Breath Of Love

Breath Of Love
40. Kecemburuan Vera



AKtivitas kantor berjalan seperti biasanya, Vera berada diruang kerjanya bersama Johan karena Johan telah kembali ke Indonesia maka pekerjaan yang sementara Vera handle ia serahkan kembali ke Johan.


Saki yang baru datang menghentikan langkah kakinya di depan ruangan Johan, menatap kearah Johan dan Vera. Ada persaan tak suka dihatinya melihat kedekatan Vera dan Johan. Apakah ini rasa cemburu yang sedang Saki rasakan. Ohhh bisa jadi karena beberapa bulan ini Saki menghabiskan banyak waktunya bersama Vera walaupun waktu itu digunakan untuk bekerja.


Johan yang menyadari kehadiran Saki, menghentikan sejenak aktivitasnya bersama Vera dan melangkah menghampiri Saki seraya melontarkan sapaan kepada Bosnya.


"Selamat pagi ,bos". Alih-alih membalas sapaan Johan, Saki malah membuang muka dan melangkah pergi.


Johan yang merasa diacuhkan pun merasa kesal dan menggerutu kecil. "Sial, kenapa lagi tu orang. Bentar-bentar baik bentar-bentar moody kek cewek lagi PMS aja hhhhhh".


Vera menyambar ucapan Johan dengan cepat. "Siapa pak Johan yang sedang PMS????"


"ehhh ...enggak Ver, bukan siapa-siapa. Oh iya ini semua berkasnya kamu tinggal disini saja kalau ada waktu luang saya cek satu-satu. Kamu boleh kembali keruangan".


"Baik pak Johan ,terimakasih".


Baru saja Vera akan melangkah keluar dari ruang kerja Johan, salah satu karyawan meminta Vera untuk keruang Pak Saki. Vera mengiyakan dan mengekor langkah rekan kerjanya menuju ruang kerja Saki.


Vera mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban dari Saki. Vera berinisiatif membuka pintu, tapi apa yang Vera liat. Pria tampan dan wanita sexy yang begitu intens dan mesra bahkan tak ada sedikitpun celah untuk seekor semut masuk.


"Hmmmm maaf pak, sa-saya.....". Vera begitu gugup dan canggung bahkan ia tak mampu melanjutkan kalimat yang keluar dari mulutnya.


Saki menjauhkan tubuh Hana dari tubuhnya, dan sedikit merapikan pakaiannya. Saki gelagapan dan canggung. Berbeda dengan Hana, ia menyunggingkan senyuman disudut bibirnya. Karna dari awal Hana curiga jika karyawan Saki yang bernama Vera menyukai prianya. Jadi Hana sengaja mengatur situasi ini.


"Siapa yang menyuruhmu keruanganku Vera???". Saki mengucap dengan nada yang sedikit keras. Sebenarnya ia kesal mengingat kedekatan Vera dan Johan tadi pagi.


Vera hanya menundukkan kepalanya, ia tak berani mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Saki bahkan ia sudah hampir menangis. Ada rasa sesak didadanya yang sangat-sangat sesak. Ia sebenarnya ingin sekali meninggalkan ruangan itu sekarang juga. Tapi langkahnya dihentikan oleh Hana.


"Ohhh iya kamu yang namanya Vera??? aku yang memintamu untuk datang kemari".


"Emmm enggak aku cuma ingin bertemu saja dengan wanita yang bernama Vera, yang selalu Johan bicarakan selama diJerman. Ternyata cantik juga. Johan memang gak pernah salah pilih".


"Maaf Bu, jika sudah tidak ada keperluan saya rasa saya harus melanjutkan pekerjaan saya. Permisi".


Dengan segera Vera melangkah meninggalkan Saki dan Hana. Tak terasa air matanya mengalir, entah apa yang ia tangisi. Ia hanya ingin menangis. Pikirannya tak bisa menghapus memory yang merekam kedekatan Hana dan Saki, bahkan bibir mereka hampir berciuman. Mungkin saja jika dirinya tidak datang ciuman itu sudah terjadi. Mengingat itu dadanya terasa semakin sesak.


Karena menangis Vera tak memperhatikan jalan, bahkan kedua tangannya hampir menutupi seluruh wajahnya. Tak ayal ia menabrak seseorang yang berada dihadapannya.


bruuuukkkkk.......


"Veraaa......!!!!!".


Vera tertunduk memalingkan wajahnya, ia tak mau Johan melihatnya sedang menangis.


"Vera hati-hati....Veraaaa kamu menangis????


Heyyyy....siapa yang menyakitimu???? Katakan padaku biar kuhajar sampai mampus orang itu!!!".


Dalam hati Vera berkata Saki yang membuatku menangis, apakah kau akan membunuhnya jika kau tau orang itu adalah Saki.


Vera terdiam dan semakin menangis.


Johan mencoba menenangkan Vera, memberikan bahunya untuk Vera bersandar dan mengelus rambut Vera yang panjang.


Tak disangka ternyata Saki membututi Vera dan melihat Johan yang sedang memeluk Vera yang sedang menangis. Amarah Saki semakin memuncak.