
Telfonku berdering aku mendapat telfon dari kampus, karena beberapa bulan aku tidak mengikuti mata perkuliahan dan pihak kampus juga sudah tau jika aku hamil Milka sudah memberitahu semuanya dan terpaksa pihak kampus mengeluarkanku. Aku terima keputusan kampus karena aku juga malu dengan keadaanku sekarang. Masa depanku impianku semuanya hancur.
Telfonku kembali berdering, tak kusangka orang yang menelfonku adalah Marvel.
"Halo... Bianka".
"Iya, mau apa kamu".
"Bi...bi tenang dulu Bi ada yang aku pengen tanyain sama kamu. Apa benar kamu hamil?".
"Bukan urusan kamu".
"Apa itu anak aku?".
"Menurut kamu?".
"Ya siapa tahu aja ayah kamu sebelumnya udah jual kamu keorang lain?".
"B*****k".
"Jika itu memang anak aku, aku bakalan tanggungjawab kok Bi, ya aku mau nikahin kamu tapi nikah sirih gimana?".
"Gila kamu ya vel?".
"Ya aku masih muda Bi, jalan aku masih panjang. Aku lakuin ini karena aku ngerasa bersalah aja Bi sama kamu".
"Bener-bener ya kamu Vel".
" Udah untung lho Bi aku mau nikahin kamu, emang kamu gak kasihan apa anak kamu lahir tanpa ayah".
"Pikirkan baik-baik tawaranku Bianka, jika kamu setuju kamu hubungi aku".
Apa yang dikatakan Marvel ada benarnya juga, bagaimana jika anak ini lahir tanpa ayah kasihan anak ini dia gak salah. Nak maafin ibu ya nak udah bikin kamu menderita.
***
"Neng kenapa nangis".
"Emmm enggak apa-apa bu".
"Perutnya sakit lagi?".
"Enggak kok bu, Bianka gak kenapa-kenapa cuma tadi ada telfon dari kampus kalau Bianka dikeluarin bu dari kampus".
"Kok bisa?".
"Iya bu, sejak Bianka pergi dari rumah Bianka udah gak pernah datang ke kampus lagi dan Milka udah laporin ke pihak kampus kalau Bianka hamil bu".
"Milka??? temen neng yang tempo hari ketemu kita di klinik?".
"Huuhh".
"Yasudah gak apa-apa neng yang sabar ya ibu yakin neng bisa sukses".
"Amin...Bu tadi Marvel juga telfon bu dan dia bilang dia mau nikahin Bianka".
"Alhamdullah bagus itu neng artinya di mau bertanggungjawab".
"Tapi Marvel nikahin Bianka secara sirih aja bu sampai anak ini lahir".
"Kenapa seperti itu".
"Bianka juga gak tau bu, tapi Bianka pikir-pikir gak apa-apa bu setidaknya ketika anak ini lahir ada nama bapaknya di akta lahirnya bu".
***
"Tokkk...tokk...tokkkk. Permisi".
"Iya , mencari siapa ya".
"Apa benar ini rumahnya Bu Lastri?".
"Iya benar saya sendiri".
"Kenalin bu saya Marvel".
"Siapa bu yang datang??? Marrrvelll???".
"Bianka??? jadi kamu beneran hamil?".
"Dari mana kamu tahu rumah bu Lastri?".
"Itu perkara gampang buat aku".
"Udah- udah ngobrolnya di dalam saja tidak sopan diliat tetangga".
"Hhhhh terimakasih bu".
"Ibu buatkan minum dulu ya nak".
"Ahhh terimakasih bu merepotkan".
"Apa maksud kedatanganmu Marvel? kita bisa kan komunikasi lewat telfon saja tidak harus kamu datang kesini?".
"Ya aku juga pengen tau keadaanmu Bianka, aku ingin memastikan kamu benar-benar hamil atau tidak".
"Lalu?".
"Kamu baca ini, disini tertulis semua perjanjian yang akan kita jalankan setelah menikah, tenang saja Bianka kamu tidak usah khawatir aku akan menanggung semua biaya hidupmu selama kamu hamil dan melahirkan, tapi kamu tidak boleh ikut campur urusanku".
"Ok aku setuju, tapi aku tetap ingin tinggal disini bersama bu Lastri".
"Apa??? tidak bisa kamu harus ikut denganku".
"Gak aku gak mau ikut sama kamu, aku mau tetap tinggal diasini".
"Ok...ok baiklah aku setuju. Kalau begitu kamu tanda tangani surat perjanjian itu dan besok kita akan menikah".
"Apaaa besok??? kenapa cepat sekali?".
"Bianka besok atau lusa sama saja kita akan tetap menikah".
Aku menandatangani surat perjanjian itu, walaupun sebenarnya dalam surat itu sangat-sangat memberatkanku tapi apa boleh buat demi anak tak bersalah ini aku mau menyetujuinya.
"Udah kan vel, sekarang kamu pergi dari sini pergi!!!".
"Ohhh ...ohhh tenang Bi".(mmmuahh Marvel mencium keningku).
"Jangan sentuh aku!!!".(Sembari mendorongnya) cepat pergi!!!".
"Ok aku pergi tapi besok kamu jangan lupa".
"Lohhh neng mas Marvelnya kok pergi?".
"Iya bu biarin".