Breath Of Love

Breath Of Love
37. Mulai Mencari Vera



Seperti biasa, sudah menjadi rutinitasnya sebelum ke kantor ia menemui Bianka, walau hanya sekedar menyuapi Bianka makan, memberi Bianka minum obat ,dan menemani Bianka cerita. Saki berharap dengan begitu ia dapat mendapat petunjuk lebih.


"Bu, Saki pamit ke kantor dulu ya. Kalau ibu butuh apa-apa ibu bisa minta ke suster".


Bianka mengangguk menuruti perkataan putranya, tak lupa Saki mencium kening ibunya serta memeluk penuh kasih ibunya.


Ponsel Saki berdering, panggilan itu dari Johan kemudian Saki segera mengangkatnya.


"Halo Jo,....".


"Saki ,sepertinya gue gak bisa pulang Minggu depan karena masih ada beberapa berkas yang harus gue selesein. Gak apa-apa kan?".


"Ohhh ....oke gak apa-apa".


"Oh ya , Vera aman kan sama loe??? Gue khawatir loe ngerebut Vera dari gue".


"Maksud loe??".


"Dah....gue masih ada urusan nih, nanti gue telfon loe lagi".


"Ehhhh Jo maksud loe.....tuttt....tuttt....tuttttt".


"Ahhhh sial tu anak, maksudnya apa coba??? apa jangan-jangan Johan suka sama Vera ahhh gak mungkin Vera bukan tipe cewek Johan banget. Ahhhhmmmm ngapain sih gue jadi mikirin hal kayak gini, buang-buang waktu aja".


Saki menggerutu dalam hati sebab perkataan Johan, ada perasaan kesal serta jengkel di hatinya, entah mengapa ia merasakan hal itu. Jelas-jelas ia juga tidak memiliki hubungan dengan Vera, tapi kenapa ia selalu merasa kesal setiap kali Johan memperhatikan Vera.


Saki melajukan mobilnya menuju kantor. Sesampainya di kantor ia langsung menuju ruang kerja Vera, tapi ia tak menjumpai siapapun disana.


Saki mencoba bertanya ke beberapa karyawannya yang lain mengenai keberadaan Vera. Dan salah satu karyawannya memberitahu bahwa Vera hari ini ijin tidak masuk kerja kareana sakit.


Seketika Saki langsung ingat kalau ia kemarin mengantar Vera kerumah sakit.


Saki mencoba menghubungi Vera lewat ponselnya, walaupun sebenarnya ia sangat sangat gengsi untuk melakukan hal itu.


Tapi Vera tak menjawab panggilan Saki, setelah mencoba beberapa kali, tetap tak ada jawaban dari Vera bahkan Vera tak membalas pesan yang Saki kirim. Saki begitu cemas ia takut jika Vera tidak ada ,siapa yang akan membantunya menyelesaikan pekerjaannya. Ahhh itu hanya alibinya saja sebenarnya Saki khawatir akan kondisi Vera.


***


Saki bergegas menuju rumah Vera, untung saja ia tahu dimana rumah Vera karena ia pernah mengantar Vera pulang tempo hari jadi tak butuh waktu lama untuk Saki sampai dirumah Vera.


Saki mencoba mengetuk-ketuk pintu rumah Vera.


"Tokkkk.....tokkkk.....tokkkk assalammualaikum".


Setelah beberapa kali mengetuk akhirnya terdengar suara orang dari dalam rumah membalas salam yang diucapkan Saki.


"Walaikumsalam...".


Vera yang saat itu membuka pintu kaget melihat Saki berdiri dihadapannya, tubuhnya langsung gemetaran ia takut kalau Saki memarahinya, ia sengaja tidak mengangkat telfon Saki atau membalas pesan yang dikirim Saki.


"Apa demammu makin parah hingga kamu tak masuk hari ini, apa kamu tau jika kamu masih baru diperusahaan dan masa percobaan mu belum selesai?".


Dengan nada dingin Saki melontarkan beberapa pertanyaannya kepada Vera.


Dengan terbata-bata Vera mencoba menjelaskan ,hingga akhirnya seorang pria yang duduk diatas kursi roda menghampiri Vera dan Saki yang sembari tadi berdiri di depan pintu. Saking takutnya Vera sampai lupa mempersilahkan bosnya untuk masuk.


Mendengar suara itu, Vera dan Saki menoleh secara bersamaan.


"Emmmm anu yah, ini bosnya Vera di kantor".


"Ohhh ini bosmu, tampan sekali".


"Saki om". Sembari menyalami tangan ayah Vera. Walaupun Saki seseorang yang dingin tetapi ia sangat santun jika sedang berhadapan dengan orang yang lebih tua darinya.


"Mari, silahkan duduk nak Saki. Vera ini kebiasaan ada tamu kok gak diajak masuk malah dibiarkan berdiri saja didepan pintu. Sini nak Saki silahkan".


"Terimakasih om".


"Vera buatkan nak Saki minum".


"Baik ayah".


"Pasti nak Saki kemari, karena Vera tidak masuk bekerja ya".


"Emmmm iya om".


"Sebelumnya bapak minta maaf ya nak, karena mengurus bapak pekerjaan Vera jadi terganggu".


"Om sakit apa??".


"Sudah lama sejak Vera masih SMA om mengalami kecelakaan ,hingga om mengalami koma dan efek dari kecelakaan itu mengakibatkan kaki om lumpuh permanen dan terkadang dada om terasa sakit dan sesak. Makanya hari ini Vera tidak masuk bekerja karena dada om kambuh lagi".


"Maaf om sebelumnya, apa om hanya tinggal berdua dengan Vera?".


"Emmmm....Mamah Vera masih ada nak cuma yahhh begitu jarang pulang kerumah, om sadar diri nak sejak kecelakaan om tidak bisa apa-apa. Hanya Vera yang mau mengurus semua kebutuhan om".


"Om yang kuat ya".


"Tidak apa-apa nak, om sudah ikhlas menerima semuanya mungkin ini balasan atas kesalahan dimasa lalu om".


Vera datang membawa secangkir teh hangat untuk Saki dan ayahnya. Yang membuat percakapan antara Saki dan ayah Vera terhenti.


Dan tiba-tiba ayah Vera mengalami sesak didadanya, Vera yang panik mulai kebingungan ia takut jika ayahnya kenapa-kenapa. Saki menawarkan untuk mengantarnya kerumah sakit tapi ayah Vera menolak dan memilih beristirahat saja di kamar. Saki membantu membawa ayah Vera kekamarnya. Ada rasa iba di hati Saki melihat kondisi ayah Vera.


Vera meminumkan obat ayahnya dan kondisi ayahnya mulai membaik.


Saki dan Vera kembali keruang tamu.


"Pak, Saki maafin Vera karena Vera udah bikin pak Saki susah hari ini".


"Itu kamu tahu".


Mendengar ucapan Saki, wajah Vera semakin panik. Ia sesekali menggigit bibir bawahnya yang membuatnya terlihat semakin manis. Hati Saki berdebar melihat wajah sexy Vera. Ia menyadarkan dirinya sendiri dari pikiran kotornya.


Tapi tanpa disadari kata-katanya membuat Vera menitihkan air mata.


Baru kali ini Saki tak tega melihat wanita menangis kecuali bundanya dan ibunya. Dengan reflek Saki mengusap air mata Vera dan memeluknya.


Sikap Saki membuat Vera kaget, tapi ia takut untuk menolak pelukan Saki. Ia takut jika Saki semakin marah padanya.