
Setelah kejadian di kamar itu. Calista merasa ada perasaan aneh yang merambat di hatinya. Ketika mengingat Aaron, perasaannya menghangat. Apalagi ketika Calista tau bahwa Aaron adalah orang yang romantis, yang pernah melamar dirinya saat acara wisuda. Calista tidak tau pasti yang ia rasakan sekarang, yang jelas di hatinya juga ada perasaan bersalah. Saat baby mulai mengidam tidak suka pada papanya sendiri.
Calista sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa mengidam demikian. Yang jelas baby nya tidak suka melihat wajah Aaron dan juga mencium wangi parfum Aaron.
Siang ini Calista tiba-tiba tidak nafsu makan. Semua makanan yang tersaji di meja nampak tidak menggoda. Calista mendengus, perutnya terasa lapar namun tidak ada satupun makanan yang ia inginkan kecuali
TIINN
TINN
"Pesanan anda telah datang, Nyonya" seorang pria dengan motor besar dan pakaian ala pengantar makanan sampai di depan pintu membawa beberapa kotak makanan. Jane membukakan pintu dan tersenyum, ia mengambil alih kotak makanan itu dan berterima kasih.
"Tunggu!!" teriak Calista dari ruang makan.
Calista berjalan mendekat, pria ini nampak tidak asing di matanya. Pria ini memakai helm dan masker di wajahnya, serta pakaian serba hitam yang sangat mirip dengan pengantar makanan salah satu restoran. Calista mengenali pria ini dari postur tubuhnya.
Jantung Aaron berdegup kencang saat Calista sudah di depannya. Ia datang ke mansion hanya untuk mengantar pesanan makanan yang dikatakan Jane ditelpon dan juga rela berpakain seperti ini agar Calista mau makan. Aaron menyamar menjadi tukang pengantar makanan agar Calista bisa makan makanan yang dia inginkan yaitu Ayam Betutu khas Bali yang direbus lama dengan api kecil bersamaan dengan berbagai rempah pilihan.
Proses perebusannya bisa memakan waktu sampai 6 jam, tergantung resep masing-masing. Untung saja di dekat perusahaan Aaron terdapat restaurant khas Bali yang memang khusus menjual makanan Bali.
Entah dorongan dari mana, Calista membuka helm pria itu. Mata mereka pun saling tatap. Calista sangat mengenali mata ini, hampir sama mirip dengan mata Tom (Areon versi Calista) tetapi hanya Aaron yang mempunyai mata seindah ini. Emosi Calista membuncah, matanya berbinar bahkan ia hampir menangis menatap mata Aaron.
Aaron yang menyadari Calista hampir menangis ingin pergi namun dicegah oleh Calista. Wanita hamil itu memeluk Aaron.
"Jangan pergi, baby nya memang benci wajahmu. Tapi aku rindu kamu Aaron." rengek Calista.
Calista menyadari sesuatu, saat ini Aaron tidak memakai parfum. Calista tersenyum, Aaron tau betul yang diinginkan baby nya. Aaron juga masih memakai masker, jadi hanya matanya saja yang bisa terlihat. Baby juga tidak masalah dengan itu.
Perut Calista berbunyi, ia sangat lapar. Calista melepas pelukannya, ia menatap Aaron seolah memohon untuk menemaninya makan. Jane mengerti dengan tatapan itu.
"Aaron, sebaiknya kau ikut makan. Kau pasti belum makan siang, bukan?" ucap Jane.
Aaron gelagapan, ia tidak ingin ada insiden tangisan dan teriakan ketika baby nya mulai bereaksi terhadap dirinya.
"Tidak usah, Aunty Jane. Aku sudahhh...."
Belum selesai dengan kalimatnya, Aaron sudah mendapat pelototan dari Jane. Sementara Calista sudah menatapnya dengan sendu.
"Maksudku, aku sudah merencanakan akan makan siang disini." lanjut Aaron terpaksa.
Calista tersenyum cerah. Mereka kemudian menuju ke meja makan dan menikmati makanan mereka masing-masing. Benar saja, setelah aroma ayam betutu itu tercium oleh Calista, nafsu makanannya jadi meningkat. Calista menyantap makanannya dengan lahap. Jane ataupun Aaron tidak berani menyentuh makanan itu, bisa-bisa Calista ikut memakan tangan mereka.
