
Calista menatap nanar langit-langit kamarnya. Matanya membengkak karena terus menerus menangis. Ia masih pada posisi yang sama, posisi dimana Aaron menyetubuhinya dengan paksa.
Seluruh tubuh Calista berdenyut sakit, terutama area kewanitaannya yang terasa sangat perih. Ini sudah yang kedua kalinya Aaron menyetubuhinya dengan paksa dan tanpa alasan yang jelas. Amarah yang tersirat pada mata Aaron, sikap kasarnya, kekerasan yang dilakukan, semuanya berputar di kepala Calista. Tangan Calista bahkan bergetar.
Calista tidak mampu bergerak, tenaganya telah habis. Tubuhnya berdenyut sakit. Air mata Calista kembali meluruh.
"Kenapa kau melakukannya, Aaron? Kenapa?"
"It hurts" gumam Calista. Dadanya sesak, menarik nafas pun terasa sulit bagi Calista.
Hari sudah menunjukkan pukul 11.16 siang. Calista masih diposisi yang sama, namun kerongkongannya sangat kering. Calista begitu haus, ia ingin meraih air minum di nakas namun tangannya tidak sampai. Calista susah payah mencoba meraih gelas itu, sedikit lagi ketika Ia hampir meraihnya gelas itu malah jatuh dan pecah.
Sarah, pembantu di rumah Aaron dengan tergesa masuk ke kamar Calista. Ia terkejut mendapati Calista yg berbaring dengan tanpa sehelai benang pun. Banyak memar juga bekas kemerahan di tubuh majikannya, Sarah mengerti yang telah terjadi. Ia juga melihat sisa air mata di wajah Calista. Hati Sarah terenyuh melihat kondisi Calista. Ia segera membantu Calista berbaring dengan posisi lebih baik.
Air nata Sarah hampir menetes, ia tidak tega melihat kondisi Calista.
"Apa yang Non butuhkan?" tanya Sarah lembut sambil tersenyum.
Calista melirik Sarah sekilas lalu menunjuk gelas yang pecah. Tenggorokannya terlalu kering untuk berbicara. Sarah mengangguk mengerti dan segera mengambil air. Sarah kembali dengan membawa air putih juga air hangat dan salep.
Calista meneguk air hingga tandas. Sarah tersenyum, ia berani masuk ke kamar Calista karena Aaron telah pergi dengan mobilnya. majikannya berpakaian rapi dan nampak akan pergi ke kantor. Dari raut muka majikannya itu, Sarah tau bahwa ada yang tidak beres terjadi pada Calista. Dan tebakannya benar.
Sarah menarik selimut Calista. "Bibi akan mengobatimu" ucap Sarah lembut.
Sarah menggunakan air hangat agar kemerahan di bagian dada dan leher Calista cepat membaik. Ketika air hangat itu menyentuh kulitnya yang memar Calista memejamkan mata, rasanya sakit. Sarah melakukannya dengan sangat hati-hati, ia meringis hingga tidak sengaja air matanya ikut meluruh. Sarah lalu mengoleskan salep pada kulit Calista.
Mereka berdua bungkam. Calista hanya diam sembari sesekali meringis ketika Sarah mengobati lukanya. Bekas yang ditinggalkan Aaron pada tubuhnya akan hilang sembari berjalannya waktu. Namun luka di hatinya tidak akan semudah itu sembuh, Aaron menambahkan luka lagi lagi.
"Non, apa non Calista lapar?" tanya Sarah
Calista menggeleng lemah, pikirannya kosong. Ia bahkan tidak tau apa yang dia inginkan sekarang. Sarah mengangguk dan hendak bangkit, namun perut Calista berbunyi.
Sarah menatap Calista dan tersenyum. "Bibi akan mengambilkan makanan"
Calista menatap kepergian Sarah, Ia memegang perutnya. Beberapa saat kemudian Sarah datang dengan nampan berisi makanan. Sarah membantu Calista untuk duduk bersandar di ranjang. Perlahan Sarah menyuapi Calista hingga makanan yg dibawanya habis tak tersisa.
Sarah tersenyum dan menghapus air matanya yang tanpa izin mengalir dari matanya.
Calista hanya mampu mengangguk menanggapi ucapan Sarah. Ia menatap lurus, ingatan tadi pagi kembali muncul. Calista menutup mata, tangannya kembali bergetar.
Calista kembali pada posisi berbaring. Ia menangis dalam diam, ia meringkuk memeluk tubuh lemahnya. Calista perlahan kembali tertidur.
Calista terbangun saat hari sudah mulai gelap. Sekuat tenaga ia mencoba bangun dan membersihkan diri. Calista berendam dalam air hangat selama 20 menit. Sesungguhnya luka memar di tubuhnya terasa sakit ketika tubuhnya menyentuh air hangat. Calista menahannya sekuat tenaga, ia hanya mencoba menahan sesak di dadanya dan bernafas dengan normal.
Sudah cukup ia menangis. Calista harus bangkit. Setelah membersihkan diri Calista duduk di tepi ranjang dengan pakaian tidurnya, ia masih terlalu lemah untuk keluar kamar. Apalagi jika nanti dik luar ada Aaron, sungguh Calista belum siap bertemu suaminya.
Sesaat kemudian Sarah masuk ke kamar dengan membawa makanan. Calista tersenyum, ia menatap nanar Sarah lalu memeluknya. Sarah terkejut, untung saja makanan itu sudah ia letakkan di nakas. Setelah adegan pelukan itu, Calista makan ditemani Sarah. Setelah makan Calista kembali beristirahat.
Aaron baru kembali ke rumah saat hampir tengah malam. Ia kembali dalam keadaan mabuk. Ia berjalan sempoyongan, dan baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama Aaron berbalik. Ia teringat Calista. Aaron berjalan ke kamar Calista, ketika pintu terbuka samar-samar ia melihat Calista telah tertidur.
Aaron mendekat, ia menatap wajah lelah Calista.
"Aku membencimu" ucap Aaron tepat di depan wajah Calista.
Aaron menatap tajam wajah cantik itu, cukup lama. Ketika Aaron hendak menjauhkan wajahnya dari wajah Calista, ia malah hilang kesadaran. Ia terjatuh di tempat tidur Calista, tepat di samping istrinya itu. Aaron yang sudah tidak kuat akhirnya terlelap disana.
Kedua insan itu sama-sama terlelap setelah melewati hari yang melelahkan.
**To be continue....
Aaron Gavrilo**
**Aaron sudah dalam tahap dimana menyakiti Calista juga membuat ia tersakiti.
Terimakasih yang selalu setia nunggu Disaster Love. See you next part!!
Love You Readers 😘**