Disaster Love

Disaster Love
MASALAH I 02



1 jam mengisi acara di atas panggung membuat Calista uring-uringan. Seharusnya Ia hanya perlu tampil 30 menit tetapi karena Ia terlambat 30 menit maka waktu tampilnya diperpanjang oleh Nyonya Besar. Di sebuah gedung lumayan besar bertingkat 3 yang terletak di pusat kota California, Calista sering tampil mengisi acara. Setiap malam minggu, memainkan piano dan sesekali menyanyi merupakan pekerjaan sampinganya. Tak terhitung ribuan pasang mata telah berhasil Ia buat menangis.


Penampilan Calista tadi diakhir dengan pemberian sebuket bunga dari gadis kecil yang kira-kira berumur 4 tahun. Sebuket bunga mawar putih dan biru dengan surat kecil yang bertuliskan "good job" mampu membuat senyum Calista terbit manis. Setelah memberi bunga ke atas panggung, gadis kecil itu berlari turun dan menghilang di tengah kerumunan penonton. Calista tidak tau siapa yg mengiriminya bunga, tetapi yang jelas Ia sangat senang. Setelah itu Calista ke belakang panggung dan Nyonya Besar telah menunggunya sambil berkacak pinggang.


Baru saja moodnya bangkit, namun kali ini kembali jatuh akibat wanita paruh baya yg kini berada tepat di depannya.


"Maafkan aku Nyonya, haruskah aku menjewer kedua telingaku sambil meminta maaf padamu seratus kali?" jelas Calista dengan nada rendah. Wajahnya pula begitu mengenaskan. Oh Tuhan, dia seperti anak anjing. So Cutee.


Tanpa disangka Nyonya Besar memeluk Calista, mengusap kecil rambutnya yg digerai, dan sesekali mengecup ringan puncak kepala Calista.


"Gadis kecilku yang nakal, sudah kubilang jangan telat kau malah membangkang. Dasar anak nakal." Omel Nyonya Besar sambil menjewer telinga Calista setelah melepaskan pelukannya. "aaaaww, sakit Aunty Jane" ringis Calista pelan.


Nyonya Besar atau Jane Anders adalah pemilik gedung bernuansa classic ini. Gedung ini sering dipakai pertunjukan seni atau teater, dan bahkan music. Nuansa yang classic namun mewah membuat para seniman berebut jadwal demi menyewa gedung itu. Jane sudah berusia 51 tahun. rambutnya sudah mulai memutih, dan kerutan di wajahnya sudah mulai banyak. Jane adalah orang yang mengasuh Calista sejak kecil. Namun ketika beranjak dewasa, Calista memutuskan hidup mandiri, serta tinggal terpisah dari Jane. Awalnya Jane sempat menentang, namun Calista kekeh pada pendiriannya, dan Ia hanya bisa pasrah merelakan seseorang yg sudah Ia anggap putri kandungnya.


Jane menarik Calista dengan menjewer telinganya, beberapa kru yg melihat kejadian itu tertawa kecil. Malam ini adalah pertunjukan musik yang diadakan oleh Jane beserta team.


Setelah ditarik paksa dan mendapat omelan dari Aunty Jane, kini Calista tengah menjalani hukumannya. Ia duduk bersandar di jendela apartment milik Aunty Jane yg berada pada lantai 3 gedung bergaya classic ini. Di lantai pertama adalah lobby sekaligus restoran, lantai kedua adalah tempat pertunjukan, dan paling atas adalah apartment milik Jane. Hanya beberapa orang yg mengetahui bahwa di lantai paling atas terdapat sebuah apartment yg bergaya klasik namun elegant.


Calista menikmati hembusan angin malam sambil membuka halaman demi halaman buku cerita yg Ia baca. Karena keterlambatanya Ia dihukum menginap selama semalam dan menemani Aunty Jane. Calista tidak bisa menolak, belakangan ini Calista jarang mengunjungi Jane karena sibuk dengan kuliahnya.


Sebuah pesan masuk ke smartphone Calista. "save my number, it's me" isi pesan itu. Calista mengernyit, kemudian Ia tersenyum melihat foto profil laki-laki itu. Darimana laki-laki itu mendapat nomer WhatsApp nya?


"Okay" jawab Calista singkat


"Aaron Gavrilo, that's my name. And don't smile, you make me overdose" lanjut Aaron


Wajah Calista merah padam, bagaimana bisa laki-laki itu mengetahui jika Ia sedang tersenyum dan gombalan itu, entah kenapa hatinya tidak berdetak seperti biasanya. Ini pertama kalinya Calista termakan oleh omongan laki-laki.


"No, I'm not"


"Don't be joking" lanjut Calista sambil menggelengkan kepalanya. Semoga saja Aunty Jane tidak melihat wajahnya saat ini, bisa saja Calista di cap gila.


Chat itu berlangsung hingga tengah malam, bahkan Calista melupakan buku yg tadi sempat dia baca. Sihir Aaron telah membuatnya gila, sungguh. Calista bahkan ketiduran sambil memegang smartphone.


Pertunjukan malam itu telah selesai dan Jane masuk ke kamar Calista. Jane menghela nafas melihat Calista yg tertidur sambil memegang smartphone. Jane mendekat dan menyelimuti Calista hingga sebatas dada. Jendelanya pun masih terbuka. Jane mengusap pelan rambut halus Calista, mengecup puncak kepala gadis yg sudah Ia anggap putri kandungnya. Jane menjauhkan smartphone Calista dan melenggang pergi.


