Breath Of Love

Breath Of Love
13. Teringat Pino



Tiga bulan sudah Pino pergi ke Jepang bahkan tak sekalipin ia mengirim pesan ataupun menelfonku. Apa aku yang duluan telfon, ihhhhh masak aku sih??? tapi kalau gak dicoba ntar aku kepikiran terus. Ahhhhhh bingung, coba aja deh. Aku mencoba menghubungi Pino tapi nomornya diluar jangkauan, apa mungkin Pino sengaja jauhin aku. Ya ... wajar sih kalau Pino lupain aku.


" Neng, neng...".


"Iiii iya bu".


"Makan dulu neng, ibu udah masakin".


"Baik bu".


"Ayok neng, duduk".


"Iiiya ibu"


"Ehhh ibu perhatiin akhir-akhir ini neng sering ngalamun,kenapa?".


"Emmmm enggak apa-apa bu".


"Lagi ada yang dipikirin ya?".


"Emmm anu bu, tiba-tiba saja Bianka keinget Pino".


"Ya coba ditelfon dong neng".


"Udah bu, tapi nomornya gak aktif bu".


"Ya mungkin mas Pino nya lagi sibuk, harus khusnudzon ya neng".


"Iya bu".


"Maaf ya neng, kalau ibu lancang. Neng Bianka gak kepingin coba hubungi mas Marvel buat ngasih tahu kalau sekarang neng Bianka sedang hamil".


"Bianka rasa gausah bu, Bianka udah gak mau lagi berurusan dengan mereka. Bianka sekarang sudah hidup bahagia sama ibu ya walaupun kadang Bianka suka kangen sama ibu kandung Bianka".


"Yang sabar ya neng, semua pasti ada hikmahnya".


"iya ibu. Terimakasih ya bu udah sayang sama Bianka".


"Iya sama-sama, besok kita ke klinik lagi buat periksain kandungan neng jadi neng habis makan langsung istirahat ya".


"Neng bantu cuci piring ya bu".


"Gak usah biar ibu saja, neng ke kamar istirahat aja".


"Tapi bu, neng gak apa-apa".


"Udah gak apa-apa , sana istirahat".


"Baiklah jika ibu memaksa".


*****


Bayangan Pino di otakku benar-benar sungguh mengganggu. Bianka stop mikirin soal Pino mungkin saja Pino udah bahagia bersama wanita pilihannya. Walaupun Pino dan Marvel bersaudara tapi mereka sangatlah berbeda andai saja anak yang ada dalam kandunganku ini anak Pino pasti aku bahagia banget. Udah cukup berhenti mikirin Pino.


Walaupun sebenarnya aku masih berharap Pino nepatin janjinya buat nemuin aku lagi.


Aku terlelap dalam gelisah, dalam tidurpun aku meminpikan Pino, aku terbangun dengan nafas terengah-engah. Aku meminum segelas air putih untuk menenangkan hati dan pikiranku, apa yang sebenarnya terjadi sama Pino kenapa perawaanku sangat tidak enak. Mimpi itu seperti nyata sangat terlihat jelas, aku melihat Pino berlumuran darah dan ia tak sadarkan diri. Apa yang sebenarnya terjadi???? pertanda apa ini. Gak...gak semua akan baik-baik saja, mimpi hanyalah bunga tidur istigfar Bianka. Seketika aku merasakan kram diperutku rasanya sakit sekali.


"Bu...bu Lastri.... ibuuuuu".


" Ada apa neng, kamu kenapa?".


" Neng tenang dulu ya, ibu ambilin minyak gosok".


"Iya bu hiks hiks hiks aduh bu".


"Neng, rebahan dulu yuk pelan-pelan ibu kasihin perutnya minyak gosok".


"Neng, neng kan lagi hamil muda jadi gak boleh setres-setres dulu harus rilex".


"Saya kepikiran Pino terus bu".


" Neng, kalau jodoh pasti allah temuin mas Pino sama neng. Doakan saja mas Pino disana dalam keadaan baik yakkk neng ya".


"Iiiya bu".


"Gimana udah mendingan perutnya?".


" Udah bu, terimakasih banyak ya bu".


"Iya sama-sama, yaudah neng lanjut istirahat ".


"Iya bu sekali lagi terimakasih bu" .


Harusnya yang menemani aku saat ini adalah ibu kandungku disaat aku sedang menjalani ujian ini, tapi ibu bahkan tidak pernah menelfon ataupun sekedar mengirim pesan untukku.


*****


Esok harinya aku diantar bu Lastri periksa kehamilanku di klinik, alhamdullah kandunganku sehat dan bayiku berkembang dengan baik. Aku diberi vitamin agar kandunganku kuat dan dokter menyarankanku untuk rutin berolahraga agar yang aku alami semalam tidak terulang lagi.


Saat aku dan berjalan menuju pintu keluar klinik tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik badan dan terkejut orang itu adalah Milka seniorku dikampus.


"Biankaa".


"Iya".


"Kamu Bianka kan??, kamu hamil?".


Aku hanya terdiam seribu bahasa, kenapa aku harus bertemu Milka disini. Milka mengambil ponselnya dan memfoto diriku. Aku berusaha melarangnya dan menutupi wajahku dengan tangan, entah berapa banyak foto yang sudah ia ambil.


"Milka jangan".


"Ehhhh neng , beraninya ya kamu memfoto anak ibu sembarangan gak pernah diajarin sopan santun sama orang tuanya?".


Bu Lastri menjewer telinga Milka dan Milka pun meringis kesakitan.


"Bu, ampun bu sakit lepasin".


"Ok ibu lepasin tapi kamu pergi dari sini dan jangan ganggu Bianka lagi".


Milka pergi menuruti apa kata bu Lastri, iya berjalan melaluiku dan ia menbisikkan satu kalimat ditelingaku ( Bianka, kamu tahu apa yang akan aku lakukan?). Glekkk aku menelan ludahku sendiri, aku tahu apa yang akan dilakukan Milka, aku yakin dia tidak akan diam saja.


"Ehhhhh ibu bilang pergi pergiiii mau ibu jewer lagi?".


"Udah bu".


"Siapa dia neng, bengis amat mukanya ibu gak suka".


"Dia kakak senior aku bu dikampus".


"ohhhh, hayuk kita pulang".