
Kebencian mamah Marvel padaku semakin menjadi, hampir setiap hari ia datang kerumah Marvel. Ketika mamahnya memperlakukanku dengan tidak baik Marvel hanya diam dan tak sedikitpun membelaku.
Hingga akhirnya aku mengalami kram perut ,perutku terasa sakit sekali darah mengalir dari sela-sela kakiku pandanganku mulai kabur.
***
Aku tersadar dirumah sakit, tubuhku lemas dan kepalaku masih pusing.
"Sus....suster".
"Iya nona, sebentar saya panggilkan dokter".
"Baik sus".
"Bianka kamu udah sadar".
"Vel, kenapa kamu bawa aku ke rumah sakit?. Kenapa kamu bunuh aku lalu kau hidupkan aku lagi?".
"Ya aku panik lihat kamu berdarah-darah".
"Vel, biarkan aku pulang ke rumah bu Lastri aku sudah tidak sanggup hidup denganmu aku tidak sanggup menerima perlakuan mamahmu terhadapku".
"Gak, Bi. Jika kamu pergi itu artinya kamu melanggar perjanjian itu, dan aku punya hak untuk nuntut kamu".
Aku lupa jika aku dan Marvel telah melakukan perjanjian hitam diatas putih. Aku hanya bisa pasrah.
***
"Selamat siang ibu. Bagaimana kondisi ibu sekarang?".
"Sudah mendingan dok".
"Ibu, mengalami kontraksi yang cukup hebat sehingga ibu mengalami pendarahan saya harap lain kali ibu harus menjaga kondisi fisik ibu jangan sampai mengangkat beban terlalu berat, kelelahan dan kurang istrahat. Dan jangan setres ya bu karena kondisi psikis ibu akan mempengaruhi perkembangan janin".
"Baik dok. Tapi janin saya baik-baik saja kan dok?".
"Sejauh ini janinnya berkembang dengan baik bu".
"Alhamdullah".
"Kalau begitu saya permisi dulu".
"Iya dok terimakasih".
***
Sesampainya dirumah, ternyata mamah Marvel dan Milka sudah ada disana. Mamah marvel memarahiku habis-habisan dan memintaku mengganti biaya rumah sakit yang telah Marvel bayarkan. Dengan apa aku membayarnya aku tidak punya uang, aku juga tidak punya pekerjaan. Mamah marvel tidak menerima alasan apapun, ia tetap kekeh memintaku untuk mengganti uangnya.
Aku berteriak pada Marvel dan meminta Marvel untuk membiarkanku pergi, tapi tiba-tiba tamparan keras mendarat di pipi kananku. Ini bukan kali pertama Mamah marvel menamparku.
Melihat itu Marvel hanya diam dan menarikku dan mengurungku di kamar.
***
"Tok...tokkk, non "
"Iya mbok".
"Tolongin Bianka mbok".
"Sebentar non, non ini mbok bawain makanan buat non".
"Mbok, Bianka mau keluar dari sini".
"Wowwwww, hebat ya kalian. Mbok niti saya bayar mbok bukan untuk ngurusin orang ini".
"Ma-maaf nyonya saya cuma nganter makanan nyonya".
"Kali ini mbok saya maafkan ya, tapi jika hal ini terjadi lagi saya gak segan-segan pecat mbok".
"Maaf nyonya, saya permisi".
"Mah, lepasin Bianka tolong. Bianka janji bayar semua hutang Bianka tapi tolong biarin Bianka pergi".
"Hhhhhh, kamu denger baik-baik aku tidak akan pernah biarin kamu hidup dengan tenang. Kamu sudah ngancurin reputasi keluarga ini, ngerti".
"Tapi mah....".
"Dan berhenti panggil aku mamah karena aku bukan mamahmu". sambil menutup pintu.
"Mah bukain mah, jangan kunciin Bianka".
***
Berhari-hari aku dikunci di dalam kamar ini, bahkan untuk makan mbok niti harus sembunyi-sembunyi memberiku makanan. Tidak ada yang bisa ku mintai pertolongan. Tiba-tiba aku teringat Pino, dan kebetulan aku hafal nomor telfon pino. Aku memberikan nomor telfon Pino ke mbok niti, semoga saja Pino bisa dihubungi dan Pino mau menolongku.