Disaster Love

Disaster Love
INGATAN KECIL 27



"Aku atau bayi ini benci wajahmu, dan bahkan wangi parfum mu membuatku mual"


Calista Maylafaisha


✍️✍️✍️✍️✍️


Saat ini Calista tengah menyantap makanan yang dibuat Jane. Calista terbangun karena lapar, dan sekarang adalah piring kedua yang hampir ia habiskan. Setelah mengandung nafsu makannya benar-benar meningkat, bahkan Calista sering lapar saat tengah malam. Tubuhnya sekarang bahkan lebih berisi dengan perut yang mulai membuncit, Calista terlihat begitu seksi.


Wajah Calista terlihat begitu imut saat ini. Bagaimana tidak, Calista menatap makanannya dengan mata berbinar, mulutnya juga tidak berhenti mengunyah makanan. Aaron yang melihat itu hatinya jadi menghangat. Bibirnya tersenyum tipis melihat Calista akhirnya terlihat begitu senang.


Aaron pergi dari depan pintu setelah Calista menghabiskan makanannya. Ia dari tadi berdiri di depan pintu setelah menarik Areon paksa dari kamarnya. Adiknya itu sempat mencak-mencak saat itu menyeretnya saat sedang tertidur lelap. Bukan Aaron namanya kalau tidak berhasil menaklukan Areon. Aaron tau betul kelemahan adiknya itu, saat Aaron mengatakan bahwa Calista menangis karena perutnya sakit, Areon berhenti melawan dan dengan pasrah menyerahkan diri untuk dibawa di kamar Calista.


Sampai disana Calista menatap Areon dengan mata berbinar, berbanding terbalik ketika menatap Aaron. Calista bahkan hampir saja kembali menangis ketika Aaron mendekat untuk duduk, untung saja pria itu berbalik dan keluar kamar. Setelah itu, Areon meratapi nasibnya yang begitu buruk. Ia harus menahan kantuk dan juga amarahnya pada wanita hamil ini. Sebenarnya Areon bisa saja menyakiti Calista saat Jane dan Aaron tidak ada, namun bayi di kandungan Calista selalu menggagalkan niatnya. Areon benar-benar lemah jika menyangkut bayi, sekarang ia bahkan rela mengusap-usap perut Calista lembut saat wanita itu sedang makan.


Sesekali ia hampir terjatuh karena mengantuk. Matanya begitu berat, Areon sampai kesal karena Calista tidak berhenti makan. Bisa-bisanya wanita itu terus mengunyah saat menjelang pagi seperti ini. Jane bahkan sudah terlihat mengantuk dan kelelahan tetapi Calista masih sangat bersemangat sambil sesekali tersenyum.


"Aahhh kenyangnya" seru Calista.


Jane yang sempat memejamkan mata menjadi terbangun. Ia tersenyum simpul melihat Calista yang nampak begitu bahagia. Jane mengambil alih piring itu dan melenggang pergi. Sementara Areon menatap kepergian Jane dengan tatapan memohon, ia menelan salivanya dengan susah payah. Jane begitu jahat, ia meninggalkan Areon berdua dengan wanita hamil ini. Tamatlah riwayat Areon.


"Masih sakit?" tanya Areon selembut mungkin. Ia takut jika tidak hati-hati dalam berbicara bisa-bisa Calista kembali menangis dan perutnya akan kembali terasa sakit.


Calista menggeleng dan tertunduk lesu. Ia nampak begitu bersalah.


"I'm sorry. Maaf aku sudah menyusahkan kalian" ucap Calista lirih.


Air mata Calista ikut menetes saat mengatakan itu. Areon yang menyadari Calista menangis kembali kelimpungan. Laki-laki itu panik dan mengacak rambutnya frustasi. Ia paling benci jika dihadapkan dengan wanita, apalagi yang emosinya tidak stabil seperti Calista saat ini.


"Hey, jangan menangis. Oh my God. Dengar, imi semua bukan salahmu. Ini semua salah baby nya, mungkin dia benci melihat papa nya." ucap Areon


Calista menatap Areon dengan wajah basag karena air mata.


"Kau menyalahkan baby nya?" tanya Calista balik.


Wajah Calista makin sendu, ia pun menangis terisak. Hal itu membuat Areon melongo, apa ia salah bicara? lalu ini semua salah siapa, huh?


HIKS


HIKS


Tangis Calista makin menjadi. Areon makin panik.


"Okee, okee... ini semua salahku. Aku yang salah. Bukan salah baby nya, atau salah Aaron. Ini salahku, okay?"


"Ini semua salahku!" ucap Areon sambil menampar berulang kali wajahnya sendiri


PLAK


Areon melakukannya terus menerus. Calista yang melihat tingkah Areon perlahan berhenti menangis. Ia bahkan tertawa akan tingkah lucu Areon. Calista tertawa saat wajahnya masih basah dengan air mata.


