Disaster Love

Disaster Love
CEMBURU 17



"Aku benci melihatnya disentuh pria lain. Tawa dan tangisnya adalah milikku. Hanya aku yang berhak!"


Aaron Gavrilo


 


💥💥💥


 


Pria itu tersenyum. Calista bernafas lega, ia juga memejamkan mata sejenak.


"James"


"Yeah, it's me. Kau mengira aku penculik, huh?" tanya James


"Almost. Kau menakutiku, bagaimana kau bisa ada disini? dan kapan kau kembali?" Calista bertanya sambil James membantu dirinya untuk bangun.


"Hahaha..... Sebuah kebetulan. Aku kembali dua hari lalu" kata James dihiasi senyum manisnya.


"Dan kau tidak memberitahu aku?" ucap Calista dengan wajah tertekuk.


Calista memasang wajah cemberut dan memalingkan wajah. James terkekeh, ia benar-benar menyukai ekspresi Calista ketika merajuk. Sebenarnya James ingin sekali memeluk wanita di depannya, namun Ia harus ingat bahwa Calista sudah menikah. James harus menahan perasaannya. Rasa cinta itu tidak kunjung hilang, bahkan jika James mati pun rasa itu akan tetap ada.


"Lalu aku akan menjadi orang ketiga antara pengantin baru, begitu?" James mencubit kedua pipi Calista. Itu membuat ekspresi Calista sangat menggemaskan.


Tiba-tiba saja Calista memeluk James. "I miss you and aunty Jane" rengek Calista. James yang awalnya tersentak balas memeluk Calista erat. James hanya tersenyum menanggapi Calista yang merengek manja. Sifat ini yang membuat James gagal move on dari Calista.


"Ayo kita pulang, suamimu pasti mencarimu" ucap James.


Calista tersenyum masam, mungkin suaminya akan lebih senang jika Ia tidak kembali ke rumah itu. Namun, apapun yang terjadi ini adalah masalah rumah tangganya. Orang lain termasuk James tidak boleh sampai tau. Calista akan menyelesaikan masalah itu sendiri.


Dalam perjalanan mereka terus berbincang, bahkan Calista tertawa lepas karena candaan James. James sangat senang karena melihat kembali tawa lepas Calista. James bahagia jika Calista bahagia.


Mereka telah sampai di rumah Calista dan Aaron, tepatnya rumah Aaron. James menatap Calista sambil tersenyum hangat. Calista juga balik menatap James, Ia nyengir seperti anak kecil. James mengacak rambut Calista gemas. Calista berdecak dan keluar dari mobil.


"Masuklah, dia pasti mencarimu" ucap James.


"Semoga saja" jawab Calista dalam hati.


James segera melenggang pergi dengan mobilnya. Calista menatap kepergian kakak angkatnya itu, ia menarik nafas lalu menatap gerbang di depannya. Ia harus memasuki tempat ini lagi, semoga hatinya baik-baik untuk kedepannnya.


Ternyata Aaron tidak ada di rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Bagaimanapun juga, Aaron adalah suaminya. Aaron sudah mendarah-daging dengan raganya juga hatinya. Calista mencintai Aaron terlepas dari semua perbuatan Aaron padanya.


Calista langsung menuju ke kamarnya dengan wajah masam. Hari ini cukup melelahkan, terutama untuk mental dan hatinya. Calista merebahkan diri di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar, lama. Hingga tak terasa pandangannya semakin berat, tanpa sadar Calista tertidur, lelap.


"Aarrgghh" Aaron berteriak sambil memukul meja kerjanya.


Gurat amarah sangat terlihat di wajahnya. Wajah tampan itu tampak mengeras, rahangnya juga mengetat.


"Kau berani bermain di belakangku, huh?" ucap Aaron marah.


Smartphone Aaron kembali menyala tanda ada pesan yang masuk. Aaron memeriksanya


BRAK


Smartphone itu berakhir tragis di dinding yang keras. Aaron melempar smartphonenya, ia menggeram dan amarahnya makin membuncah. Pesan itu berisi foto wanita dan pria yang sedang berpelukan di pinggir jalan. Wanita itu adalah Calista. Aaron bergegas keluar ruangannya. Tujuannya kini hanya satu, Calista.


Aaron memacu kecepatan mobilnya di atas rata-rata. Ia membelah jalanan Los Angeles yang sangat padat pada malam hari. Ia seperti orang kesetanan.


Wajah Aaron sudah memerah karena menahan amarah. Ia bersumpah, Calista akan menerima semua kemarahannya malam ini. Sudah cukup beberapa bulan ini Aaron menahan semuanya. Malam ini Calista akan menerima amarahnya.


Aaron sampai di mansionnya. Kedua tangannya mengepal, ia berjalan menuju kamar Calista.


"Berani-beraninya kau....." ucap Aaron menggantung.


Roh Aaron serasa diterbangkan ke angkasa. Semua amarahnya menguap begitu saja, tangannya melemas. Wajah itu begitu damai, nafasnya pun teratur. Calista tengah tertidur pulas dengan posisi telentang. Ia masih mengenakan dress dan juga make up nya belum terhapus.


Aaron tidak tau kemana seluruh kemarahannya tadi pergi. Hal itu terjadi begitu saja saat Ia melihat Calista yang tertidur pulas. Aaron pun mengurungkan niatnya, ia berbalik dan menuju ke kamarnya.


**To be continue.....


Note :


Hola Semuanya 🙏


Salam rindu, maaf dan terima kasih karena Disaster Love udah tembus 5k views 😭


Aku terharu dan tentunya seneng banget, ini cerita pertama aku yang sukses sampai chapter 17 dan bahkan sampai 5k viewers....


Ini semua berkat kalian semua, yang selalu setia support aku.


Terima kasih banyak, jangan lupa klik like dan comment yang bnyk 😂😂


Btw, ini chapternya pendek. Aku usahain buat update demi kalian 😘😘


Maaf kalo tidak sesuai harapan kalian, See You**!!