Disaster Love

Disaster Love
AKU SIAPA? 24



Belum selesai Calista dengan kata-katanya, tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dengan paksa hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Semua pandangan mengarah ke pelaku keributan. Ternyata orang itu adalah Areon.


Saat itu juga Areon terpaku karena dirinya menjadi pusat perhatian, sesaat kemudian ia menormalkan ekspresinya yang tadi sempat panik dan khawatir. Areon kembali memasang wajah sok cool dan menyebalkan.


Orang-orang yang berada di ruangan itu menggeleng bahkan ada yang mendengus kesal melihat tingkah Areon.


"Aawwhh"


Calista meringis memegang kepalanya. Perhatian kembali tertuju pada Calista. Di kepalanya terlintas sesuatu, lebih tepatnya seseorang. Calista kembali membuka mata dan menatap ke laki-laki yang masih berada di pintu masuk. Calista kemudian menunjuk laki-laki itu, Ia menunjuk Areon. Semua pandangan pun kembali mengarah ke Areon.


Areon menelan salivanya susah payah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Areon kembali menatap orang-orang itu.


"What? Apa salahku kali ini?" ucap Areon seraya menatap pakaiannya yang mungkin saja salah.


"Dia... diaa..." ucap Calista pelan.


"Kenapa? Kau mengenalnya?" kata Dokter seraya menunjuk Areon.


Areon melototkan matanya, ia tidak tahu apapun. Areon berani bersumpah ia hanya melakukan satu kesalahan yaitu datang ke tempat ini. Ia bahkan belum menyentuh apalagi melukai Calista.


Calista mengangguk. Areon ditarik mendekat oleh perawat di ruangan itu.


"Coba perhatikan sekali lagi, apa kau mengenal lelaki ini?" tanya dokter itu pelan.


Calista kembali mengangguk. Calista tidak mengenali Jane, Aaron bahkan dirinya sendiri. Tetapi Calista mengenali Areon, orang yang paling ditakuti Calista selain suaminya. Sementara Jane dan Aaron saling tatap. Mereka terlalu syok akan fakta bahwa Calista hanya mengenali Areon. Sungguh tidak dapat dipercaya.


Calista dianjurkan kembali beristirahat oleh dokter. Kondisi Calista sekarang masih sangat lemah, ia koma selama satu bulan. Tentu Calista perlu banyak istirahat.


"Tuan dan nyonya bisa ikut ke ruangan saya?" kata dokter itu.


Aaron dan Jane mengangguk, sementara Areon yang masih syok hanya bengong menatap Calista. Areon kembali sadar ketika Aaron menarik bajunya untuk keluar dari ruangan itu. Mereka sampai di ruangan dokter lelaki yang berusia sekitar setengah abad.


"Pasien mengalami amnesia disosiatif. Hilang ingatan yang menyebabkan penderita melupakan identitas dirinya sendiri termasuk hal yang berkaitan dengannya. Amnesia ini bisa disebabkan oleh benturan keras di kepala ataupun stres yang berlebihan." kata dokter itu panjang lebar.


Jane kembali menangis. Aaron memegang kepalanya yang terasa hampir pecah. Masalah datang bertubi-tubi. Masalah hati saja sudah membuatnya hampir mati, dan sekarang Calista hilang ingatan. Bahkan Calista lupa akan dirinya sendiri.


Aaron tidak sengaja melirik Areon. Adiknya itu hanya angguk-angguk mendengar penjelasan dokter. Aaron merasa geram akan tingkah adiknya itu, Ia memukul kepala Areon hingga terjungkal ke depan.


"Hentikan tindakan bodohmu itu!" ucap Aaron penuh penekanan.


"Apakah ingatannya akan kembali, dok?"


"Itu tergantung reaksi otaknya, nyonya. Biasanya kondisi ini tidak permanen, tetapi jika pasien mengalami stres bukan tidak mungkin pasien akan kehilangan ingatannya selamanya" jawab dokter.


"Bagaimana cara menyembuhkannya? Dan kenapa Calista hanya mengingat dia" tanya Aaron.


Dia yang dimaksudkan Aaron adalah Areon. Dokter itu tersenyum sekilas.


"Satu-satunya cara adalah mengembalikan fungsi otaknya. Pasien tidak boleh tertekan apalagi sampai stres. Jangan paksa pasien mengingat sesuatu dengan keras, lakukan dengan perlahan. Jika pasien bahagia, proses penyembuhannya juga akan semakin cepat. Siapa suaminya?"


"Saya dok" jawab Aaron singkat, ia masih berusaha mencerna penjelasan dokter tadi.


"Anda harus ekstra sabar menghadapi istri anda, apalagi di kondisinya yang sekarang. Emosinya labil, moodnya akan dengan sangat mudah berubah. Jadi, jangan pernah membuat istri anda menangis, karena nyawa lain dalam perutnya juga akan ikut terancam." kata dokter itu.


"Nyawa lain? Maksud dokter? tanya Jane.


"Selamat, pasien hamil. Usai kandungannya 4 minggu." kata dokter dengan senyum manis.


"Hamil? Calista hamil?" tanya Aaron tidak percaya.


Dokter mengangguk dan tersenyum sambil menyalami Aaron. Sementara Jane menangis bahagia, ia memeluk Aaron dengan erat. Walaupun kehilangan ingatan, Calista telah dianugrahi hadiah terindah dari Tuhan.


Aaron bengong, keadaan ini semakin membingungkan. Calista hamil disaat ia kehilangan ingatan. Sementara Areon pergi dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun. Niat awalnya pergi ke mansion Aaron hanya untuk membalas dendam pada Calista, tetapi yang terjadi malah ia terlibat dalam drama ini. Areon sungguh muak, ia benci drama. Areon berharap ia tidak akan ikut-ikutan dalam drama ini.


Areon sangat yakin, fakta bahwa Calista hanya mengingat dirinya akan membuat hidupnya berantakan. Hidupnya akan benar-benar terusik karena wanita itu. Areon sebenarnya juga bingung kenapa Calista bisa mengingat dirinya.


**To be continue.....


Calista Maylafaisha**



Terimakasih semuanya, yang udah comment, like, dan vote 💕


Chapter ini sengaja dibuat pendek :)