
Author POV (Point Of View)
Sementara di kamar Calista. Ia kembali berkeringat dingin. Matanya masih terpejam namun ia menggeleng ke kanan dan ke kiri. Wajahnya menyiratkan rasa takut. Calista *** seprai dengan kuat. Nafasnya juga memburu. Calista semakin gelisah.
"Kakaaaak"
Calista berteriak dan langsung terduduk. Ia melihat sekeliling, ternyata Ia berada di kamarnya. Ia melirik nakas dan mengambil yang gelas berisi air. Calista meneguknya hingga tandas.
Calista menarik nafas dalam. Ia memejamkan mata dan menangkupkan tangan. Ia berdoa
"Aku harap kakak tenang disana. Aku selalu merindukan mu kak" tanpa disengaja air mata Calista menetes. Kakak yang paling ia sayangi juga pergi meninggalkan dirinya. Calia telah tiada karena sebuah kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu. Menyisakan dirinya yang sebatang kara.
Calista membuka mata. Ia teringat kejadian sebelum Ia pingsan. Calista segera beranjak dari tempat tidur, bergegas membersihkan diri lalu pergi menemui Aaron.
Sampai di depan ruang kerja Aaron, Calista diam sejenak. Ia tau, menemui Aaron hanya akan membuat hatinya sakit. Tetapi Calista harus meminta penjelasan Aaron tentang Areon. Calista mengetuk pintu ruang kerja Aaron. Namun tidak ada jawaban. Calista kembali mengetuk pintu, hasilnya sama. Akhirnya Calista memberanikan diri membuka pintu itu. Ruangan itu nampak gelap dan sunyi.
Calista menghidupkan lampu. Ia terkejut mendapati kekacauan disana. Pecahan beling berserakan, bau minuman beralkohol yang begitu menyengat dan yang paling parah adalah Aaron. Suaminya itu tertidur dalam posisi duduk bersandar di bar mini. Tangannya mengeluarkan darah dan penampilan begitu berantakan.
Calista beranjak mengambil P3K. Dengan telatan Ia mengobati luka di tangan suaminya, Calista bahkan meringis melihat luka itu. Memang suaminya yg terluka, namun Ia yang merasakan sakitnya. Setelah selesai diperban, Calista memandang wajah Aaron yang damai saat tidur. Wajah itu begitu tampan dengan alis yang sempurna, bibir tipis juga hidung mancung. Sungguh ciptaan Tuhan yang tiada duanya.
Calista tersenyum kecil, tangannya menggapai wajah suaminya.
"Kau sangat tampan. Tapi aku tidak mengerti, apa yang membuatmu berubah? Kau tau, aku sangat mencintaimu" ucap Calista sambil merapikan anak rambut Aaron dengan lembut.
Calista segera menghapus air matanya yg mengalir. Belakangan ini ia sangat cengeng. Calista memanggil beberapa pelayan dan penjaga untuk memindahkan Aaron ke kamarnya juga membersihkan segala kekacauan di ruangan itu.
Hari sudah malam, Calista mengurungkan niatnya untuk meminta penjelasan kepada Aaron.
Keesokan harinya...
Aaron memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Yang terakhir diingatnya adalah kemarin Ia berada di ruang kerjanya, namun sekarang ia berada di kamarnya. Inilah yang akan terjadi bila ia mabuk, kepalanya akan berdenyut sakit setelah ia sadar keesokan harinya.
KRING
KRING
Dering ponsel Aaron berbunyi. Aaron mengangkat panggilan itu dengan sedikit meringis.
Setelah beberapa menit berbincang, Aaron membanting smartphonenya ke tempat tidur. Aaron mengacak rambut frustasi. Itu adalah salah satu investor penting di perusahaannya. Dia mengetahui Aaron telah menikah dan mengajak Aaron serta istrinya makan malam. Aaron tidak bisa menolak, bisa saja investor itu kesal dan tidak mau lagi menanam modal di perusahaannya. Jadi, mau tidak mau Aaron harus mengiyakan ajakan tersebut.
Aaron bangkit untuk membersihkan diri, namun sakit di pinggang bagian belakangnya kembali terasa. Aaron mengetatkan rahang, sakit itu kambuh di saat yang tidak tepat.
"Aarrghh, sial!!" geram Aaron.
Sakit itu akan hilang dalam beberapa saat, itulah mengapa Aaron tidak ambil pusing akan rasa sakit itu.
Sampai di meja makan, sarapan telah tersaji dan mengeluarkan aroma yang sangat nikmat. Sehingga dapat menggoda siapa saja untuk menyantapnya. Tanpa ambil pusing Aaron yang telah siap dengan pakaian kerja langsung melahap makanan yang tersedia. Ia terlalu pusing memikirkan acara makan malam itu, sehingga melupakan bahwa makanan itu dimasak oleh istrinya.
Calista tersenyum lebar melihat Aaron menyantap masakannya tanpa babibu. Hatinya sangat senang, Calista bahkan tidak henti-hentinya menatap Aaron yang sangat lahap makan. Selama 7 menit pandangan Calista tidak beralih dari Aaron. Suaminya itu juga sedang sibuk dengan pikirannya hingga tidak menyadari dirinya yang terus-terusan dipandangi.
