Disaster Love

Disaster Love
MALAM PERTAMA 10



Semua rangkaian acara telah selesai. Calista berada di salah satu kamar rumah Aaron tempatnya berganti pakaian. Calista melamun di depan cermin, pikirannya berkelana jauh pada pesta tadi.


Calista tersadar dan menyentuh bibirnya. Luka akibat gigitan Aaron masih belum kering.


Calista melepas anting, menaruhnya di meja rias. Kalung hingga ketika Calista ingin menarik resleting belakang gaunnya, Aaron tiba-tiba muncul. Tatapan Aaron sangat tajam pada Calista.


Di pantulan cermin, Aaron tampak menyeramkan bagi Calista. Tubuh mungil Calista kalah jauh dari tubuh Aaron yg tinggi juga berotot. Aaron mulai mengendus tengkuk bagian belakang Calista. Hal itu membuat bulu kuduknya merinding.


Calista memejamkan mata menahan geli. Aaron memeluknya dari belakang dan mulai mencium tengkuk Calista tanpa mengatakan sepatah katapun. Calista melenguh, kepalanya menengadah. Tangan Aaron tidak tinggal diam. Kedua tangan besar Aaron mengeksplore keseluruhan tubuh Calista sambil mencoba melepas gaun merah muda itu.


"Aaahhhh" Calista mendesah saat Aaron makin ganas bermain pada tengkuknya.


Tangan Calista berusaha *** rambut Aaron. Tangan Aaron makin semangat berkelana di tubuh Calista.


Aaron menghentikan kegiatannya. Tatapan dingin itu menatap Calista yang tengah terpejam menikmati permainannya. Calista membuka mata akibat Aaron yang menghentikan kegiatannya. Calista terkejut ketika mendapati Aaron yang menatapnya lekat dan tajam.


BUUKKK


Aaron menarik Calista dan mengukung tubuh Calista di tembok. Dorongan Aaron sangat kasar. Calista bahkan tersentak dan meringis akibat kepalanya terbentur tembok.


Tanpa aba-aba Aaron menjamah bibir Calista. Ciuman itu sangat kasar, Calista bahkan kewalahan menyaingi ciuman suaminya. Aaron memaksakan Calista membuka mulut, lidahnya masuk dan mengabsen satu per satu gigi Calista. Aaron tidak memberi celah Calista bernafas. Dada Calista sesak, Ia memukul dan mendorong badan besar Aaron. Calista perlu bernafas.


Aaron menghentikan kegiatannya ketika air mata Calista meluruh. Aaron tersenyum sinis dan kembali mencium Calista dengan brutal.



Calista sampai terbatuk-batuk karena kekurangan nafas. Belum sempat Ia protes tetapi Aaron kembali menyerangnya, bahkan lebih dari yang tadi. Calista berontak. Ia seperti dilecehkan suaminya sendiri. Calista memukul dada bidang Aaron.


Aaron mengambil alih kedua tangan Calista dan menahan tangan itu di atas kepala Calista. Tangan Aaron yang satunya telah melepas gaun yang dipakai Calista.


"Mmmpphhhh" Calista meronta, air matanya mengalir lebih deras.


Calista menendang bagian bawah perut Aaron. Aaron mengumpat hingga cengkraman dan ciumannya pada Calista terlepas.


PLAKK


"Ada apa denganmu huh? Kau seperti monster. Aaron sadarlah, it's me Calista"


Calista menampar Aaron. Hal itu membuat amarah Aaron makin menjadi. Aaron menarik dan menjatuhkan Calista ke tempat tidur. Calista sedikit memekik, Ia berusaha bangkit namun Aaron lebih dulu mengukung dirinya.


Aaron melumat bibir Calista, menggigit hingga berdarah. Luka yang tadinya belum sembuh malah semakin parah. Calista terus mencoba melawan tetapi semua pergerakannya dikunci Aaron.


Aaron beralih pada leher Calista. Meninggalkan jejak merah kebiruan. Pakaian di tubuh Calista hanya tinggal dalaman, dan itupun sudah ditanggalkan Aaron. Calista kini polos tanpa sehelai benangpun. Aaron mengikat kedua tangan Calista di atas kepalanya.


