Disaster Love

Disaster Love
MEET 01



California memang kota yang sangat sibuk. Kota di negeri Paman Sam itu menjadi incaran wisatawan di seluruh dunia. Hingar bingar dunia malam menjadi daya tarik tersendiri dari kota itu. Di tengah kesibukan kota, Calista berjalan cepat sembari sesekali menatap jam tangannya. Peluhnya bercucuran, dari raut muka saja sangat terlihat Ia sedang cemas dan mungkin sangat panik.


"Astaga, aku melakukannya lagi" geramnya singkat. Calista menengok kanan kiri, ketika dirasa sepi Ia menyebrang jalanan bersama segerombolan manusia lain yang bahkan tidak saling menengok satu sama lain. Kembali Calista melihat sekilas jam tangannya,


BRUK


Barangnya jatuh berserakan di tengah jalan serta ditengah kerumunan. Calista mengumpat dalam hati, ia sudah terlambat dan sekarang pasti bosnya akan memakannya hidup-hidup. Entah siapa yang menabraknya, atau mungkin sebaliknya Ia tidak tau yang jelas ketika Calista mendongak, sepasang mata biru teduh meredupkan amarahnya. Rasa cemaspun menguap seketika.


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


5 detik


"Calista jam berapa sekarang??!! Bangun!!! Sadar!!" Calista tersadar dari lamunannya. Ia kira Nyonya besar tadi benar-benar ada di depannya tapi syukurlah itu hanya khayalanya.


Calista segera memungut barangnya, dan pergi. Tetapi baru beberapa langkah setelah mengucapkan maaf, tangannya tertarik dengan kuat kebelakang. Bokongnya mendarat sempurna di aspal. "aahkk, apa yang kau lakukan? are you crazy?!!" kesal Calista pada mahkluk berjenis kelamin laki-laki yang menariknya hingga terduduk di aspal.


"Kau hampir mati bodoh" jawab laki-laki tersebut sambil mengulurkan tangannya mencoba memberi Calista bantuan. "Seharusnya kau memperhatikan jalanan, bukannya jam tangan yg tidak akan berpindah daru tanganmu" omel laki-laki itu sambil membantu Calista berdiri.


"Aaron" Calista menjawab dengan singkat pula, jantungnya sudah marathon hanya dengan menatap mata teduh Aaron, apalagi ketika laki-laki itu mentautkan tangannya dan tersenyum manis. Roh Calista seakan terangkat dari badan kasarnya, wajahnya pasti merah padam jika Ia menatap senyum itu lagi. Dan tentunya Calista tidak akan menatap wajah dan senyum Aaron lagi, ia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri.


Calista menunduk sementara Aaron membantu merapikan barang Calista yang jatuh. "Aku pergi dulu, kita akan bertemu lagi Calista" ungkap Aaron sambil mengusap lembur rambut Calista dan berlalu pergi. Calista terperangah, Ia juga terkejut secara bersamaan. Ia mematung di tempat itu, sampai bunyi ponsel yg mengejutkannya.


Murka wanita paruh baya sudah tidak terelakkan diseberang. Calista berlari menyebrang jalan sambil mendengarkan ocehan bossnya di ponsel. Hah, tamat sudah riwayatnya kali ini. sudah dipastikan Ia tidak akan pulang hidup-hidup.


🌼🌼🌼


Nada demi nada dialunkan dengan sangat indah, menguras emosi siapa saja yang mendengar. Riuh tepuk tangan bergemuruh, ratusan pasang mata telah dibuat sembab oleh Calista. Lantunan pianonya telah menyentuh hati ratusan orang. Calista memang terlambat, namun semua itu dapat terbayarkan oleh melodi hingga suara indah nan merdu miliknya. Dalam hati Ia mengucap syukur karena telah diberi anugrah suara yang indah. Malam ini setidaknya nyawanya terselamatkan dari Nyonya Besar.


To Be Continue.....


Aaron Gavrilo




Calista Maylafaisha