Disaster Love

Disaster Love
BERPIKIR POSITIF 11



Calista menggigil kedinginan di bawah guyuran air. Ia telah berada disana selama 1 jam. Wajahnya pucat, bibirnya memutih dan seluruh tubuhnya terasa kaku untuk berdiri.


Calista berhenti menangis. Kewarasannya telah kembali, Ia tidak mau mati konyol ditempat itu. Oleh karena itu, Calista meraih shower dan mematikan airnya. Calista berdiri dengan susah payah. Seluruh tubuhnya terasa kesemutan, terutama tangan dan kaki.


Kulitnya keriput, kepalanya juga berdenyut sakit. Perlahan Calista menuju ke tempat tidur dan membaringkan tubuh lemahnya. Ia meringkuk sambil memeluk dirinya sendiri. Bibirnya tidak berhenti bergetar, walaupun sudah di dalam selimut hawa dingin masih terasa di kulitnya. Calista memejamkan Mata, berharap perlahan semua rasa sakitnya akan menghilang ditelan kegelapan.


Keesokan paginya....


"Selamat pagi, Nyonya. Waktunya sarapan" seorang pelayan berumur 40 tahunan, masuk ke kamar Calista.


Menyadari tidak ada respon dari Calista. Wanita paruh baya itu mendekat untuk mengecek keadaan majikannya. Calista masih dalam posisi yang sama dari kemarin malam.


Wanita bernama Sarah itu menyingkap selimut. Ia terkejut menemukan Calista yang menggigil dalam keadaan terpejam. Wajah Calista sangat pucat. Sarah mengecek suhu tubuh Calista. Ia segera menelpon dokter, Ia mencoba memberitahu Aaron namun ponselnya tidak dapat dihubungi.


Tubuhnya Calista sangat panas. Sarah meletakkan nampan yang berisi sarapan di nakas. Ia keluar dan mengambil handuk serta air hangat untuk mengompres Calista.


Sarah takut jika tuannya mengetahui keadaan Calista. Aaron bisa marah besar bahkan memecatnya. Sarah berharap dokter segera datang sebelum tuannya datang. Semoga saja.


Sarah menyadari Calista yang tidak memakai pakaian apapun. Sarah memakaikan Calista pakaian seadanya yang ada dalam lemari dengan susah payah.


Pintu diketok beberapa kali. Seorang dokter muda datang dan segera memeriksa keadaan Calista.


"Apa yang terjadi padanya, Dok?"


"Dia demam tinggi, dan darj tanda di tubuhnya sepertinya dia mengalami malam yang sulit."


Sarah memandang bagian leher majikannya. Banyak sekali tanda merah kebiruan yang terlihat sangat mengerikan.


"Kau harus membuat demamnya turun. Jika kondisinya tidak kunjung membaik, beritahu aku" Dokter muda itu memberikan resep dan segera pergi.


Sarah merawat Calista dengan sepenuh hati. menjelang siang akhirnya deman Calista menurun. Kondisi Calista juga berangsur-angsur membaik.


Calista membuka mata. Calista mengerjap, penglihatannya masih berkunang-kunang. Calista mencoba bangun tetapi kepalanya berdenyut.


"Aaahh" erang Calista


"Nyonya, berbaringlah. Tubuhmu masih sangat lemah"


Calista akhirnya menurut dan kembali berbaring. "kau siapa?"


"Aku adalah pelayan disini, namaku Sarah." ujar wanita paruh baya itu sambil tersenyum sopan.


"Terimakasih, jangan panggil aku nyonya, panggil saja Calista" ucap Calista lemah


Sarah mengiyakan ucapan majikannya. Setelahnya Sarah memaksa Calista makan, walau hanya beberapa suap namun setidaknya perut Calista terisi. Sarah juga memberi obat dari resep dokter muda tadi.


Selama sehari penuh Calista hanya berbaring di tempat tidur. Ia hanya bangun untuk ke kamar mandi. Makan pun Calista di tempat tidur. Sementara itu, tidak ada kabar sama sekali dari Aaron. Calista dibuat pusing tujuh keliling oleh suaminya. Perbuatan Aaron yang berubah 180° membuat Calista bertanya-tanya, mungkinkah sifat Aaron berubah karena kesalahannya?


Beberapa kali bahkan Calista menangis tanpa sadar. Ia teringat perbuatan Aaron. Calista juga merindukan Jane. Wanita yg sudah seperti ibu bagi Calista. Disaat seperti ini, saat Calista masih remaja, Jane yang akan menenangkannya, memberinya nasehat dan menghilangkan setengah bebannya.


