Breath Of Love

Breath Of Love
25. Pencarian Keluarga Bianka



Hari ini Bianka menjalani terapi yang kedua, berbeda dengan terapi yang pertama diterapi kali ini Bianka lebih tenang sehingga dokter Manda tidak lagi menterapi Bianka dengan metode hipnotis.


Dokter Manda mencoba menggali informasi mengenai keluarga atau orang-orang di masalalu Bianka. Dengan sangat hati-hati dokter Manda mulai memberikan rasa nyaman kepada Bianka, secara perlahan dokter Manda mulai mengajak Bianka berinteraksi, ketika dirasa Bianka benar-benar dalam keadaan nyaman dokter Manda mulai menanyakan nama dirinya, nama orang tuanya dan dimana Bianka tinggal. Lagi-lagi Bianka tak merespon apa-apa ia hanya diam dengan tatapan kosong hanya kata Ayah... Ibu...yang berulang-ulang ia ucapkan, hanya sesekali ia menyebut nama Pino.


"Dokter Nadira, siapa Pino? apakah Pino adalah nama suaminya?".


"Maaf, dok saya juga tidak tahu".


"Emmmm, pasien sulit sekali diajak berinteraksi. Terapi yang saya lakukan hanya membuatnya lebih tenang tapi tak sedikitpun membuat pasien mau bercerita dan mengungkapkan masalalunya".


"Lalu harus bagaimana dok?".


"Satu-satunya cara, dengan mencari keluarga dan orang-orang terdekatnya karena hanya mereka yang bisa mengingatkan pasien dengan siapa dirinya".


"Baik dok, saya akan coba bertanya dengan bu Tania barangkali bu Tania dan pak Burhan dapat memberikan masukan untuk ini".


"Semoga saja dok".


Dokter Nadira kembali menghubungi bu Tania, dan bertanya soal lokasi pertama kali bu Tanua dan Bianka bertemu. Setelah mendapatkan informasi dari bu Tania dokter Nadia ditemani dokter Bani berangkat menuju lokasi tersebut. Perjalanan yang dilalui cukup jauh jaraknya, setelah dirasa sampai pada lokasi yang dimaksud oleh bu Tania, dokter Nadira dan dokter Bani turun dari mobil. Bermodalkan fotk Bianka, dokter Nadira dan dokter Bani bertanya setiap orang yang berada disekitar lokasi bu Tania dan Bianka bertemu ,tetapi tak seorang pun mengenali wajah Bianka.


Cukup lama dokter Nadira dan dokter Bani mencari informasi mengenai Bianka tetapi tak ada satupun informasi yang didapat. Hingga akhirnya mereka kelelahan dan memutuskan untuk mengakhiri pencarian.


Tak tinggal diam pak Burhan menyuruh anak-anak buahnya untuk mencari informasi mengenai Bianka dan keluarga Bianka. Tapi hasilnya tetap sama. Berhari-hari mereka bekerjasama mencari informasi tapi tak satupun informasi yang didapat. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti.


Soal Bianka, kondisinya masih sama tak mengalami perubahan sedikitpun ia hanya diam dengan tatapan kosong, dan masih terbangun ditengah malam sambil menangjs histeris. Tak banyak yang bisa dilakukan dokter Manda untuk menyembuhkan Bianka, karena Bianka tak sedikitpun mau merespon orang-orang disekitarnya.


Hingga suatu hari ketika suster membawa Bianka jalan-jalan ditaman dekat dengan rumah sakit jiwa tempat Bianka dirawat tiba-tiba Bianka menangis melihat seorang ibu tengah menggendong bayinya. Bianka berkata kepada suster jika ia merindukan bayinya.


Dokter Manda segera menghubungi dokter Nadira dan memberitahu apa yang terjadi. Mendengar pernyataan dokter Manda , dokter Nadira teringat akan amplop coklat pemberian bu Tania, sebelum bu Tania pergi ke Jerman. Doktet Nadira menutup telfonnya dan bergegas menuju rumah sakit jiwa tempat Bianka dirawat tak luput ia membawa amplop tersebut ditangannya.


Sesampainya dirumah sakit, dokter Nadira meminta ijin kepada dokter Manda untuk menemuk Bianka. Dokter Nadira mencoba berinteraksi dengan Bianka.


"Bianka, bagaimana kabarmu. Masih ingatkan dengan saya, saya dokter Nadira yang membantu persalinanmu dulu".


Bianka tak membalas obrolan dokter Nadira tapi mata Bianka merespon kehadiran dokter Nadira.


"Ohhh ya, Bianka saya ingin memberikan amplop ini untuk kamu. Amplop ini pemberian dari bu Tania".


Bianka menerima amplop pemberian dokter Nadira dan membuka amplop tersebut. Didalam amplop tersebut terdapat secarik surat dan selembar foto. Bianka membaca isi surat tersebut.


"Asslammualaikum, Bianka. Sebelumnya ibu minta maaf ibu sama sekali tidak bermaksud memisahkan Bianka dengan putra Bianka. Saya dan pak Burhan sementara waktu harus pindah ke Jerman karena urusan bisnis, karena kondisi Bianka yang belum pulih kami memutuskan untuk membawa putramu bersama kami. Kqmu berjanji akan merawatnya dengan sepenuh hati. Jika urusan kami disini sudah selesai kami akan kembali ke Indonesia dan menemui Bianka. Ibu harap Bianka mengerti, kami berjanji akan mempertemukan Bianka dan putramu setelah pulang ke Indonesia. Semoga Bianka segera pulih.


Wasalammualaikum


Ttd


Tania.


Setelah membaca isi surat dari bu Tania, Bianka mengambil selembar foto yang ada di dalam amplop tersebut bersamaan dengan surat dari bu Tania. Di belakang foto tersebug terdapat tulisan "Ini putra Bianka namanya Alsaki Amartya".


Hampir sepuluh menit Bianka memandangi foto wajah putranya, hingga tangisnya pecah. Bianka memeluk dan mencium foto anaknya. Dokter Nadira ,dokter Manda dan suster yang bertugas menjaga Bianka ikut merasakan haru dan tak kuasa menahan air mata.


Dokter Nadira memeluk hangat tubuh Bianka, sembari menguatkan Bianka.