
Tak ada hal yang bisa Saki lakukan selain melawan orang-orang sams, dengan tangan kosong Saki baku hantam dengan dua orang bertubuh lebih besar darinya. Saki mendapat beberapa pukulan diwajah dan perutnya.
Terdengar suara tembakan diluar, polisi berhasil masuk. Terjadi adu senjata antara polisi dan orang-orang sams.
“Loe gak apa-apa” Johan membantu Saki untuk bangun
“Bantu gue, gimana Aldi?”
“Aldi kena tempak dibahu kirinya, tapi loe tenang aja Aldi udah di ambulan sama Sintia”
“Loe udah tau dimana ruangannya?” tanya Johan
“Gw belum nemu tapi gw rasa ada disebelah ruangan itu”
“Loe yakin masih kuat?”
“Gw yakin, gw gak akan habisin mereka semua”
Saki dan Johan menuju ruangan itu, ruangan itu dijaga sangat ketat. Namun polisi dapat melumpuhkan orang-orang itu meskipun banyak juga polisi yang terluka.
Saki mendobrak pintu itu, mata saki membola tak kuasa menahan air matanya saat melihat perempuan yang ia cintai sekaligus adiknya, diperlakukan sekeji itu. Vera ditelanjangi dan ada seorang pria yang sedang melakukan adegan tak senonoh. Johan memalingkan wajahnya tak ingin melihat tubuh Vera.
“Saki” ucap bibir Vera
Johan merampas kamera yang digunakan untuk merekam Vera, dan menghancurkannya. Saki melepas bajunya dan menutupkan ditubuh Vera. Sams melepaskan pelatuk pistolnya kearah Saki.
“Dorrr” Satu tembakan
“Dorrr” Dua tembakan
Vera memeluk tubuh Saki dan membalik merubah posisi tubuhnya ke posisi tubuh Saki.
“Dorrrr…dorrr…dorrrrr…dorrrr”
Tembakan bertubi-tubi mengenai tubuh Vera, Vera terjatuh kelantai begitu juga dengan Saki.
Polisi membantu Johan yang masih bertahan di hajar beberapa orang. Namun sayangnya sams bisa lepas dan kabur. Polisi mengamankan beberapa orang-orang sams, Vera, Johan dan Saki segera di bawa ke Rumah Sakit.
Johan dan Aldi sudah mulai membaik, namun Saki masih belum sadarkan diri. Sudah tiga hari Saki koma.
“Saki kamu sudah sadar nak”
“Bunda, dimana Vera Bun?”
“Kamu tenang dulu , pikirin dulu kondisi kamu”
“Vera baik-baik aja kan bun”
“Ya, kamu jangan banyak gerak luka kamu masih basah”
“Dimana kamar Vera bun, saki mau lihat Vera”
“Bunda gak akan ijinin kamu ketemu Vera kalau kamu masih kayak gini”
Saki belum tahu jika nyawa Vera tidak tertolong, Vera kehilangan banyak darah dan salah satu peluru menembus hingga ke hati Vera. Belum lagi obat penenang yang selama ini sams suntikan ketubuh Vera, merusak system saraf dan system reproduksi Vera.
"Pak Saki, saya mau ngasih ini buat bapak" Sintia menyerahkan amplop berwarna coklat
Saki membuka amplop tersebut dan membacanya.
Hy pak Saki, Vera harap bapak baik-baik saja terimakasih sudah mau menerima Vera. Asal bapak tau bapak adalah cinta pertama Vera. Terimakasih sudah hadir dalam hidup Vera, maafin Vera karena Vera udah banyak ngerepotin Pak Saki. Mungkin bapak juga adalah cinta terakhir Vera. Pak Saki adalah Nafas Cinta Vera. Semoga kelak kita bisa dipertemukan di waktu yang berbeda.
Saki menangis membaca isi hati Vera yang tertulis diselembar kertas.
"Saya harap bapak bisa menerima bahwa Vera sudah gak ada lagi bersama kita"
"Gak sin, Vera masih hidup"
"Saya tau gak mudah untuk bapak Nerima semua ini.Ini hanya soal waktu pak"
"Diakhir nafasnya Vera membawa cintanya untuk bapak, yang mungkin gak pernah Vera ungkapin sebelumnya"
"Saya pamit pak"
Sepanjang hari Saki merenungi semua yang terjadi, andai Saki tak membiarkan Vera pergi mungkin Vera masih ada disini bersamanya.