
Hana yang pulang dengan wajah kesal langsung berlari dan membanting pintu kamarnya. Didalam kamar Hana berteriak dan melempar semua benda yang dekat dengan jangkauannya. Ia menangis meluapkan kekesalannya kepada Saki dan berkali-kali meneriaki nama Saki.
"Aaaaaa dasar kau brengsek , pria brengsek.....Sakiiiii".
Mendengar teriakan putrinya bu Sandra yang sedang duduk diruang tv, menjadi gelisah dan khawatir karena tak biasanya putrinya bersikap demikian. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk melihat kondisi putrinya.
"Hana....Hanaaaa....tokkk....tokkkk...tokkk Hanaaa kamu kenapa nak??? buka pintu nakk mamah mau masuk Hana".
Saat Hana membuka pintu kamarnya terlihat kamar Hana yang sangat berantakan , barang-barang yang tadinya tersusun rapih sekarang sudah berserakan dilantai. Dengan lembut bu Sandra meraih tangan putrinya serta merapikan rambut hana yang sedikit berantakan.
"Hana...ada apa nak, kenapa datang-datang marah-marah seperti ini?".
"Hikkkk hiikkkkk, Saki mah".
"Saki???? siapa Saki nak?".
"Saki putra tante Tania, mamah ingat kan kemarin malam Hana main kerumah tante Tania".
"Emmm iya".
"Hana bertemu Saki, dan Hana langsung jatuh hati mah dengan Saki, tapi tadi Saki berkata kasar sama Hana mah...hikkh ....hikkkk".
Bu sandra memeluk tubuh putrinya sembari menenangkannya.
"Hana, jangan sedih nanti mamah yang akan bicara sama tante Tania".
"Bener mah, terimakasih mah".
Melihat putrinya sudah kembali tenang, bu Sandra kembali keruang tamu dan mencoba menghubungi bu Tania.
"Haloo...selamat siang".
"Iya siang".
"Saya Sandra bu, mamahnya Hana".
"Ohhhh bu Sandra, iya bu bagaimana bu?".
"Begini bu, saya sekeluarga bermaksud mengundang bu Tania sekeluarga untuk makan malam dirumah kami, kemarin kan bu Tania sudah memasakan makan malam untuk Hana jadi gak ada salahnya kan bu kalau saya juga masakin makan malam untuk Saki?".
"Ouhhhh iya bu terimakasih atas undangannya , saya senang sekali menerima undangan dari bu Sandra".
"Baik bu, ditunggu kehadirannya ya bu".
"Iya bu baik".
***
"Siapa bun yang telfon? kelihatannya bunda senang sekali setelah mendapat telfon?jangan-jangan bunda habis menang undian ini.... hahaha".
"Ihhhhh si ayah bisa saja, becandanya. Ini lho yah tadi bu Sandra yang telfon?".
"Sandra???? bukannya Sandra istrinya gunawan?".
"Iya ayah, sandra istrinya pak Gunawan rekan kerja ayah".
"Ada apa dia telfon bun?".
"Jadi bu Sandra mengundang kita sekeluarga untuk makan malam dirumahnya, yah".
"Issstt untuk apa,bun?"
"Emmmmm apa jangan-jangan mereka ingin menjodohkan Hana dengan Saki , yah?".
"Bunda.....".
"Ayah kenapa sih, yah Hana tu gadis yang baik,cantik ,santun dan pinter lagi sangat cocok dengan Saki".
"Bunda....bunda".
"Ayah mah ihhhhh, nanti malam kita datang ya ayah, gak enak lho kalo kita gak datang".
***
Saki yang berada dikantornya masih menggerutu kesal atas sikap Hana, ia sangat risih ketika ada wanita yang bersikap frontal padanya.
Johan yang hendak memberikan berkas yang harus Saki tanda tangani , dan memberitahu jika siang nanti ada meeting dengan klien terheran melihat tingkah laku Saki yang berbicara sendiri.
"Loe, kenapa sih??? wanita cantik itu mana? Hana?".
"Jangan sebut wanita itu di depan gue".
Johan kebingungan dengan sikap sahabatnya, ia memandangi Saki dari atas sampai bawah, dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil berkata dalam hatinya" Apa bener gosip yang beredar, kalau Saki gak doyan perempuan???hmmm masak iya sih, serem juga ya".
Saki menyadari jika dirinya sedang diintimidasi oleh Johan, langsung melempar berkas yang ia terima dari Johan ke meja kerjanya sehingga membuat Johan terkejut.
"Mikir apa loe???".
" Heeee.....gak Sak gue cuma lagi mikir planing buat besok".
"Yakin loe......., gak lagi mikir soal gue".
"Emmmmm ....heeee...dikit".
