
"Caly" ucap James lirih.
Pandangannya nanar menatap Calista yang terbaring lemah. James mengusap lembut kepala Calista. Wanita didepannya ini sangat ia sayangi, bahkan lebih dari dirinya sendiri.
"Dia akan segera sadar, kau harus bersabar. Kuatkan dirimu, ini sudah takdirnya." Terang Daniel. Dokter tampan yang merupakan sahabat James.
"Thanks, Daniel." jawab James seadanya. Pria berjas putih itu menepuk bahu James jantan, ia lalu melangkah keluar ruangan meninggalkan James bersama Calista.
James teringat kejadian tadi, saat di perusahaan Aaron. Karena terlalu syok, Calista sampai tidak sadarkan diri dalam tangisnya. James sangat panik saat itu, hidung Calista mengeluarkan darah segar. James takut, apa yang ia takutkan akan terjadi. Hatinya selalu was-was beberapa bulan ini. Dan sekarang semuanya jelas, Tuhan tidak adil terhadapnya. Lebih tepatnya Tuhan tidak adil pada Calista, wanita yang sangat Ia sayangi.
James beranjak dan melangkah keluar. James berjalan dengan jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya, batinnya tidak tenang, rasa takut menggerogoti hatinya. James menemui dokter Daniel di ruangannya.
"Apa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkannya?" ujar James tanpa basa basi.
"Sudah terlambat, James. Yang bisa kau lakukan saat ini adalah memastikan kondisinya tetap stabil, agar baby dan ibunya selamat setidaknya sampai melahirkan." jelas Dokter Daniel.
BRAAKK
James menggebrak meja dengan keras. Wajahnya pias, memerah dan terlihat frustasi. Ia marah, sedih, menyesal, semuanya bercampur aduk. James merosot dan terduduk di lantai.
"Aargghh... Sial, sial, sialll" teriak James frustasi. James meninju-ninju lantai dingin dan keras itu dengan sekuat tenaga dan membabi buta.
"Hentikan, James! Bodoh, Kau melukai dirimu sendiri." Dokter Daniel mendekat dan berusaha menghentikan James.
"Kau dokter, bukan? Lakukan sesuatu, Daniel!! Lakukan apa saja asal Calista bisa sembuh." ucapnya dalam. Dokter Daniel memandang lekat James, Ia tahu betul perasaan James sekarang. Sahabatnya itu pastilah sangat hancur dengan keadaan Calista.
Dokter Daniel menggeleng, tatapan James berubah sayu. Ia tau betul arti tindakan Dokter Daniel. James juga melepas tangannya dari kerah kemeja sahabatnya.
"Apakah sudah separah itu?" tanya James dengan pasrah dan tidak bertenaga.
"Berdoalah pada-Nya. Hanya Beliaulah pengabul segala doa." Mendengar jawaban Dokter Daniel, James berbalik dan melangkah keluar ruangan Dokter Daniel dengan lemah. Tenaganya hilang entah kemana, ia bahkan tidak bisa memandang Calista sekarang. Ia takut, sangat takut untuk membayangkan wanita yang sangat Ia sayangi pergi. James takut yang ia takutkan selama ini terjadi.
James berdiri di depan ruangan Calista, tepat di depan pintu yg bagian atasnya terbuat dari kaca. James memandangi Calista yang terbaring lemah. Tangannya mengepal, setetes air matanya mengalir tanpa izin. Hati James seakan teriris mendapatkan fakta menyakitkan itu.
________________
Aaron membilas wajahnya dengan air. Ia menatap dirinya dicermin. Benar-benar menjijikkan, ia benci memandang wajahnya sendiri.
Cuiihhh
"Sampai kapan ini berlanjut" bisik Aaron dalam hati.
Aaron semakin terjerumus ke jurang yang dalam. Ia dijerumuskan oleh permainan wanita jalan itu, mau tidak mau ia harus mengikuti permainannya. Jika tidak, perusahaannya akan hancur. Semua hasil jerih payahnya akan hilang. Saat ini hanya satu hal yang Aaron takutkan, suatu perasaan aneh yang mulai hinggap dihatinya. Perasaan yang entah sejak kapan mulai ada. Yaa, kepada wanita cantik yang hampir setiap hari ia jumpai. Calista.
To be continue.......