Disaster Love

Disaster Love
MASA LALU 2 14



Ketiga orang itu terkapar penuh darah di sebuah kamar dengan suasana mencekam. Pria-pria berbaju hitam itu hanya saling pandang ketika melihat jasad boss mereka terkapar di lantai. Mereka tidak tau apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Calia dan Calista masih saling peluk di dalam lemari pakaian yg sempit dan pengap. Calia menyadari di luar telah sepi. Tidak ada lagi suara tembakan atau teriakan. Air mata Calia meluruh, Ia teringat kedua orang tuanya. Calia sangat takut terjadi sesuatu pada mereka, apalagi setelah terdengar suara tembakan beberapa kali.


Calia memberanikan diri untuk mengintip dari salah satu lubang lemari. Samar-samar Calia melihat dua orang terkapar di lantai. Calia menyadari kedua orang itu adalah orang tuanya.


Calia merasa seluruh dunianya hancur. Nafasnya memburu, air matanya sudah mengalir deras. Calia menutup mulutnya dengan tangan sembari mengeratkan pelukan pada adiknya. Calia menangis tersedu dalam diam.


Sedangkan pria-pria berbaju hitam tersebut mendekati tuannya yang terkapar di lantai penuh darah. Mereka harus memastikan keadaan bossnya. Dengan perlahan salah satu pria berbaju hitam mendekati bossnya. Ia berjongkok dan mengecek denyut nadi di leher bossnya. Pria itupun menggeleng ke teman-temannya yang lain.


Tiba-tiba seorang wanita masuk ke kamar itu. Semua pandangan tertuju pada sang wanita.


"Addoff....." teriak wanita itu.


Ia berhambur ke pria yang terkapar di lantai, pria yang disebut boss oleh pria-pria berbaju hitam. Wanita itu menggoyang-goyangkan tubuh yg penuh darah itu. Air matanya mengalir deras, tangisannya histeris.


"Addof, ku mohon bangunlah!! Bangun demi aku, demi anak-anak!!"


"Bangun sayang, aku mohon" wanita itu memeluk tubuh prianya. Pria itu suaminya.


"Aaaaaaarrggghhh......" wanita itu berteriak histeris sambil memeluk tubuh suaminya.


Sementara di lemari Calia menatap adiknya yg semakin gemetaran. "Kak, Mama Papa mana? Calista takut, hikss" adu Calista.


"Ssttt... Kecilkan suaramu. Mereka baik-baik saja. Mama dan Papa baik-baik saja" jawab Calia. Sungguh berat Calia harus berbohong pada adiknya. Tetapi hanya itulah satu-satunya cara agar adiknya tenang.


Namun Calista malah menangis sesenggukan. Ia tidak bisa menahan rasa takutnya. Calia panik melihat adiknya yang malah menangis semakin keras.


"Calista, jangan menangis. Kakak mohon" bisik Calia.


Beberapa pria berbaju hitam mendengar suara itu. Mereka mulai menyadari suara tangisan itu berasal dari dalam lemari. Salah satu pria mendekat.


Calia menyadari ada seorang pria mendekat ke arah mereka. Jantungnya berpacu cepat. Calia mengintip dan benar saja dugaannya. Pria itu sudah di depan lemari. Calia semakin erat memeluk Calista.


"Kena kalian" kata pria berbaju hitam.


Calia memelototkan matanya. Pria itu menyeret Ia dan Calista keluar lemari. Calista menangis dan meronta. Calia juga melakukan hal yang sama. Calia mencoba menggigit tangan pria itu, namun usahanya gagal. Ia dipisahkan dari Calista.


Tangis Calista makin menjadi. Sementara istri Addof menatap marah kedua anak perempuan itu. Ia bangun dan mendekati Calista yang dipegang oleh salah satu pria berbaju hitam.


"Nyonya apa yang harus kami lakukan pada kedua anak ini?" tanya pria itu.


Wanita itu berjongkok di depan Calista dan memegang wajah Calista. Tatapannya tajam pada Calista.


"Karena orang tuamu, suamiku tiada! Karena pasangan sialan itu, bisnis kami hancur. Mereka telah menghancurkan semuanya. Kini giliranku menghancurkan kalian" ucap wanita itu diakhiri dengan tawa.


