
Aaron menyingkirkan wanita jalang itu dari atas tubuhnya. Aaron hanya bertelanjang dada. Ia segera memakai kaos santainya dan berjalan keluar dengan santai. Sebelum menutup pintu, Aaron melempar sejumlah uang pada wanita itu dan tersenyum.
"Kenapa kita tidak melanjutkannya saja? aku akan memuaskanmu" goda wanita itu sembari mendekati Aaron.
Dada Aaron diraba dengan sensual, sembari menggoyang bagian tubuhnya yang terekspos tanpa sehelai benangpun. Aaron meraih tangan wanita itu, menghimpitnya ke dinding dan menatapnya tajam.
"Aku tidak sudi disentuh oleh jalang sepertimu. Bitch!" sarkas Aaron dingin.
Wanita itu bergidik ngeri. Ia memakai pakaian seadanya dan meninggalkan Aaron. Kejadian di restaurant terus berputar di benak Aaron. Rahangnya mengetat, tangannya bahkan masih terbalut perban. Aaron pergi menuju bar. Ia belum sepenuhnya mabuk. Pikirannya sekarang sedang kacau.
"Hey, what's wrong with you? Do you know, she looked really bad." Seorang pria menghampiri Aaron.
Itu adalah rekan bisnis Aaron. Dia yang memberi tahu keberadaan Aaron pada Calista. Saat melihat Calista berlari sambil menangis, Ia ingin mengejar dan bertanya namun sepertinya bertanya pada Aaron akan lebih tepat. P**ikirnya.
Aaron tidak merespon pertanyaan pria itu. Ia hanya terus minum dan minum. Pikirannya kalut.
"aarrgghh" tegukan keempat Aaron berteriak dan melempar gelas itu. Beberapa orang memandangnya dengan tatapan aneh. Aaron berjalan gontai. Kesadarannya hanya tinggal seperempat.
Aaron sampai di pintu keluar dan memandang seorang gadis yang terduduk di trotoar sambil menangis. Samar-samar Aaron mendekat. Ia bahkan beberapa kali hampir terjatuh.
Itu Calista, gadis yang tengah menangis itu adalah kekasihnya. Aaron mendekat dan menyentuh pundak Calista. Gadis itu menoleh dan mundur.
"Don't touch me! Go! go away bastard!" Calista berteriak sambil mencoba berdiri.
Aaron tertawa. Ia mencoba meraih Calista namun tidak bisa. Ia mabuk berat, sulit untuk menggapai Calista saat ini.
"Aaron jangan mendekat!" teriak Calista lagi.
Pikiran Calista saat ini kalut. Kejadian di dalam berputar di kepalanya saat melihat Aaron di depannya. Tanpa sadar Calista terus mundur sampai kakinya menginjak ujung trotoar. Ia hilang keseimbangan dan terjatuh ke jalan raya.
*TIINNN
TINN*
Calista menoleh, sebuah mobil melaju ke arahnya. Calista mencoba berdiri sekuat tenaga, namun kakinya keseleo dan bergetar. Seluruh tubuhnya sulit digerakkan. Jantungnya berpacu cepat. Air matanya meluruh deras.
BUUKK
Tabrakan tidak terlekakkan. Tubuh Calista terpental beberapa meter. Wajahnya penuh dengan darah segar. Orang-orang mulai berkerumun.
Aaron shock. Ia membeku melihat kejadian tadi. Suaranya bahkan tidak keluar saat Ia ingin meneriakkan nama Calista. Aaron mencoba mendekat, kepalanya berdenyut sakit. Ia melihat Calista yang terkapar di tengah jalan dengan wajah yang bersimbah darah.
"You'll be fine. Jangan pejamkan matamu, aku disini. I'm here baby." lirih Aaron.
Orang-orang terenyuh melihat mereka. Aaron menangis sambil menepuk pipi Calista pelan. Sedangkan Calista menatap Aaron dan mencoba meraih pipi Aaron. Di ujung kesadarannya, Calista tersenyum menghapus sedikit air mata Aaron dengan tangannya.
"No. Kau akan baik-baik saja. Calista please, stay with me" Aaron semakin histeris ketika kesadaran Calista mulai hilang sepenuhnya.
"Ambulance. Aarrgghhhh, HURRY UP!! Kekasihku tidak baik-baik saja. Seseorang panggil ambulan." Aaron berteriak seperti orang gila. Ia bangkit mencoba mencari mobil. Namun kepalanya pusing, pandangannya mulai mengabur. Aaron terjatuh begitu saja. Ia pingsan.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Jane mengusap kepala putrinya. Calista terbaring lemah di brankar rumah sakit. James juga disana, duduk di sofa dengan pengemudi yang menabrak Calista. Amarah James memuncak ketika mendengar Calista tertabrak. James sempat memukul pria paruh baya di depannya namun setelah menjelaskan yang terjadi, James meminta maaf.
Jane daritadi tidak henti menangis. Nafsu makannya hilang. Ia bahkan hampir pingsan setelah mendengar kabar bahwa Calista kecelakaan. Untung saja James berada di rumah dan membawanya ke rumah sakit tempat Calista di tangani.
"Putriku, bangunlah sayang. Calista, aku tidak akan menjewer telingamu lagi. Ku mohon, bangunlah. Bibimu memohon padamu." Tangis Jane kembali pecah.
Calista sudah melewati masa kritisnya. Kepala Calista berbenturan cukup keras. Kakinya juga patah. Jane tidak sanggup melihat Calista dalam keadaan itu.
"Mom, enough! Calista sudah melewati masa kritisnya. Ia akan segera sadar. Adikku adalah gadis yang kuat." James membawa Jane duduk di sofa.
Si penabrak sungguh meminta maaf. Ia sudah mencoba mengerem namun naas, kejadian itu tidak terelakkan. Merekapun pamit setelah meminta maaf.
Aaron berada di rumahnya. Ia perlahan membuka matanya. Aaron memegangi kepalanya yang masih saja berdenyut.
"Calista" Kejadian kemarin muncul di ingatan Aaron. Isma menggeram dan menyuruh anak buahnya segera untuk menemukan keberadaan Calista.
Aaron membersihkan diri. Rahangnya mengetat, matanya menyiratkan kekhawatiran. Aaron bersiap-siap dan segera pergi setelah mengetahui posisi Calista dari anak buahnya.
**To be continue......
Ada yang gedeg sama Aaron? atau malah sama Calista? Next part bakalan ada adegan nangisnya lagi dikit lhhoo. hehehe.....
Stay tune!!
Love you guys :)
Keep support me! It's my first story** ;-)