
15 tahun lalu......
"*Mama, Papa. Calista takut" ungkap gadis kecil yg sedang menangis dipeluk sang ibu.
"Ssstttt... Sayang, everything is gonna be okay. Kalau kau takut, pejamkan matamu, tutup telingamu" Sang ibu mencium puncak kepala putrinya. Ia memeluk sang putri erat.
Di kamar itu ada 4 orang yg sedang bersembunyi. Sepasang suami istri dan dua orang anak perempuannya. Mereka semua gemetar ketakutan, namun sang ayah mencoba memberi rasa aman pada keluarganya. Di luar sana terjadi keributan, terdengar teriakan dan suara barang jatuh. Bahkan sesekali terdengar suara tembakan.
Ketika suara tembakan terdengar si bungsu makin mengeratkan pelukannya ke sang ibu. Ia menangis ketakutan. Sang kakak berada di dekapan sang ayah.
"Buka pintunya!! Bukaa!!"
Pintu kamar digedor dengan keras. Keluarga kecil itu nampak saling pandang.
"Calia, kamu sama Mama yaa..." ucap sang ayah sambil mencium puncak kepala putri sulungnya.
"Buka pintunya atau aku dobrak!!" teriak pria dari luar.
Sang ayah mendekati pintu sambil mengeluarkan sebuah pistol. Sang ibu memeluk kedua putrinya. Suasana sangat mencekam, di luar sedang hujan deras dan sesekali petir menggelegar.
Sementara pintu berusaha didobrak, sang ibu menyuruh putri-putrinya bersembunyi di lemari.
"Sayang, apapun yang terjadi, apapun yg kalian dengar, jangan pernah keluar dari sini, mengerti?"
"Mama, Calista takut" si bungsu menangis menatap sang ibu.
"Calia, jaga adikmu. Ingat pesan mama, jangan pernah keluar apapun yg terjadi. Kami sayang kalian"
"Semuanya akan baik-baik saja" lanjut sang ibu sambil tersenyum. Sang ibu memberikan sebuah pistol pada Calia. Tangan Calia gemetar memegang benda tersebut. Ia hanya gadis yang baru beranjak remaja, Ia juga sangat takut.
"Bawalah Sayang, jika terjadi sesuatu dengan kami, lindungi adikmu" Calia menatap sang ibu. Ia menelan saliva dengan susah payah.
Calia mengangguk paksa. Sang ibu mengelus kepala kedua putrinya, Ia tersenyum dan segera menutup pintu lemari tersebut.
Sang ibu menatap suaminya. Mereka kini sama-sama memegang pistol. Degupan jantungnya tak karuan, kaki dan tangannya sebenarnya gemetar, namun berusaha ia singkirkan. Mereka harus melindungi anak-anak sampai polisi datang.
"Crystal, bersembunyilah!" suruh sang suami.
"No, aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian"
"Bersembunyilah demi aku dan anak-anak, kumohon" kata sang suami lagi.
Crystal tetap menggeleng. Ia tidak bisa membiarkan Chris sendirian menghadapi mereka.
Pintu semakin gencar didobrak. Pasangan suami istri itu saling pandang. Mereka memberi sinyal masing-masing.
"Bersiaplah" kata Chris.
DORR
Lubang kunci ditembak. Dengan sekali dobrak, pintu terbuka. Chris menarik Crystal ke belakang tubuhnya. Beberapa pria berbaju hitam masuk dengan pistol masing-masing.
"Kalian tidak bisa lari lagi, hahahaha" tawa itu menggelegar di kamar yang terasa memiliki aura sangat mencekam. Chris dan Crystal hanya saling mengeratkan genggaman. Mencoba menyalurkan rasa saling menguatkan satu sama lain.
Pria yang berada paling depan maju selangkah. Ia berpakaian sangat rapi dengan jas yang melekat indah di tubuhnya. Senyum sinis mengembang di wajahnya.
"Kalian berani mengkhianati kami, inilah balasannya. Aku akan mengirimmu ke neraka, tempat para penipu seperti kalian berkumpul dan disiksa" Pria itu mengeluarkan senjata.
"Kita lihat, siapa yang akan lebih dulu pergi ke neraka. Kau atau aku" ucap Chris dingin.
PLAKK
Pria itu menendang pistol yang dipegang Chris. Pistol tersebut melayang dan jatuh ke depan salah satu pria berbaju hitam. Pria itu tersenyum puas. Kini hanya dia yang memegang pistol. Mata Chris melotot sempurna, Ia tidak membawa senjata sekarang.
"Kau hanya berurusan denganku, bukan dengan keluargaku. Jangan sentuh mereka, bunuh saja aku" ucap Chris.
"Kau dan keluargamu akan bersama-sama ke neraka. Kesalahanmu juga kesalahan mereka" pria itu kembali menodongkan senjata ke Chris
"Aku akan memberikan semuanya kepadamu, tapi tolong lepaskan mereka" Chris sedikit berteriak.
Pria itu tertawa "Aku tidak membutuhkan sumbanganmu, aku tidak sudi" pria itu berdecih. Senyumannya makin mengembang.
"Selamat tinggal!"
DORR
DORR
"Chrissss" Crystal berteriak sambil memegangi tubuh suaminya yg tumbang. Pria itu menembak Chris dua kali dan mengenai dada kiri Chris.
Pria itu tertawa mengerikan. Anak buahnya juga ikut tertawa. Crystal menangis dan memanggil-manggil Chris. Mata indah Chris telah terpejam. Crystal mengepalkan tangannya. Ia mengambil pistol yang dimasukkan ke sakunya.
Sementara di lemari kedua gadis belia nampak saling memeluk. Tubuh mereka gemetaran dan mereka menangis dalam diam. Calia memeluk erat adiknya, suara tembakan itu terdengar jelas di telinganya. Suara tangis ibunya, dan teriakan ayahnya juga Ia dengar. Calia menangis daritadi sambil sesekali melirik pistol di tangannya.
Calia menyadari suhu tubuh adiknya yang meningkat. Adiknya begitun ketakutan, apalagi ketika mendengar suara pistol dan tangisan ibunya.
DOOR
Suara tembakan kembali terdengar. Tubuh Calista kembali terlojak kaget. Calia semakin erat memeluk adiknya.
"Aarrghh"
Crystal menembak pria itu dengan pistolnya ketika Ia lengah. Peluru itu mengenai dada kirinya. Pria itu meringis memegangi dadanya.
"Kau!!"
DORR
Kali ini peluru mendarat di tubuh Crystal. Pria itu menembak tepat sebelum dirinya terjatuh.
Air mata Crystal meluruh. Dadanya terasa perih, nafasnya sesak. Pikirannya melayang kepada kedua putrinya. Tubuhnya lemah, Crystal pun tumbang. Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, dipandangnya sang suami. Crystal merah tangan sang suami dan tersenyum. Diakhir nafasnya, sang suami yang begitu Ia cintai berada di depannya. Crystal berdoa, semoga Tuhan selalu menjadi kedua putrinya*.
To be continue.....
Note:
Masa lalu yang buat Calista trauma liat pistol. Just for my lovely readers 😘😘
Aku nepatin janji yaa :')
Stay Tune!!
Jangan lupa like and comment.
Terimakasih semua :)