"Brengsek loe, buang jauh-jauh pikiran kotor loe soal gue. Gue gak pernah nyentuh cewek ataupun disentuh cewek bukan berarti gue gak suka cewek gilakkkk kali loe".
"Sorry...sorry Saki, abis loe dingin banget sama cewek....Hana yang cantik dan bohay aja loe cuekin. Loe nyari yang kayak gimana sih???".
Tiba-tiba telfon Saki berdering, panggilan tersebut dari bundanya Tania, dengan cekatan Saki langsung menerima panggilan bundanya.
"Halo bun".
"Saki...nanti pulang cepet ya nak, soalnya kita dapat undangan makan malam dirumah om Gunawan".
"Tapi bun, kerjaan Saki masih banyak bun".
"Pokoknya bunda gak mau tau, Saki harus pulang cepet. Saki....Hana sudah menyiapkan ini semua lho nak untuk kita, kasihan lho dia".
"Tapi bun......".
"Pokoknya bunda tidak terima alasan Saki, atau bunda dan ayah jemput Saki ke kantor?".
"Iya...iya bun".
Tutttt....tutttt....tuttt.
"Hhhhh sial bener-bener sial...., apa sih maunya cewek itu?".
"Udahlah Saki, loe gak usah marah-marah terus mungkin maksud Hana baik loe gak boleh suudzon sama dia".
"Hhhhhh shiittt ....bikin mood gue ancur aja".
***
Malam harinya Saki terpaksa ikut kerumah Hana, karena Saki tidak ingin membuat bundanya sedih. Pak Burhan dan pak Gunawan sibuk dengan obrolan mereka soal bisnis begitu juga dengan bu Tania dan bu Sandra mereka asik mengobrol-obrolan khas ibu-ibu entah apa yang mereka obrolkan. Sedangkan Hana yang sedari dati tak melepaskan pandangannya dari wajah tampan Saki. Saki sibuk mengotak-atik ponselnya tak sedikitpun ia menghiraukan Hana, bahkan ia memandang sinis kearah Hana.
Saki meminta ijin untuk ke toilet, tak disangka Hana mengikuti Saki yang sedang berjalan kearah toilet. Hana yang sudah dimabuk cinta tak menghiraukan lagi akan harga dirinya sebagai wanita. Ia menarik tangan Saki tubuh Saki reflek memeluk tubuh Hana , kesempatan itu tak disia-siakan oleh Hana dengan sigap Hana mengecup bibir Saki. Mendapat perlakuan seperti itu dari Hana, Saki semakin geram. Tapi kali ini ia tidak bisa memarahi Hana seperti kejadian di kantor pagi tadi.Ia harus menjaga image dirinya dan nama baik keluarganya. Saki mendorong tubuh Hana ke didinding, menelungkup kedua pipi Hana dan membisikkan kata-kata pedas di telinga Hana
" Beginikah sikap seorang putri???bahkan lebih menjijikan dari seorang jalang".
Setelahnya Saki mengurungkan niatnya untuk ke toilet, ia berjalan kembali ke meja makan.
Hana yang mendapat ucapan pedas dari Saki, tak bisa berkata apa-apa, ia mengepalkan tangannya sembari menggigit bibir bawahnya. Ingin rasanya ia menampar Saki yang sudah keterlaluan merendahkannya, harusnya Saki bersyukur tanpa ia harus meminta Hana dengan senang hati menciumnya. Lamunan Hana dibuyarkan oleh mamahnya bu Sandra yang mengajaknya kembali ke meja makan karena acara makan malamnya akan segera dimulai.
Pak Burhan yang sedari tadi asik mengobrol dengan pak Gunawan melirik kewajah putranya, ia mendapati wajah putranya begitu kesal. Tapi pak Burhan enggan untuk bertanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, keluarga pak Burhan pamit pulang karena dirasa sudah sangat larut.
"Pak Gunawan, bu Sandra , Hana terimakasih atas jamuan makan malamnya. Kami sangat tersanjung dan tentunya perut kami begitu kenyang karena makanannya sungguh enak".
"Hahahahaha....Burhan..Burhan kau memang tidak pernah berubah jika soal makanan".
Tawapun akhirnya pecah karena candaan pak Burhan, tapi Saki sedari tadi hanya diam dan sesekali tersenyum.
"Nak Saki, bapak sangat bangga terhadapmu tidak disangka Burhan memiliki anak yang hebat sepertimu".
Mendengar pujian dari pak Gunawan Saki sedikit tak enak hati, ia hanya tersenyum. Dalam hatinya berkata "Sungguh disayangkan pak Gunawan memiliki putri seperti Hana".
Akhirnya keluarga pak Burhan pamit kembali kerumahnya.