Areon yang melihat Calista berhenti menangis menghentikan tamparannya. Tetapi yang terjadi malah Calista kembali menangis.


"Oh my Godness. Kurasa wanita ini baru akan terus tertawa ketika Aku bunuh diri." batin Areon kesal


"Lebih baik?"


Calista mengangguk dan mengusap perutnya. Ia tersenyum simpul pada calon bayinya yang masih sangat kecil.


"Thank you, Uncle Tom" ungkap Calista senang.


Areon mendengus mendengar Calista menyebutnya Tom. Entah darimana asal usul sebutan Tom, yang jelas mulai tadi siang Calista memanggilnya Tom. Katanya, Areon sangat mirip Tom yang menyebalkan juga mengenaskan.


Areon segera pamit dari kamar Calista. Ia kembali ke kamarnya dan merebahkan diri, tetapi sialnya sekarang malah Ia yang tidak bisa tidur. Matanya yang tadi terasa begitu berat, sekarang malah terbalik. Ia sama sekali tidak mengantuk.


"Aarrgghhh, siaal!! Aku bisa gilaa" teriak Areon kemudian bangkit dan berjalan mondar-mandir di balkon.


Malam ini hanya Areon yang terjaga, sedangkan Aaron, Jane, dan Calista sudah terlelap.


Pagi harinya.....


Seperti biasa, Jane dan Calista sudah berada di meja makan. Sedangkan Aaron sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Areon berjalan sempoyongan dari kamarnya yang berada di lantai dua ke meja makan. Lingkaran matanya menghitam, matanya juga memerah. Terlihat sekali bahwa laki-laki itu kurang tidur.


Areon duduk dengan wajah masam. Jane dan Calista saling tatap melihat kondisi Areon yang tampak sedikit mengenaskan. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya masih sama seperti yang kemarin. Areon belum mandi.


"Eeehhmmm, apa kau baik-baik saja?" tanya Jane.


"Aku hampir gila, kau bertanya aku baik-baik saja? Ya Aku baik. Untuk saat ini!" jawab Areon dengan kesal.


Jane dan Calista meneguk saliva susah payah. Saat ini Areon terlihat menyeramkan, untung saja calon bayi Calista sedang tidak berulah. Jika tidak, Calista tidak tau apa yang akan dilakukan Areon jika ia kembali meminta sesuatu yang aneh-aneh.


Sarapan berjalan begitu hening. Hanya bunyi alat makan yang terdengar. Setelah selesai mereka kembali ke rutinitas masing-masing.


Calista tidak sengaja melihat salah satu pintu kamar yang terbuka di dekat tangga. Karena tidak ada pekerjaan, Calista berjalan memasuki kamar itu. Kamar itu adalah kamar yang ia tempati setelah menikah dengan Aaron. Sampai di pintu masuk, suasana dalam kamar itu nampak tidak asing. Calista kembali melangkah masuk, jantungnya berdegup tak karuan. Perasaan aneh hinggap di hatinya.


Calista menatap sekeliling kamar, ada satu hal yang menarik perhatiannya. Sebuah foto di nakas yg berukuran kecil. Calista mendekat, ia tercengang. Di foto itu ada seorang wanita berpakain wisuda dan laki-laki yang berjongkong di depan wanitanya, laki-laki itu memegang sebuah kotak beludru yang terbuka. Laki-laki itu nampak tengah melamar wanita di kerumunan para wisudawan.


Air mata Calista mengalir, wanita itu adalah dirinya dan laki-laki itu adalah Aaron.


Tiba-tiba kepala Calista berdenyut sakit. Calista memegang kepalanya dan menaruh foto itu kembali di nakas. Sakit kepalanya makin menjadi, Calista terduduk di dekat nakas menahan sakit itu. Sebuah ingatan terlintas di benaknya, bayangan seorang laki-laki yang bernyanyi di atas panggung sambil memainkan gitar. Laki-laki itu mendekat ke seorang wanita yang nampak sudah menangis, sampai di depan sang wanita. Laki-laki itu berlutut dan melamar sang wanita.


Bayangan itu tidak terlalu jelas. Nampak hitam putih di ingatan Calista.


Sakit itu tidak kunjung hilang, namun bayangan itu semakin jelas di kepala Calista. Perlahan wajah sang lelaki dapat Calista kenali.


"Aaron?" ucap Calista.


Bayangan itu menghilang. Sakit kepalanya perlahan menghilang. Nafas Calista memburu, sebagian kecil ingatannya telah kembali. Ia mengingat Aaron saat melamarnya di acara wisuda.


To be continue.....


Note :


Terimakasih yang sudah sabar menunggu, maaf author baru bisa update.


Tunggu next episode nya yaa :)