
Aaron POV (Point Of View)
Aku menatap wanita itu. Wanita yang kini telah sah menjadi istriku. Dia berbaring di depanku. Setelah tadi dikejutkan dengan Areon yang ternyata adalah adikku, dia pingsan. Dia terlihat begitu terkejut. Bagaimana tidak, pasalnya Areon adalah lelaki yang selama ini dia takuti setelah kejadian di perpustakaan universitasnya beberapa waktu lalu.
Aku mengernyitkan dahi ketika Calista dari tadi terlihat tidak tenang dalam pingsannya. Alisnya terpecuk, keringat dingin bercucuran di wajahnya. Dia juga menggumam yang tidak begitu jelas aku dengar.
Tidak lama nafasnya juga ikut tidak teratur. Nafasnya makin cepat, dia terus saja menggumamkan kata 'tidak'.
Tingkah lakunya mempengaruhiku. Aku ingin beranjak dan meninggalkannya, tetapi tangan Calista menahan tanganku. Aku berbalik dan menatapnya, ternyata dia masih belum sadar.
"Maa..... Paa...." gumam Calista
Aku sedikit terganggu dengan tangan yang menahanku. Aku ingin menghempaskan tangan itu, tapi...
"Jangan tinggalin Calista" gumam Calista lagi.
Aku tertegun melihat air mata yang meluruh dari matanya. Ia menangis dalam pingsannya. Rasa aneh terbersit di hatiku. Entah mengapa aku tidak tega menghempaskan tangannya. Emosiku kacau melihat air mata itu.
"Aaarrggghh, apa yang terjadi padaku" geramku dalam hati.
Setelah cukup lama terdiam, dia akhirnya melepas tanganku. Dia kembali pada ekspresi awalnya. Wajahnya sangat damai saat pingsan. Bibir itu juga, aku masih mengingat rasa yang begitu manis saat mencecap bibir tipis itu.
Ohh sh*t sadarlah Aaron. Kau sudah gila. Aku pun melangkah pergi dari kamar itu. Seharusnya aku membenci wanita itu. Seharusnya aku tidak membiarkannya pingsan dengan tenang, tetapi entahlah ketika melihat wajahnya tadi pikiranku kacau. Semua hal yang ingin kulakukan tiba-tiba menghilang.
Ketika sampai di luar aku mengacak rambutku frustasi. Areon tersenyum sinis di samping pintu. Dengan wajah menyebalkan itu aku ingin menonjok wajahnya, namun sayang dia adikku. Aku hanya harus sedikit menahannya.
"Tidak jagi huh? Apa yang kau lakukan di dalam? Mengelus rambutnya? Menciumnya? Cuihh" kata Areon dengan senyuman sinis sambil menatapku.
Jika saja dia bukan adik kandungku, aku sudah menghabisinya.
"Semua ada waktu dan tempatnya. Aku tidak akan ceroboh dalam bertindak sepertimu" kataku.
Dia tertawa sumbang. "Bilang saja kau tidak tega melukainya."
"Kalau kau tidak mampu melakukannya, biar aku saja" lanjut Areon sambil menatap mataku.
Dia memang tidak sabaran. Seperti beberapa waktu lalu di perpustakaan universitas Calista. Hampir saja dia mengacaukan rencanaku. Untung saja aku dapat mencegahnya tepat waktu. Setelah aku memukulnya habis-habisan waktu itu, Areon menjadi dingin padaku. Dia sangat marah pada perbuatanku padanya.
"Dia milikku, aku yang akan melakukannya. Kau sama sekali tidak berhak."
"Aku akan memberikannya padamu di saat yang tepat" kataku dingin. Aku juga menatap matanya dalam.
Dia berdecih dan melenggang pergi. "Aku akan kembali. Awas saja kau tidak melakukannya, aku berjanji akan melakukan hal yang tidak akan pernah kau pikirkan."
Aku mengepalkan tangan ketika kejadian di masa lalu kembali berputar di kepalaku. Ketika kedua orang tuaku pergi. Ketika tubub mereka bersimbah darah dan terbujur kaku. Amarahku memuncak.
"Siaall!! Kau akan menerima akibatnya, aku akan menghancurkanmu gadis kecil. Sama seperti kau menghancurkan kami dulu."
Aku memukul guci di sebelahku hingga pecah. Tetesan darah mengalir dari tanganku. Aku tidak peduli, rasa sakit ketika kehilangan kedua orang tua jauh lebih menyakitkan ketimbang rasa sakit ini.
Beberapa pelayan menghampiriku. Mereka terkejut dan ingin mengobati luka di tanganku. Tapi aku tidak menghiraukan mereka, aku pergi ke ruang kerjaku dan duduk di bar mini disana. Ruang kerja ini memang aku design sendiri, selama 10 tahun aku tidak pernah lepas dari minuman. Mereka yang selalu menemaniku disaat aku terpuruk.
Aku membuka salah satu minuman kesukaanku. Aku menyesapnya langsung dari botol. Cairan itu terasa membakar kerongkonganku, tetapi entah mengapa rasanya nikmat. Membuatku ingin lagi dan lagu, tidak peduli tanganku yang masih mengeluarkan darah.
Aku menatap tajam ke jendela. Amarahku masih belum padam. Pikiranku kembali pada masa lalu kelam itu.
Dimana ketika kedua orang tuaku meninggalkan kami bertiga bersamaan. Mereka pergi dan perusahaannya hancur, serta seluruh harta yang kami miliki diambil alih orang lain. Saat itu, semua media memberitakan bahwa ayahku adalah orang yang licik, dia juga melakukan beberapa kejahatan dibalik kesuksesannya sebagai pengusaha. Itu semua terbongkar saat dia telah tiada. Aku dan adik"ku dipandang rendah dimanapun kami berada, orang-orang memandang benci ke arah kami.
Kami tidak punya siapapun. Dan semua orang membuang kami. Dilecehkan, dipukuli, dan dipandang rendah. Aku membenci semuanya. Masa lalu itu selalu menghantuiku setiap malam. Aku selalu bersumpah pada orang yang membunuh kedua orang tuaku, andai saja mereka masih hidup. Aku dan adik"ku tidak akan mendapat perlakuan yang tidak pantas.
Aku membanting botol minuman yang ku pegang. Nafasku memburu, air mataku meluruh begitu saja.
Adik-adikku melalui telah masa-masa yang buruk karena dia. Aku bersumpah akan menghamcurkan hidupu. Aku bersumpah akan membuatnya merasakan semua yang aku dan adikku rasakan dulu.
"Bersiaplah Calista! Ini semua baru saja akan dimulai. Selamat datanh di neraka" ucapku sambil memandang foto Calista yang sedang tersenyum.
Aku memandang satu per satu foto itu. Kebahagiaan itu akan berubah menjadi penderitaan. Aku akan mengikatmu bersamaan dengan penderitaan yang kau rasakan. Kau akan merasakan sakit namun tidak bisa pergi. Bersiaplah
To be continue......
**Bonus!!
Orang bilang antara benci dan cinta itu beda tipis. So, jangan terlalu membenci lawan jenis, karena Tuhan Maha Adil, Beliau dapat membolak-balikkan hati dan perasaan seseorang dengan mudah.
Jangan lupa dukung terus 'Disaster Love' supaya impianku di tahun 2020 bisa tercapai. Yaitu Disaster Love bisa tamat, dan memuaskan para pembaca 😍😍
Thank You So Much Guys!
Semoga cerita ini kedepannnya bisa memuaskan!
See You Next!
*Tinggalkan jejak di comment nyaa*** ;)