Breath Of Love

Breath Of Love
18. Kehamilanku



Perutku sudah terlihat membesar kehamilanku sudah memasuki bulan keempat, tapi sejak pindah disini aku belum pernah mengecek kandunganku. Malam itu aku memberanikan diru untuk bicara dengan Marvel.


"Marvel apa kamu bisa luangkan waktu besok untukku?".


"Aku sibuk".


"Kalau begitu ijinkan aku keluar rumah".


"Tidak akan pernah".


"Tapi vel, selama aku pindah kesini aku belum pernah ke dokter untuk mengecek kandunganku".


Mendengar hal itu Marvel menyetujui untuk mengantarkanku ke dokter kandungan.


Keesokan paginya Marvel menepati janjinya untuk mengantarkanku ke dokter kandungan walaupun ia tidak menemaniku turun ia hanya menungguku didalam mobil.


Setelah melewati serangkaian pemeriksaan dokter memberi penjelasan jika bayi yang ada di dalam perutku cukup sehat hanya saja aku dianjurkan untuk minum susu khusus ibu hamil , minum vitamin dan berolahraga. Aku mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama agar tidak ada yang terlewatkan.


Setelah selesai aku tidak langsung menemui Marvel di parkiran tapi aku berniat untuk pergi ke rumah bu Lastri. Sebenarnya aku ingin sekali pulang kerumahku tapi keadaannya tidak memungkinkan jika aku pulang, ibuku pasti sedih melihat keadaanku. Jadi kuputuskan sebagai gantinya untuk mengobati rasa rinduku aku ingin menemui bu Lastri, meskipun aku tau keputusanku akan membuat Marvel mengamuk nantinya.


***


"Ahhhh kenapa Bianka lama sekali, udah sejam aku nunggu disini. Sebaiknya aku turun dan mencarinya". Gerutu Marvel


Marvelpun turun dari mobilnya dan bertanya ke reseptionist mengenai jadwalku dan reseptionist memberitahu kepada Marvel jika pemeriksaan atas namaku Bianka Sundari sudah selesai 15 menit yang lalu. Sontak saja jawaban itu membuat Marvel kesal dan marah. Marvel mencoba menghubungiku berkali-kali tapi panggilannya tidak terhubung ke ponselku. Aku memang sengaja mematikan ponselku karena aku tahu Marvel pasti akan menelfonku dan menanyakan keberdaanku.


***


"Assalammualaikum, bu. Ibu ini Bianka bu".


"Wallaikumsalam, masyaallah neng Bianka. Ibu kangen sekali".


" Iya bu Bianka juga kangen banget sama ibu".


"Neng kesini sama siapa?. Mas Marvel.mana?".


"Sendiri bu, Marvelnya lagi sibuk".


Bu, maafin Bianka ya Bianka bohong ke ibu Bianka gak mau bikin ibu kecewa kalau sebenernya Bianka kabur dari Marvel buat kesini.


"Kok ...ngalamun. Gimana kandungannya sehat?".


"Alhamdullah bu ,sehat tadi habis periksa".


"Alhamdullah kalau begitu. Mas Marvel gimana neng masih suka marah-marah".


" Enggak kok bu dia udah baik".


Aku terpaksa bohong lagi ke bu Lastri, aku gak mau bikin bu Lastri khawatir dengan apa yang sebenarnya terjadi di rumah tanggaku.


Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan bu Lastri dan aku rasa kerinduanku sudah cukup terobati aku ijin pamit pulang dengan bu Lastri aku tidak ingin membuat Marvel terlalu lama menungguku dirumah dia pasti akan benar-benar mengamuk.


***


"Assalammualaikum".


"Plakkkkkk".( Tamparan keras dari Marvel mendarat di pipiku).


Aku tidak berani menatap wajah marah Marvel, ia menarik tangan ku dengan kuat dan menjatuhkanku ke sofa.


"Marvel.....".


"Aku gak peduli lagi dengan kandunganmu, berani-beraninya kamu tipu aku. Pergi kemana kamu".


Aku hanya terdiam dan menangis melihat sikap kasar Marvel terhadapku.


"Jawab Bianka, aku butuh jawabanmu bukan air matamu".


"Maafin aku Marvel, aku tahu aku salah tapi aku gak bermaksud bohongin kamu".


"Dasar wanita gak tahu diri".


Kemarahan Marvel semakin menjadi-jadi dan ia pergi meninggalkan rumah dan melajukan mobilnya sangat kencang.


***


Aku hanya bisa menangis sambil merasakan panas pipiku bekas tamaparan Marvel. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB Marvel belum juga pulang, aku mulai cemas dan khawatir. Tak berapa lama terdengar suara mobil Marvel.


"Klekkk".


Marvel pulang kerumah bersama Milka.


"Marvel, kenapa kamu ajak dia kesini".


"Ini rumah aku kamu gak ada hak buat ngatur aku siapa yang boleh aku ajak kerumah ini".


"Bianka...bianka kalau bukan karna lo bunting Marvel juga ogah kali nikah sama kamu, chihhh".


Marvel dan Milka sungguh-sungguh keterlaluan bahkan mereka tak malu bercumbu di depanku. Aku berlari menuju kamarku aku benci mereka.


***


Paginya aku melihat Milka sudah berada dimeja makan, mengenakan kaos milik Marvel dan itu artinya mereka berdua tidur bersama.


Menyaksikan hal itu hatiku sakit tanpa sadar aku menitihkan air mata. Melihat raut wajahku yang sedih mbok Niti mencoba menenangkanku.


"Non yang sabar ya".


"Iya mbok aku gak apa-apa kok".


Pernikahan macam apa ini, aku menyiapkan sarapan untuk suamiku dan wanita selingkuhannya. Sejujurnya aku sudah tidak sanggup lagi melanjutkan pernikahan ini tapi aku sudah menandatangani perjanjian itu. Aku tidak mau kelak anakku menderita sepertiku.


"Ehhh Bianka tuangin aku minum".


"Kamu kan punya tangan bisa kan ambil sendiri".


"Beraninya kamu".


Marvel menarik tanganku sehingga tak sengaja menyenggol gelas yang ada disebelahku, sehinggal gelas itu terjatuh dan pecah.


"Bisa gak sih kamu itu gak bikin aku marah, gak bisa apa kamu ngelakuin sesuatu itu dengan benar. Cepet beresin".


"Iya vel aku ambil sapu dulu".


"Pake tangan".


Lagi-lagi Marvel menarikku dan aku terjatuh. Akkkkhhh salah satu pecahan gelas mengenai tanganku cukup dalam. Melihat aku terluka Marvel dan Milka tidak menolongku malah menertawakanku. Sembari menahan rasa sakit aku mengumpulkan satu persatu pecahan kaca dan segera bergegas menuju ke dapur dan mengobati luka ditanganku.


"Itu hukuman untuk orang yang pandai berbohong". Teriak Marvel padaku.


Aku hanya berbohong padanya sekali, tapi ia menghukumku sekejam itu. Dia menyakitiku berkali-kali aku tidak pernah membalasnya bahkan ia tak pernah sedikitpun merasa bersalah bahkan sekali melontarkan kata maaf meski hanya berpura-pura.