Calista meraung-raung minta dilepaskan. Sementara Calia terus meronta, Ia ingin menyelamatkan adiknya namun Ia tidak berdaya.


Wanita itu mengambil alih Calista dan memperlihatkan kedua orang tua Calista yang sudah terkapar penuh darah di lantai.


"Mama..... Papa....."


"Ma, Pa, tolong Calista..... Calista takutt" teriak Calista. Teriakan itu begitu memilukan. Calista kecil belum mengetahui kedua orang tuanya yang sudah tiada. Ia masih sangat polos.


Calia memejamkan mata mendengar adiknya yang terus saja memanggil kedua orang tuanya. Hatinya tersayat mendengar tangisan dan teriakan Calista.


"Mama.... bangun, tolong Calistaa"


"Papaaaa......" teriak Calista lagi.


Wanita itu geram mendengar teriakan Calista. Ia menarik dan membungkam mulut gadis kecil itu. Calista meronta dan menangis makin keras.


"Lepaskan adikku..... kau menyakitinya!!" teriak Calia.


"Kau mau bersama kedua orang tuamu, gadis kecil? Aku akan mengirimmu ke tempat mereka!" ucap sarkas wanita itu.


Wanita itu meletakkan pistol di kepala Calista. Calista semakin gemetar, tubuhnya kaku. Tangisnya seketika berhenti melihat pistol yg menempel di keningnya.


"Noooo.... Jangan sakiti dia. Wanita iblis! jangan menyentuh adikku!" Teriak Calia.


Calia panik mendengar tawa wanita itu. Calia lalu menendang selangkangan pria yang memeganginya. Pria itu memegangi selangkangannya yang terasa sakit dan ngilu. Calia berlari ke lemari dan mengambil pistol pemberian ibunya. Tangan Calia gemetar memegang pistol itu. Calia menelan salivanya.


Calia mengarahkan pistol itu ke wanita yang memegang adiknya. Jantung Calia berdetak sangat cepat. Ia sangat gugup. Namun nyawa adiknya berada di tangannya. Calia harus melakukannya, demi Calista, demi janjinya pada kedua orang tuanya.


Bunyi tembakan kembali terdengar. Semua orang menatap ke arah Calia. Air mata Calia meluruh, pistol yang dipegangnya terjatuh. Semua orang membisu, termasuk Calista.


Wanita itu terjatuh dengan baju yg berlumuran darah. Peluru itu mengenai perutnya. Suasana begitu mencekam, Calia jatuh terduduk di lantai. Calia benar-benar melakukannya. Calia menembak wanita itu. Sementara Calista yang terbebas dari pegangan berlari ke pelukan kakaknya.


Suara mobil polisi pun terdengar. Para pria berbaju hitam itu melarikan diri terbirit-birit. Calia masih saja bengong, Ia shock. Sementara Calista menangis memanggil Calia.


Beberapa saat kemudian beberapa polisi masuk. Mereka segera mengevakuasi 4 orang yg terkapar di lantai penuh darah. Sementara seorang anak lelaki berambut putih tiba-tiba masuk. Anak itu menangis dan berteriak di depan jasad dua orang di depannya. Anak itu histeris memanggil kedua orang itu ayah dan ibu. Anak itu memukul dan memeluk kedua orang tuannya.


Calista makin mengeratkan pelukan ke kakaknya.


"Kakaak....."


Keadaan sangat kacau di kamar itu. Polisi mengamankan anak-anak disana. Sementara 4 jasad di bawa ke rumah sakit.


**To be continue......


Kim Christian (Ayah Calista & Calia**)




Crystal Maylafaisha (Ibu Calia & Calista)




**Ayah Calista & Calia adalah keturunan Korea, sementara Ibunya keturunan Amerika-Rusia. Itulah mengapa Calista jago nyanyi. Wajah Calista & Calia menurun dari ibunya, sementara bakat mereka menurun dari ayahnya.


Jadi ini masih cerita tentang masa lalu yaa 😂 Ada yang tau, anak berambut putih itu siapa? Hehehe...


Terimakasih!!


Stay Tune Guys** :)