnya Aaron tenggelam pada tumpukan berkas itu, sekeras apapun Ia mencoba menghilangkan bayangan Calista dari kepalanya wanita itu tetap menjadi ratu dan menguasai pikirannya. Begitupun dengan Calista, ia mencoba segala cara untuk tidur dan tidak mengkhawatirkan Aaron, tapi semua usahakan tidak berhasil.
Pukul 02.07 dini hari. Matanya masih belum bisa dipejamkan. Calista bahkan sudah ribuan kali melirik smartphonenya, berharap Aaron akan memberinya kabar. Tetapi nihil, sama sekali tidak ada pesan masuk maupun telpon dari suaminya itu untuk memberinya kabar. Calista makin khawatir dengan keadaan Aaron, Ia mengambil dan ingin menelpon tetapi Ia batalkan.
"Kemungkinan dia sudah tidur, jika Aku menelpolnya aku akan mengganggu tidurnya." gumam pada diri sendiri.
"Tapi, bagaimana jika dia tidak baik-baik saja?" gumamnya lagi. Calista benar-benar bingung, ia menekan nomor pria itu tetapi kembali menghapusnya. Calista takut tetapi sangat khawatir dengan keadaannya.
Sementara di mansion Aaron masih berkutat pada tumpukan berkas itu. Smartphonenya ada pada mode diam dan tergeletak di atas tempat tidur. Aaron tidak menyadari smartphone itu menyala dan berdering.
Calista menelponnya setelah beberapa kali berdebat dengan perasaan dan pikirannya. Panggilannya tidak dijawab dua kali, Calista semakin khawatir. Ia mencoba lagi, harapannya sangat besar pada panggilan itu Calista berharap Aaron baik-baik saja.
Tetapi pada panggilan ketiga nomor Aaron tidak bisa dihubungi, telponnya mati.
"Dia mematikan smartphonenya? Mungkin dia sangat lelah" gumamnya kecil sembari menatap benda pipih canggih itu. Harapan itu hancur dan rasa kecewanya menyelimuti Calista. Jujur saja ia sedih saat Aaron mematikan smartphonenya.
Calista menarik nafas dalam, hatinya sedikit berdenyut sakit. Calista kecewa, ia berharap terlalu besar dan pada akhirnya harapan itu hancur. Dan sekarang hatinya yang sakit. Calista tersenyum simpul, setetes air matanya mengalir tanpa izin.
To be continue......
***Note :
Selamat Malam semuanya! Author rindu readers yang selalu setia comment :(
Tapi gpp, author baru aja bangkit dari kekecewaan. Hehehe
Maaf ya baru sempet nulis lagi, tapi author mau dong liat respon kalian lagi. Kalau author crazy update ada yang mau? 😂😂
Syaratnya apa Thor? Gampang kok! Author cuma mau 30 likes dari kalian, author rindu angka itu. Abisnya belakangan ndak nyampe segitu 😂😂
Kalau misalnya nyampe 30 likes, besok author crazy update 5 chapter!! Dalam 24 jam!! Uuwooww, bisa gk yaa? 😂😂
Makanya jangan lupa like, comment, dan kasi bintang. See you 😘***