
Milka dan teman-temannya menghadang dan menyeret paksa tubuhku, mereka membawaku ke belakang kampus. Entah apa yang ingin mereka lakukan padaku. Milka mendorongku hingga aku terjatuh.
"Apa salahku?".
"Kamu gak tau salahmu apa?, liat baik-baik nih".
Milka menunjukkan foto diponselnya, dan foto itu adalah fotoku dengan Marvel ketika Marvel sedang memelukku dari belakang.
"Dari mana foto itu?".
"Kamu tau kalo Marvel pacar aku?".
"Bukan urusanku, lepaskan aku".
"Kamu gak usah sok cantik, sok berani dikampus ini, kamu tahu apa akibatnya jika melawan Milka?".
Milka dan teman-temannya menamparku, memukulku bahakan mereka mendorongku kekubangan lumpur. Aku tidak bisa melawan mereka, aku kalah tenaga dengan mereka. Aku hanya bisa menangis sambil menahan sakit dan perih.
Aku mempersihkan tubuhku di toilet, wajahku lebam dan memar bahkan pelipisku berdarah.
Aku memutuskan untuk pulang dan tidak mengikuti pelajaran berikutnya.
Handphoneku berdering, Pino menelfonku. Aku reject panggilan Pino aku tidak ingin Pino melihat kondisiku.
Sesampainya dirumah ibu menanyaiku soal luka yang ada diwajahku, tapi aku menolak untuk menjawabnya, dan memilih pergi ke kamarku. Pino terus menerus menelfonku, tapi aku gak mau bicara dengan siapapun. Tuhan tolong Bianka.
"tokkk...tokkkk.tokkkk, Bi buka Bi ada temanmu".
Aku membuka pintu, dan melihat Pino bersama ibu. Aku tahu Pino pasti mengkhawatirkanku karena aku mengabaikan telfonnya.
Aku dan Pino mengobrol di ruang tamu, melihat luka diwajahku Pino memberiku banyak sekali pertanyaan.
"Pin, aku gak apa-apa lagian kamu ngapain sih pake kesini segala".
"Kamu yang kenapa gak angkat telfonku. Bi, bisakan kalau ada apa-apa cerita ngomong ke aku gitu".
"Pin, kamu tu bukan siapa-siapanya aku jadi kamu gak perlu ikut campur urusan aku. Aku bisa jaga diriku sendiri".
"Emmm, yaudah kalo gitu aku pamit".
Pino pergi dan aku menyesal berkata seperti itu sama Pino, cuma Pino satu-satunya orang yang care sama aku yang peduli sama aku tapi kenapa aku bikin Pino pergi.
Aku mencoba menghubungi Pino, tapi tak ada jawaban dari Pino. Aku mencari Pino dikampus tapi Pino juga tidak ada. Segitu marahkah Pino sampai-sampai ia menghilang. Aku menangis ditaman dan seseorang menyodorkan sapu tangan padaku.
"Marvel.....???".
"Cengeng".
"Tolong jauh-jauh".
"Aku tahu kok luka di wajahmu gara-gara Milka kan?".
"Kok kamu tahu".
"Apa????kamu gila Marvel. Kamu gak liat gara-gara kamu aku dipukulin sama Milka dan teman-temannya".
"Sory...sory Bi ,aku gak.nyangka Milka bakalan senekat ini".
"Basi".
"Kamu nangisin siapa?".
"Bukan urusanmu,pergi sana!!!".
"Pino, kamu lagi nangisin Pino kan?".
"Kamu tau Pino ada dimana?".
"Emmmm ya aku tahu, aku bisa aja bawa kamu ketempat Pino".
"Caranya?".
"Kamu ikut aku".
"Gak, aku gak mau ikut sama laki-laki mesum sama kamu bisa aja kan ini tuh cuma akal-akalan kamu".
"Bianka, Bianka aku sama Pino itu satu rumah".
"Hahhhh....".(Aku terkejut mendengar pernyataan Marvel).
"Jadi Pino gak pernah cerita?".
Aku hanya menggelengkan kepala.
"Jadi gimana, mau ikut aku".
Aku menganggukkan kepala, dan mengikuti Marvel. Setelah kira-kira 1 jam perjalanan menggunakan mobil akhirnya aku dan Marvel sampai dirumah besar yang bernuansa putih.
Aku berharap dirumah itu aku bisa bertemu dengan Pino.
"Marvel, tapi Pinonya ada kan didalam?". Aku bertanya kepada Marvel untuk meyakinkan diriku. Tapi Marvel tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya tersenyum dan mengisyaratkanku untuk masuk.
Aku masuk kedalam rumah tersebut dan Marvel menyuruhku menunggu di ruang tamu. Tapi perasaaan takut mulai menghampiriku, rumah ini sunyi senyap seperti tidak ada yang tinggal di dalamnya. Ku tepis pikiran burukku, ahhh mungkin karena rumahnya besar jadi terasa sunyi. Marvel datang dengan membawa minuman dingin dan camilan.
"Vel, Pinonya mana?".
"Emmm kata Pino kamu suruh tunggu dulu dia lagi ganti baju".
"Ohhhh....lama gak ya".
"Gak kok paling lima menit lagi, diminum dulu dong pasti haus kan? lumayan lho perjalanannya".
Aku meminum minuman yang diberikan Marvel,tiba-tiba kepalaku pusing dan pandanganku kabur.