
“Tin..tin” bunyi klakson motor neneng
“iya” vera bergegas keluar
“oma, vera berangkat dulu ya, assalammualaiku”
“kalian hati-hati jangan ngebut” wejang oma
“iya oma” vera dan neneng bersamaan
Tiba-tiba motor mereka berdua mengalami bocor ban.
“kenapa, neng”
“bocor deh kayaknya”
“terus kita gimana berangkatnya, mana udah telat lagi”
“emmmm…gimana ya” mereka berdua nampak cemas, pujuk dicinta ulam pun tiba.
“ALDI” Teriak neneng
Sang pemilik nama yang mendengarnya menghampiri neneng dan vera yang berdiri dipinggir jalan.
“kenapa, neng”
“Nitip temen ya , Di” sambil mendorong tubuh vera
“tapi neng, kamu gimana?”
“kamu berangkat bareng si aldi dulu ya,ver!!!”
“terus kamu?”
“udah aku mah gampang, nanti aku susul”
Vera merasa tidak enak jika harus meninggalkan neneng sendirian, tapi neneng terus memaksa vera agar ikut dengan aldi.Akhirnya vera menyetujui berangkat bersama aldi.
“ver, ngebut ya udah telat” teriak aldi
Tapi teriakan aldi tak didengar oleh vera, aldi melajukan motornya secepat mungkin, membuat vera ketakutan dibuatnya.Vera memejamkan matanya untuk mengurangi rasa takutnya tanpa disadari tangannya melingkar di pinggang aldi. Meski sudah sampai parkiran vera belum juga melepas pelukannya dari tubuh aldi.
“ver…mau sampai kapan kita kayak gini?”
Vera terkejut, segera vera tarik tangannya.
“Aldi, maaf” vera merasa canggung dan langsung kabur dari hadapan aldi.
“Veraaa” panggil aldi, membuat badan vera berhenti dan memutar kearah aldi.
Aldi memberikan isyarat bahwa vera belum mengembalikan helmnya, vera memegang kepalanya benar saja kepalanya masih terbungkus helm,betapa malunya vera. Aldi berjalan mendekati vera, melepaskan helm dari kepala vera, dengan lembut. Tangan aldi merapikan rambut vera yang berantakan karena bekas helm, jantung vera terasa sakit. Perlakuan aldi sangat manis membuat vera terbawa perasaan.
***
“Ki, kita gak bisa batalin proyek itu, ini proyek sangat menguntungkan bagi perusahaan kita. Loe jangan egois dong Ki, jangan karena patah hati loe jadi gampang nyerah gini, mana saki yang gw kenal”
Sintia mengetuk pintu, masuk dengan membawa beberapa berkas ditangannya, setelah vera resign sintialah yang menggantikan posisi vera karena semua kandidat yang melamar sebagai sekertaris saki selalu saki tolak.
“Sin, gimaa vera ngabarin kamu?” tanya johan
“belum pak, nomornya juga udah gak aktif lagi. Tapi waktu itu vera pernah bilang kalau dia mau tinggal dirumah neneknya di bandung.
“Bandung” saki bergumam
“jo, bukannya proyek baru kita ada dibandung?”
“iya,sih”
“oke, kita gak jadi batalin proyek itu. Besok kita kebandung”
“Besok” johan tersentak
“Iya kenapa? Ada masalah?”
Johan tak mau membantah saki khawatir jika saki merubah pikirannya, lebih baik menurut saja apa yang diinginkan saki.
“veraa” panggil neneng dari kejauhan
“kamu kemana aja sih neng, dari tadi aku nyari kamu”
“hehehe biasa dimarahin bos”
“pasti gara-gara tadi telat ya, maaf ya aku ninggalin kamu, tapi kamu gak apa-apa kan?”
“tenang aja aku udah biasa kok, gimana aldi?”
“gimana apanya?” jawab vera bingung
“yakin gak ada apa-apa?”
“apasih ihhh” kesal vera meladeni ejekan neneng
Pertemuan tadi pagi adalah pertemuan pertama vera dan aldi, bahkan vera baru tahu jika aldi kerja ditempat yang sama dengannya. Karena aldi berbeda bagian dengan vera, aldi lebih sering menemui tamu-tamu penting.
“vera, ini kamar yang harus kamu bersihkan” ratna menyerahkan kunci ke vera.
“makasih ya”
“ohya vera tadi pak aldi pesen kalo kamarnya harus bener-bener rapih dan bersih jangan sampai ada debu yang masih nempel terus sepreinya diganti warna abu-abu soalnya yang mau make kamar itu sukanya warna abu-abu, ada satu lagi yang gak boleh kamu lewatkan jangan lupa ruangannya disfusser ruangannya kamu ganti lavender”
Mendengar semua yang dikatakan oleh ratna mengingatkan vera dengan saki mantan bosnya semua itu adalah kesukaannya dari warna abu-abu wangi bunga lavender dan gila kebersihan dan kerapihan.
“ver, kamu denger gak sih malah ngalamun, pak aldi bilang dia tamu penting”
“iya, makasih” vera mengangguk
Vera merasa khawatir jika orang yang akan menempati kamar itu adalah saki, tapi vera menepis semua pikirannya, mungkin ini semua hanyalah hal yang kebetulan. Kebetulan yang seratus persen sama.