Aaron bangkit dan pergi dari meja makan. Calista terkejut dan segera mengalihkan pandangan dari suaminya. Calista ingin bangkit namun Aaron lebih dulu bersuara.
"Bersiaplah, aku akan menjemputmu saat jam makan malam. Aku benci menunggu" ucap Aaron datar.
Mata Calista melotot, otaknya terlalu sibuk mencerna ucapan suaminya. Mulutnya pun kaku untuk sekedar bertanya. Entah mengapa Calista seperti orang bodoh yang tidak mengerti bahasa manusia. Rasa senang dan penasaran terlalu membuncah hingga ke ubun-ubun.
Pukul 18.47
Calista telah selesai bersiap. Ia memandang pantulan dirinya cermin dan tersenyum manis. Jantungnya berpacu cepat mengingat malam ini Aaron yang akan menjemputnya untuk makam malam. Jujur saja Calista sangat gugup malam ini, hubungannya dengan Aaron telah lama renggang. Calista memegang dadanya dan memejamkan mata. wajahnya bahkan memerah, Calista gugup.
Suara klakson mobil terdengar dari luar. Itu pasti Aaron. Calista berdiri dan segera keluar menghampiri suaminya, jika tidak Aaron pasti akan marah-marah tidak jelas. Benar saja, smartphone Calista berdering dan yang menelpon adalah suaminya. Calista memutar bola mata dan menggeleng akan tingkah suaminya yang sangat tidak sabaran. Calista tersenyum dan mempercepat langkah kakinya menuju mobil Aaron.
Calista masuk ke mobil sport itu dan memandang suaminya. Tanpa menunggu lama, Aaron melajukan mobilnya dan fokus ke jalanan tanpa melirik Calista sedikitpun. Ia sudah mencoba tampil sempurna di depan suaminya. Bayangkan saja, Calista berdandan selama hampir 2 jam hanya untuk Aaron tetapi suaminya itu sama sekali tidak meliriknya. Semua usaha dan kerja kerasnya tidak dihargai.
Calista menghela nafas lelah, Ia memalingkan wajah ke luar jendela.
Aaron melirik Calista setelah istrinya itu memalingkan wajah. Aaron terpukau menatap penampilan Calista malam ini. Dress itu melekat indah di tubuh istrinya. Menampilkan bentuk tubuh Calista yang hampir sempurna. Rambut ikal indah yang dibiarkan tergerai, serta bibir tipis yang tertekuk karena kesal. Entah mengapa Aaron tertawa kecil dalam hati melihat ekspresi Calista. Bahkan senyum kecil terbit di wajah tampan Aaron tanpa sadar.
*TINN
TIINN*
Aaron membanting stir dan menghindari tabrakan yang hampir terjadi. Untung saja Aaron dapat mengendalikan mobilnya tepat waktu, jika tidak nyawa mereka mungkin akan melayang.
Jantung Calista berpacu cepat, Ia melototkan mata pada Aaron. Ingin sekali Calista mengeluarkan suara, namun lidahnya kelu untuk bersuara. Alhasil, Calista memejamkan mata dan menghela nafas kasar, kedua tangannya dilipat di depan dada. Calista kembali memalingkan wajah ke jendela. Calista kecewa sekaligus marah.
Jantung Aaron juga berpacu cepat. Ia terlena akan penampilan Calista sehingga tidak menyadari mobilnya yang melaju ke jalur lain. Aaron kembali fokus ke jalanan. Ia kembali melirik Calista. Aaron menggeleng, kenapa ia bisa terpesona dengan penampilan Calista. Aaron kembali fokus pada jalan raya.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah restoran elite di Los Angeles, California. Aaron turun terlebih dari mobil dan meninggalkan Calista. Calista terperangah menatap Aaron yang sudah hampir memasuki restoran, mau tidak mau Ia harus menyusul Aaron sebelum suaminya itu terlalu jauh. Aaron berhenti di pintu masuk. Calista terkejut ketika Aaron merangkul pinggangnya.
"Apa yang kau..."
"Tapi...."
Aaron mendekatkan bibirnya ke telinga Calista dan berbisik. "Tersenyumlah"
Calista menatap nyalang wajah Aaron. Suaminya itu lebih dulu memalingkan wajah dan berjalan sambil tersenyum. Di depan sudah ada sepasang suami istri yang merupakan rekan bisnis Aaron. Calista tersenyum dengan terpaksa.
Calista terkejut ketika rekan bisnis Aaron memeluk dirinya. Pria itu melakukannya di depan istrinya sendiri.
"Henry, tidak sopan!" ujar si wanita.
Pria itu terkekeh dan melepas pelukannya ke Calista. Aaron juga nampak terkejut karena tingkah rekan bisnisnya. Aaron menatap tajam pria yang sedang tertawa di depannya.
"Mr. Gavrilo, istri anda sangat cantik dan juga luar biasa" ucap Henry, rekan bisnis Aaron sambil menatap Calista. Mata nakal Henry bahkan menelusuri lekuk tubuh Calista.