Aaron bangkit dan melepas pakaiannya. Keadaan Calista kini sangat memprihatinkan. Wajahnya yg penuh dengan air mata, bibir membengkak dan berdarah, di bagian leher banyak tanda merah kebiruan. Aaron tersenyum sinis. Kini ia juga sudah polos tanpa sehelai benang.


Aaron naik dan kembali mengukung Calista. Menatap sinis Calista, tatapan itu lebih seperti merendahkan wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya.


Aaron kembali mencium bibir Calista yang bengkak. Calista menangis, rasanya sangat perih apalagi Aaron menciumnya dengan sangat kasar. Tenaganya sudah habis, Ia pasrah.


Tangan Aaron *** kedua gunung kembar Calista.


"Aaakkhhh"


Hiks


Hiks


"Stop it, Aaron!"


"Please, Aaron. Stop it"


Aaron kembali melukat bibir Calista. Tangannya menyiapkan senjata pusakanya untuk memasuki milik Calista. Calista belum siap, Calista menggelengkan bahkan coba menendang Aaron dengan sisa tenaganya.


Namun Aaron tidak memperdulikan itu semua. Tenaganya jauh lebih besar untuk mengalahkan tenaga Calista.


Aaron memasukkan keperkasaannya ke milik Calista dengan paksa.


"Aaakkhhh, sakitt"


Milik Calista masih sangat sempit. Aaron tahu betul Calista masih perawan. Dengan sekali hentakan keras, milik Aaron berhasil masuk.


"Aaaakkhhh" Calista memejamkan mata, Aaron memaksa masuk. Milik Calista terasa sangat perih dan sakit.


Calista *** sprei dengan sangat kuat. Ia memalingkan wajah. Calista sangat muak menatap Aaron. Hatinya hancur akibat perbuatan Aaron.


Aaron mulai bergerak. Setiap hentakan Aaron terasa begitu perih bagi Calista. Sesuatu dibawah seperti robek dan terkoyak. Aaron terus bergerak bahkan semakin cepat dan liar.


Malam ini Aaron telah menyentuhnya dengan paksa. Calista bahkan tidak mengenal suaminya malam ini.


Calista mencoba tidak memekik di setiap gerakan Aaron. Ia menahan suaranya. Milik Aaron besar dan panjang, sementara miliknya sangat sempit.


Aaron melakukannya beberapa kali. Hingga saat hentakan terakhir, Aaron menatap Calista yang memalingkan wajah ke samping. Aaron bangkit dari atas tubuh Calista. Memakai pakaian dan menutup pintu dengan keras. Aaron pergi begitu saja, meninggalkan Calista dalam keadaan yang mengenaskan.


Calista berteriak. Ia meringkuk dan memeluk dirinya sendiri. Tangisnya pecah. Aaron memperkosa dirinya. Seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama bagian bawahnya. Pegal dan sangat perih.


"Aaaaaarrhhh"


"Why?? why are you did it to me!! I hate you Aaron. I hate you!!" Calista berteriak sambil melempar bantal di dekatnya.


Dirinya dan hatinya hancur. Calista memang sudah resmi menjadi istri Aaron, tetapi perbuatan Aaron yang kasar dan memaksakan kehendak tidak dapat diterima Calista. Aaron bahkan meninggalkannya dalam keadaan mengenaskan.


Calista mencoba bangkit dengan tertatih-tatih. Ia berjalan perlahan sambil menahan perih di bagian bawahnya. Calista mengunci pintu kamar mandi. Mengguyur tubuh lemah nya di bawah shower yang dingin.


Calista kembali berteriak dan menjambak rambutnya. Dinginnya air serasa menusuk hingga ke tulang. Calista tidak peduli. Hatinya jauh lebih sakit. Ia terluka


To be continue.....


Calista Maylafaisha




**Does someone miss her? I love her smile 😍


Thanks for your support guys ❤️🙏


I have a semester test for this week 😦


Next week I promise will update more chapter, stay tune!


Don't forget to like and comment


Thank You 😘**