Keesokan harinya...


"Bangun gadis manja" teriak Jane dari dapur.


Calista mengerjap, Ia baru sadar jika kemarin Ia ketiduran. Calista meraba nakas dan tempat tidurnya, namun smartphone nya tidak ada. Calista lalu bangun dan melihat jam 5 pagi. Aunty Jane memang membiasakan Calista bangun pagi sedari kecil.


Calista bergegas membersihkan diri dan membantu Aunty Jane di dapur. Setelah sarapan Calista pamit dan pergi ke kampusnya.


Calista mengambil jurusan bisnis, di samping itu hobinya mendesain dan dunia fashion membuatnya bercita-cita membangun butik dan brand sendiri.


Jane bekerja paruh waktu di butik milik dosennya, dari situ Ia mulai belajar tentang desain dan fashion.


Bel berbunyi pertanda ada pelanggan, Jane baru saja sampai 30 menit yg lalu setelah menyelesaikan kuliahnya. Dua orang pria masuk, badan mereka nampak kekar dan wajahnya nampak sangar. Timbul sedikit perasaan aneh saat Calista melihat dari CCTV kedua pria itu tidak kunjung memilih pakaian setelah hampir setengah jam berada di butik.


Di butik hanya ada Calista dan kedua pria tadi, Pemilik butik sedang keluar karena urusan mendadak, sementara pegawai lain pergi membeli makanan. Beberapa saat kemudian, dua pria tadi menghampiri kasir sambil membawa baju. Gerak-gerik mereka nampak aneh, keduanya tidak pernah berhenti menoleh kanan-kiri. Perasaan Calista semakin tidak enak.


"angkat tangan!" Teriak salah satu pria sambil menodongkan pistol. Pria satunya berlari kearah pintu masuk. Calista terkejut setengah mati, Ia sangat takut dan bahkan air matanya sudah mengalir sedari tadi. Calista trauma dengan pistol.


"Cepat serahkan uangnya! cepat" ujar pria yg membawa pistol sambil berjalan mendekat.


Calista diam, seluruh tubuhnya bergetar, otaknya tidak bisa berfikir. Pandangannya hanya terfokus pada pistol itu. Ingatannya kembali berputar pada masa kecilnya. Ucapan pria itu bergema di telinganya dan tubuhnya menolak untuk merespon.


Pria tersebut panik karena Calista tak kunjung bergerak. Ia juga takut jika ada orang lain datang. Dengan panik pria itu menembakkan pistol ke atas. Calista terduduk sambil menutup telinganya, ia menangis, sangat ketakutan.


"Don't please don't, go away!!" Calista meracau tidak jelas. Ia duduk menyudut sambil terus menutup telinga.


Kesempatan itu digunakan pria itu untuk mengambil uang di kasir. "****, shit!!" protes pria itu frustasi. Mesin kasir itu dilengkapi dengan password.


Pria itu mendekati Calista sambil berteriak meminta password. Namun Calista makin terguncang, dan berteriak tidak jelas.


"hurry up boss, kau tidak mau kita berakhir di penjara bukan" kata pria satunya yg sedang menjaga pintu masuk.


Pria yg dipanggil boss makin frustasi. Ia menodongkan pistol kepada Calista sambil terus meminta password, tetapi Calista malah menangis. Kesabaran pria itu telah habis, Ia menjambak rambut gondrongnya dan melepaskan masker yg Ia gunakan.


"Aarrghh, matilah kau!!" Calista yg ketakutan pasrah dan semakin erat memejamkan matanya.


DORR


"Tangkap mereka" beberapa orang berbaju hitam mengamankan dua pria yg mencoba merampok butik itu. Seorang lelaki mendekat ke arah gadis yg meringkuk sambil menangis di pojok meja kasir.


"Kau aman, bangunkah" laki-laki itu berucap dengan nada halus. Namun Calista tidak kunjung membuka matanya, Ia sangat takut. Laki-laki itu berjongkok dan meraih pundak Calista. Awalnya Calista meronta tetapi ketika memandang wajah Laki-laki yg memeluknya, Ia berhenti. Nafasnya memburu, Ia lega sekaligus terkejut. Beberapa saat kemudian Calista pingsan. Wajahnya pucat pasi, keringat dan air mata bercampur jadi satu.


Polisi datang dan mengamkan pelaku. Laki-laki itu menggendong Calista ala bridal dan memasukkan Calista ke mobil. Anak buahnya dengan mudah membereskan dua pria yang mencoba merampok butik itu. Salah satu pelaku terkena luka tembak pada bagian pinggang.


Mobil Laki-laki itu melaju meninggalkan lokasi. Laki-laki itu memandang Calista yg berada di pangkuannya dan tersenyum. misterius.


To be continued.......


Hai Hai Hai!!


Prolognya jadi satu sama chapter pertama yaa 😊


**maaf kalau chapter 2 ini agak bertele-tele, sekalian perkenalan tokoh. Ada yang tau siapa laki-laki yang udah nyelamatin Calista?


Hehehe


Cerita ini bakalan penuh kejutan lho, nantikan yaa kelanjutannya. jangan lupa support aku terus, love you all 😘**