Hal itu membuat Aaron menggeram marah. Aaron membenci tatapan itu, ia memang brengsek namun Ia tidak pernah menatap wanita dengan tatapan seperti itu apalagi istrinya ada di sebelahnya.
"Tentu saja Mr. Jhonson. Mrs. Jhonson juga terlihat sangat menawan malam ini." ucap Aaron sambil tersenyum tipis pada istri Henry Jhonson.
"Tentu saja istri anda lebih menawan. Lihat saja tubuhnya yang indah dan juga......" ucapan Henry menggantung.
Aaron mengeratkan rangkulan pada pinggang Calista. "Tentu saja. Dia istriku" ucap Aaron penuh penekanan.
Mimik wajah Henry nampak berubah, yang tadinya tertawa kini datar dan mempersilakan Calista juga Aaron untuk duduk. Henry berusia hampir 40 tahun dan istrinya nampak lebih muda dan masih nampak cantik juga awet muda. Henry adalah pria bertubuh gempal dengan wajah sangar, benar-benar mirip pemeran antagonis di tv.
Calista nampak sangat muak dengan tingkah pria itu. Ia ingin pergi namun Aaron menatapnya tajam, dan memberi kode seolah menyuruhnya tetap diam. Calista duduk dengan tidak nyaman, tatapan Henry selalu mengusiknya. Apalagi Henry tidak jarang mencuri pandang pada buah dadanya. Calista ingin bicara namun mengurungkan niat melihat Aaron yang sedang memasang wajah menyeramkan.
Aaron menyadari bahwa pandangan Henry tidak lepas dari Calista. Dan yang paling membuatnya geram adalah tatapan Henry pada lekuk tubuh istrinya. Jika saja Henry bukanlah salah satu investor penting di perusahaannya, mungkin Henry akan berakhir tragis saat ini juga di tangan Aaron.
Makanan telah tersaji di atas meja dan Aaron juga sedang tidak ingin membuat keributan.
"Sayang, buka mulutmu" Calista menoleh dan menatap Aaron. Calista menatap bingung Aaron yang ingin menyuapinya makan.
Tumben. Pikir Calista. Aaron mengangguk dan Calista menerima suapan Aaron. Aaron melakukannya beberapa kali, hingga Calista tidak sengaja tersenyum. Hatinya berdesir, sudah lama Aaron tidak memperlakukannya se-romantis ini. Apakah suaminya cemburu? Calista tidak tau, yang jelas saat ini Calista bahagia.
Henry memasang wajah masam. Aaron melirik pria itu, ia tau Henry marah melihatnya menyuapi Calista. Aaron tertawa bangga dalam hati. Caranya berhasil. Selanjutnya, makan malam berjalan lebih formal. Mereka ber-empat lebih banyak diam dan hanya bicara seperlunya saja.
Setelah selesai. Henry dan istrinya pamit terlebih dahulu. Setelah mereka pergi, Aaron juga melangkah meninggalkan tempat itu, dan juga Calista.
Calista sadar dirinya ditinggal. Ia mengejar Aaron namun langkah Aaron yang lebar tidak sebanding dengan dirinya yang memakai sepatu hak tinggi. Calista kesulitan dalam mengejar Aaron.
"Aaron, wait"
Aaron yang kembali pada wajah dinginnya meninggalkan Calista di tempat itu. Ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan menghilang dalam sekejap.
"Aaronn, no please, don't leave me!!"
"Aaroon....." teriak Calista.
Air mata Calista kembali meluruh. Aaron meninggalkannya di tempat ini. Ia tidak membawa dompet ataupun smartphone. Sementara Ia tidak mungkin berjalan pulang dengan pakaian seperti itu. Calista jatuh terduduk di depan restaurant itu. Ia benar-benar tidak percaya jika Aaron meninggalkannya di tempat ini. Calista tidak habis pikir.
Tidak ada pilihan lain. Ia harus berjalan, percuma jika ia menangis di tempat itu. Tidak akan Ada orang yang peduli.
Calista berjalan menyusuri trotoar dengan menenteng sepatu haknya. Calista melewati jalanan yang lumayan sepi, bulu kuduknya merinding. Malam sudah semakin larut, dan ia berjalan sendirian. Sebuah mobil nampak terus mengikuti Calista. Calista makin takut, jantung berdegup dua kali lebih cepat. Calista mempercepat langkah sambil sesekali menengok ke belakang. Mobil itu terus mengikuti dirinya.
Calista berlari kecil ketika mobil itu tepat berada di belakangnya. Naas, Calista tersandung dan jatuh. Mobil itu berhenti dan seorang pria keluar. Pria itu berlari menghampiri Calista.
Menyadari bahunya yang ditepuk seseorang, Calista menengok perlahan. Rasa takut menyelimuti Calista. Pria itu tersenyum.
**To be continue.......
Calista Maylafaisha**
I'm back 😁
Ada yang kangen? semoga ada yaa...
Jangan lupa terus support author yang haus kasih sayang ini supaya author rajin update :v
Terimakasih kepada readers selalu setia ninggalin jejak di comment and like.
Thanks a lot 😊
See You Next 😘