
"tokk.tokk....tok" Vera mengetuk pintu ruangan saki
"masuk"
"mohon maaf pak saki saya mohon ijin pulang ayah saya masuk rumah sakit"
"gw antar Vera"
"tidak usah pak, saya tidak mau merepotkan bapak lagipula nanti siang bapak ada jadwal meeting dengan client besar"
saki merogoh ponsel disaku celananya, menekan panggilan
"hallo Johan, siang ini loe gantiin gw meeting gw ada urusan"
belum lawan telfonnya menjawab saki mematikan ponsel dan segera menarik tangan Vera,
saat berada dikoridor kantor Sintia melihat pak saki sedang menarik lengan rekan kerjanya, Sintia hanya menggedekkan kepala, hal ini sudah menjadi sarapan pagi baginya dan karyawan kantor lainnya.
Didalam mobil tak ada percakapan, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Vera *******-***** tangannya sedari tadi, saki hanya memperhatikan dari ekor matanya, saki tak tau apa yang harus ia lakukan untuk membuat Vera sedikit tenang, daripada salah saki memilih untuk diam.
sesampainya di rumah sakit saki dan Vera sedikit berlari, saki tau kepanikan yang dirasakan Vera saat ini.
Didepan kamar Marvel dirawat disana ada pak Pino, saat Vera ingin menerobos masuk pak Pino menahan bahu Vera dan menenangkan Vera dalam pelukannya.
Saki yang melihat gadis yang ia sukai dipeluk oleh pria lain merasa kesal. sampai kekesalan itu mereda saat Vera memanggil pak Pino dengan sebutan om.
"om ,bagaimana keadaan ayah"
"tenang Vera, dokter sedang memeriksa kondisi ayahmu"
Vera masih menangis dipelukan pak Pino.
Dokter keluar memanggil, Vera yang sudah tak bisa lagi menahan kepanikannya segera menghampiri dokter itu.
"dok...gimana dok gimana keadaan ayah saya"
"tenang bu, ayah anda sudah lebih baik beliau ingin bicara dengan anda"
"terimakasih dok"
Vera masuk menemui ayahnya.
"ibu....???ibu kenapa ada disini??"
saki menghampiri ibunya yang didorong suster diatas kursi roda.
"maaf saki saya yang meminta ibumu untuk datang kesini?"sahut pak Pino seraya menghampiri bianka
"bianka bagaimana kabarmu" tanya Pino ramah
"baik"jawab lirih bianka
"saya rasa ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua kebenarnya"
"kebenaran apa pak?"tanya saki keheranan
"kebenaran tentang,ibumu, aku, dan Marvel. Begitu juga denganmu dan Vera , aku tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi"
"apa maksud semua ini, aku tidak mengerti??" sahut Marvel dengan kesal
"tenang nak, setelah ini kamu akan tahu ibu harap kamu tidak akan marah sama ibu nak, maafin ibu"
bianka menggenggam erat tangan saki
"om..ayah manggil om" suara Vera memanggil Pino
pino mengajak bianka dan saki ikut serta dengannya, bianka dan Marvel saling menatap satu sama lain, bianka memalingkan wajahnya dirinya tak kuasa menatap wajah orang yang telah menyakitinya.
berbeda dengan Marvel, ia tak henti-hentinya menangis seraya memanggil nama bianka
"bi.....bianka..bianka"
bianka tak kuasa menahan air matanya, semua telah terjadi tak perlu lagi menyimpan dendam itu lagi.
bianka mendorong kursi rodanya kearah Marvel yang terbaring di ranjang, sangat dekat hingga tangis mereka pecah
Marvel tak henti-hentinya mengucap kata maaf kepada bianka,
bianka menerima permintaan maaf Marvel, semua telah terjadi bianka mengikhlaskan semuanya, tangis haru menyelimuti ruangan itu.
Pino mendekat ke arah bianka dan Marvel, sebelum memberi tahu semua kebenaran diantara mereka kepada Saki dan Vera.