Calista akan mengunjungi Jane. Dan tentang Aaron, lebih baik Calista tidak bertemu dengannya untuk beberapa saat.


Calista benar-benar mengunjungi Jane setelah Ia pulih keesokan paginya. Calista diantar supir Aaron, itupun akibat paksaan dari Sarah. Calista hanya menurut daripada Ia tidak diizinkan pergi menemui Jane.


Calista bercerita tentang perubahan sikap Aaron. Tetapi tentu saja minus perbuatan Aaron pada saat malam pertama, biarlah hal itu Ia simpan sendiri, Ia tidak mau menambah beban Jane.


"Jika kalian ada masalah segera bicarakan, minta maaf kepadanya. Mungkin kau melakukan kesalahan tanpa disengaja, sayang" Jane mengelus rambut Calista dengan lembut. Saat ini Calista tengah memeluk dirinya posesif.


"Aku tidak tau kesalahanku, dia tidak bicara apapun"


"Ini hanya masalah kecil Calista. Jangan biarkan masalah ini menghancurkan hubunganmu dengan suamimu. Temui dia dan minta maaf, tidak peduli apapun kesalahanmu. Sebagai seorang istri kau harus mempertahankan rumah tanggamu. jawab Jane panjang lebar.


Calista berada di rumah Jane hingga petang. Jane membuat rasa kesal dan marah Calista pada Aaron menguap. Calista bahkan bertekad untuk membuat hubungannya dengan Aaron kembali membaik. Calista kembali ke mansion Aaron dengan semangat, Ia sudah sangat merindukan suaminya.


Ketika sampai di mansion Aaron, Calista baru menyadari Mansion itu sangat luas dan megah.



Calista mengagumi bagian dalam dari rumah itu. Ia terperangah sampai tidak mendengar Sarah yang menyapa dirinya.


Sarah dan beberapa pelayan lain tertawa melihat majikannya yang baru turun dan mobil. Calista tersadar dan menanyakan kenapa mereka tertawa, beberapa pelayan itu hanya menggeleng dan segera pamit.


Calista acuh, Ia bertanya pada Sarah tentang keberadaan Aaron. Namun Sarah hanya menggeleng, tidak ada satu orangpun yang tau keberadaan Aaron di rumah itu.


Calista menghembuskan nafas kasar. Semangatnya luntur seketika. Aaron tidak pulang selama 2 hari, Ia pergi sejak malam itu. Calista memutuskan kembali ke kamar, Ia menyadari itu bukan kamar Aaron. Calista bertanya pada pelayan dan mereka mengatakan bahwa kamar Aaron ada di lantai dua.


Calista naik ke lantai dua. Ia menemukan kamar itu. Calista yakin kamar itu adalah kamar Aaron. Calista membuka perlahan pintu kamar itu, Ia akan masuk tapi tangan satunya dicekal dan ditarim seseorang.


Calista menabrak dada bidang seseorang. "berani-beraninya kau masuk ke kamarku!" geram Aaron pada Calista.


Calista bukannya takut malah senang, Ia akhirnya bertemu dengan suaminya. Calista bahkan tersenyum manis pada Aaron, tersirat kerinduan pada mata Calista ketika menatap Aaron.


Aaron sedikit tersentak akan reaksi Calista. "Aaron, kau darimana saja? aku...." belum selesai Calista berbicara, Aaron telah menempelkan tubuh Calista ke dinding.


Aaron menatap Calista tajam. "Bukan urusanmu. Dengar, jangan coba-coba masuk ke kamarku atau kau akan menerima akibatnya."


Aaron melepaskan Calista dan masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu dan meninggalkan Calista yang diam seribu bahasa. Senyum Calista luntur, sikap Aaron malah semakin menjadi. Seberapa besarkah kesalahannya?


Calista memandang pintu kamar Aaron dengan lesu. Hati berdenyut sakit oleh sikap Aaron. Baru saja Calista ingin memperbaiki hubungan mereka, Aaron telah menghancurkan rencananya.


**To be continue.......


Maafkan aku jika tulisan aku jelek yaa :'(


Maklum, ini adalah story pertama aku jadi masih perlu banyak belajar.


Dan juga Terimakasih banyak bagi readers yang selalu support aku 😭😘


Love you guys


Minggu ini aku masih ada Penilaian akhir semester, jadi chapter ini aku tulis cuma buat kalian yang setia dukung aku.


Jangan bosen yaa dama Disaster Love :)


Next aku janji bakal buat chapter yang lebih seru, Stay Tune**!!