Setelah makan siang Aaron kembali ke perusahaannya. Dan setelah kejadian itu, Aaron selalu memakai masker jika ada di rumah. Aaron juga sudah kembali tidur di kamarnya bersama Calista.
Calista juga mulai menyiapkan pakaian Aaron setiap hari, memasak untuk suaminya. Keadaan Calista membaik dari hari ke hari. Ia masih sering mengidam tapi tidak terlalu ekstrem. Oleh karena itu, Jane memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia merasa sudah cukup lama tinggal di mansion Aaron, dan studionya juga sudah lama tidak terurus. Awalnya Calista menolak Jane yang ingin pergi, ia benar-benar tidak rela jika harus ditinggal wanita yang sudah ia anggap ibu. Namun, perlahan Jane membujuk dan memberikan pengertian Calista. Akhirnya dengan berat hati Calista mengizinkan Jane pergi.
Beberapa hari kemudian....
Aaron sedang berada di kamar mandi, sedangkan Calista tengah bersantai di balkon kamar. Ia sedang menikmati angin yang meniup rambut panjangnya.
Namun anehnya, Aaron sangat kesulitan memakai dasinya. Entah karena terburu-buru atau kenapa, yang jelas dasi yang ia buat selalu tidak sesuai dengan seleranya. Hingga akhirnya Aaron geram sendiri dan tidak sengaja menyenggol parfum di meja rias Calista. Parfum itupun pecah dan menimbulkan bunyi cukup keras.
"Matilah aku" batin Aaron.
Calista masuk karena mendengar bunyi pecahan kaca. Aaron segera berbalik bada agar Calista tidak melihat wajahnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Calista
"Yeah, Aku baik-baik saja. Aku hanya tidak sengaja menyenggolnya"
"Aku akan berangkat sekarang" tambah Aaron.
""Tunggu!" cegah Calista.
Aaron berhenti mendadak. Calista mendekat dan membalikkan badan Aaron.
"Apa kau akan berangkat dengan dasi seperti ini?" tanya Calista dan dengan telaten membenarkan dasi Aaron.
Aaron tercengang melihat sikap Calista. Apa wanita itu tidak benci melihat wajahnya? kenapa reaksinya biasa saja? Banyak pertanyaan yang timbul di benak Aaron tetapi ia hanya bungkam sambil menatap Calista yang sedang serius membuatkannya dasi. Mata Aaron tidak bisa lepas dari wanita ini, jarak mereka kini sangat dekat. Bahkan menempel satu sama lain.
"Selesai" ucap Calista sembari tersenyum.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Aaron balik
Pandangan Calista tidak sengaja bertemu dengan pandangan Aaron. Tatapan mereka terkunci, mereka sama-sama menatap dalam manik mata masing-masing. Selama beberapa saat mereka menikmati suasana itu, hingga salah satunya memutuskan kontak mata mereka.
Calista dan Aaron sama-sama terlihat canggung. Aaron segera melangkah pergi, namun lagi-lagi tertahan oleh suara Calista.
"Baby nya tidak marah melihatmu. Sepertinya dia mulai sayang dengan papanya" ungkap Calista lalu segera pergi ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan cukup keras.
Kata-kata Calista membuat Aaron tersenyum. Ada perasaan bahagia yang menggerogoti hatinya begitu mendengar baby mulai menyayanginya. Hatinya juga ikut menghangat. Aaron menggelengkan kepala lalu kembali melangkah pergi dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.
**To be continue.....
Calista Maylafaisha**
**Halo Semuanya!!
Merry Christmas :)
Berhubung masih hari natal, Calista sama Aaron rehat dulu nih saling nyakitinnya. Hehehe....
So, abis chapter ini masalah baru akan dimulai. Sabar yaa, author masih muter otak buat ngetik sama nyari feel yang enak buat part berikutnya.
Stay tune, jangan lupa terus dukung author supaya disaster love bisa tamat. Beri bintang cerita ini juga yaa 🙏💕**