
Akhirnya setelah hampir sepekan dokter Nadira memberi kabar kepada Saki bahwa kondisi Bianka sudah stabil dan bisa untuk dikunjungi.
Saki sangat-sangat merasa bahagia hingga air mata menetes diujung matanya. Saki dan Joha bergegas menuju rumah sakit yang telah diinfokan dokter Nadira. Sesampainya disana dokter Nadira sudah menunggu Saki diruang tunggu dekat reseptionis, Saki begitu menggebu-gebu ia sungguh tidak sabar untuk bertemu ibu kandungnya.
Dokter Nadira membimbing Saki dan Johan untuk mengikuti langkahnya, hingga mereka sampai disebuah taman tempat Bianka berada.
Bianka duduk termenung diatas kursi roda, tubuhnya begitu kurus dan pucat. Meski begitu Saki melihat bahwa ibu kandungnya begitu cantik.
Seketika tubuhnya lemas, hatinya bergetar melihat kondisi ibu yang telah melahirkannya seperti itu. Tapi Saki menguatkan dirinya, kemarahan mulai merasuki pikirannya, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membuat ibunya kembali pulih dan menemukan orang yang sudah membuat ibunya depresi.
Perlahan Saki mulai mendekati Bianka, Saki bersimpuh dihadapan Bianka. Saki tak kuasa menahan air matanya.
"Bu......ini Saki bu, Saki udah datang. Ini Saki anak ibu .....bu....".
Bianka menatap Saki dalam, mengusap air mata Saki yang berderai. Timbul rasa hangat hatinya. Saki memeluk tubuh ibunya, mendekapnya erat dan tak hentinya memanggil ibu.
Seketika suasana menjadi haru. Johan, dokter Nadira dan dokter Bani pun tak kuasa menahan air mata harunya.
Bahkan mereka tak menyangka jika Bianka setenang itu bertemu Saki, mungkin memang ikatan diantara mereka tidak bisa dipungkiri.
Karena jam besuk sudah berakhir dan Bianka harus kembali, Saki memutuskan untuk berpamitan tapi ketika Saki akan melangkah pergi tangan Bianka menarik tangan Saki seolah tak mengijinkan Saki pergi. Bianka memandang Saki penuh harap, berharap Saki lebih lama bersamanya. Saki menoleh kearah Dokter Bani mengisyaratkan meminta ijin, dokter Bani membalas dengan anggukan.
Mungkin dengan bersama Saki, Bianka jadi lebih tenang dan dapat segera pulih.
Dengan penuh telaten dan kesabaran Saki menjaga ibunya, hingga ibunya terlelap.
Saki menatap wajah ibunya penuh kasih, mungkin jika ia merawatnya dari awal ibunya tidak akan menderita selama ini. Tapi ia tidak bisa menyalahkan takdir. Orang tua angkatnya sudah begitu baik merawatnya hingga sesukses sekarang.
Malam mulai larut, Saki memutuskan kembali untuk kerumah. Walau sebenarnya ia masih ingin bersama ibunya.
"Pak Saki terimakasih, kedatangan bapak sangat-sangat berpengaruh positif bagi mental ibu Bianka. Saya berharap pak Saki bisa sering-sering datang mengunjungi ibu Bianka".
"Saya yang seharusnya berterimakasih kepada dokter Nadira dan dokter Bani karena selama ini dokter telah merawat dan menjaga ibu saya".
"Ini sudah tugas kami pak sebagai dokter, saya akan menjadwalkan pertemuan pak Saki dam ibu Bianka kembali. Semoga ibu Bianka mau untuk diajak berkomunikasi agar kita bisa mendapatkan informasi mengenai orang-orang dimasalalunya".
"Saya akan terus berusaha dok, demi kesembuhan ibu saya".
"Iya pak".
"Kalau begitu saya dan teman saya pamit pulang dulu ya dok. Sekali lagi terimakasih dok atas bantuan dokter".
"Baik pak sama-sama".
Saki dan Johan kembali kerumahnya untuk beristirahat dan memikirkan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya, karena jika menunggu Bianka akan membutuhkan waktu yang cukup lama.