
Hari ini Saki menemui Bianka di rumah sakit, kali ini Saki tidak ditemani Johan karena Johan harus menggantikan dirinya menemui client, jika dulu pekerjaan adalah yang utama untuk Saki, sekarang berbeda ibunyalah yang selalu ia utamakan. Sejak hadirnya Saki keadaan Bianka mulai membaik. Bianka sudah mau merespon jika diajak berkomunikasi.
"Assalammualaikum, Bu" Saki mengecup penuh kasih kening ibunya.
"Walaikumsalam".
"Liat Bu, apa yang Saki bawa buat ibu. Saki bawain ibu mukena, biar ibu bisa belajar sholat lagi".
Seketika mata Bianka berkaca-kaca, ia merasa tersanjung atas pemberian Saki. Lalu dengan sendirinya Bianka berbicara.
"Dulu waktu Bu Lastri juga kasih ini buat ibu".
Bianka memeluk mukena pemberian Saki, sambil tersenyum. Matanya memancarkan binar kebahagiaan.
"Ibu, apa ibu ingat rumah Bu Lastri???".
Bianka menganggukkan kepalanya.
"Dimana Bu????"
"Hahaha rumah Bu Lastri kecil , tapi dia punya warung ada tulisannya Warung Bu Lastri gitu hahaha".
Mendengar hal itu Saki bergegas untuk mencari rumah Bu Lastri.
"Ibu, Bu Saki pamit dulu ya besok Saki datang kesini lagi nemenin ibu".
"Emmmm...gakk-gakkk mau".
"Bu, Saki janji Saki besok kesini lagi".
Walaupun sebenarnya Bianka masih ingin berlama-lama dengan Saki tapi Bianka membiarkan Saki untuk pulang.
***
Saat Saki ingin menghubungi Johan, Handphonenya lebih dulu berdering. Panggilan tersebut dari Pak Burhan ayahnya.
"Hallo assalammualaikum ayah".
"Walaikumsalam nak, bagaimana kabarmu?".
"Alhamdullah Saki baik yah, ayah dan bunda sehat?".
"Iya nak, ayah dan bunda baik-baik saja. Lalu bagaimana kondisi ibumu apakah sudah membaik?".
"Alhamdullah yah, ibu sekarang sudah bisa diajak komunikasi".
"Syukurlah kalau begitu, ayah turut senang mendengarnya".
"Emmm....ngomong-ngomong ada apa ayah menelfon???".
"Begini nak, perusahaan kita di Jerman sedang mengalami masalah ayah butuh kamu. Apakah kamu bisa sementara waktu kembali ke Jerman???".
"Baiklah jika begitu nak, kamu baik-baik disana.Jaga kesehatanmu ayah dan bunda sangat merindukanmu".
"Iya ayah".
Tut...Tut ..Tut....
Saki segera melajukan mobilnya, menuju ke kantornya untuk menemui Johan.
***
Sesampainya di kantor Saki langsung mencari keberadaan Johan.
"Johaannnn......."
"Ya Bosss Saki".
"Kekantor gue sekarang".
Johan mengikuti langkah kaki Saki menuju keruangan Saki, setelah keduanya sampai di meja kerja Saki. Saki menceritakan mengenai informasi yang ia dapat soal ibunya dan Bu Lastri. Saki juga tidak lupa memberitahu masalah yang sedang dihadapi ayahnya di Jerman. Dan Saki meminta Johan untuk hari ini juga pergi Jerman untuk membantu ayahnya.
Johan tak sedikitpun protes atau menolak permintaan Saki. Ia menyetujui dan langsung memesan tiket ke Jerman.
Tak lupa Johan memanggil Vera untuk datang keruangan Saki.
Tokkk....tokkkk....tokkkk...permisi
"Masuk Vera".
"Jo, ngapain loe panggil dia?".
"Saki dia asistent gue selama gue ke Jerman mau gak mau Vera yang akan gantiin semua kerjaan gue disini???".
"Gue gak butuh orang ceroboh kayak dia?".
"Ceroboh???? Selama ini kerjaan Vera aman-aman ajah".
"Terserah loe".
"Vera, hari ini aku akan berangkat ke Jerman, jadi untuk semua pekerjaan aku kamu yang handle, dari dokumen dan jadwal meeting pak Saki. Ohhh ya kamu juga yang temani pak Saki meeting dengan client. Dan jangan pulang sebelum pak Saki pulang. Bisa Vera???".
"Baik pak".
"Oke ,kamu boleh kembali keruangan kamu".
"Baik pak, permisi".
***
Sebenarnya hari ini Johan ingin memberitahukan masalah jati diri Vera yang sebenarnya, tapi karena dirasa waktunya kurang tepat dan ia juga harus berangkat ke Jerman, Johan mengurungkan niatnya itu.