
Hampir sebulan lamanya Vera mengurung diri dikamarnya, kematiannya ayahnya membuat hatinya hancur terlebih ia tak sanggup jika harus melihat wajah orang yang ia sayangi yang ternyata adalah kakak tirinya.
“ver, kamu gak kerja” tanya milka
“huffft, sepertinya vera mau resign aja mah”
“apa??? Resign kamu bilang terus kalo kamu resign kita mau makan apa vera?”
“vera bisa cari kerja yang lain ,mah”
“terserah kamu,pokoknya mamah gak mau nanggung hidup kamu”
“iya mah”
Vera bersiap untuk pergi kekantor, tekadnya sudah bulat kedatangannya pagi ini kekantor hanya ingin mengajukan surat resignnya.
Diantar ojol vera menuju kantor tempat vera bekerja, sesampainya dikantor vera tak langsung masuk ia memandangi gedung mewah itu, memutar kembali semua kenangan yang terjadi dikantor itu, kenangan yang gak akan vera lupakan, kenangan yang begitu indah namun menyakitkan.
“vera” sapa sintia
“ehh sintia”
“kamu ngapain berdiri disini, ayo masuk!!!aku kangen tau sama kamu, aku turut berduka ya ver” semari memeluk vera
“makasih ya sintia”
Sintia dan vera masuk bersama
Vera sangat gelisah, bagaimana jika saki memarahinya karena sudah absen kerja selama satu bulan, vera menghela nafas panjang, dan kembali dengan kesibukannya didepan computer.
“Vera”
“Pagi pak johan”
“maff ya pak saya baru masuk”
“gak apa-apa vera,saya pikir kamu udah gak mau kerja disini lagi”
“saya memang mau ngajuin resign pak, ini surat resign saya”
“loh kenapa?”
“saya mau istirahat dulu dirumah pak”
“apa waktu sebulan gak cukup buat kamu vera, pasti kamu ada alasan lain kan?”
“gak ada kok pak”
“mending kamu pikirin lagi, aku gak yakin saki bakal ngijinin kamu keluar dari sini”
“saya akan tetap keluar pak ijin atau tanpa ijin pak saki”
“saya ijin keruangan pak saki dulu pak”
“silahkan”
Vera mengetuk pintu ruangan saki, vera menghela nafas panjang sebelum masuk keruangan saki,
“permisi ,pak”
saki tak bergeming dengan kehadiran vera, apa moodnya sedang tidak baik, pak saki Nampak lebih dingin dari biasanya.
“maaf pak saya, …”vera menyodorkan berkasnya dihadapan saki
Saki masih tak bergeming, saki masih sibuk dengan laptop didepannya, sampai vera mengulang lagi ucapannya.
“pak saki maaf saya,…”
Saki menggebrak meja kerjanya, menatap vera dengan mata elangnya, vera menunduk tak berani melihat kearah saki.
Saki mengambil paksa berkas pengunduran diri dari tangan vera, tanpa basa-basi langsung menandatangani berkas itu.
“sudahkan, silahkan keluar dari ruangan saya” saki bicara dengan nada dingin
“baik pak ,terimakasih” vera meninggalkan ruang kerja saki dengan perasaan tak karuan, bukankah ini yang vera inginkan tapi kenapa hatinya begitu sakit, saki tak mencegah vera untuk resign dari kantornya, setidaknya vera ingin ada penolakan dari saki, yahhh begitulah wanita sangat rumit.
Satu minggu yang lalu saki sempat datang kerumah vera, namun disana saki bertemu dengan om pino. Om pino mengajak saki untuk mengobrol, dalam obrolan itu pak pino meminta saki untuk menjauhi vera.
“Saki, om tahu diantara kamu dan vera sudah terjalin hubungan yang lebih sekedar dari atasan dan bawahan, om minta maaf kalian harus menanggung akibat dari kesalahan kami dimasa lalu,om harap kamu bisa mengerti jika kalian ini saudara jadi tak sepantasnya jika kalian bersama,om mengerti ini sangat berat untuk kalian tapi om yakin ini juga yang terbaik untuk kalian”
Itulah mengapa saki bersikap seperti itu kepada vera, mungkin dengan membuat vera benci dan sakit hati terhadapnya dapat membuat semua perasaannya berubah.
Vera mengemasi semua barangnya,
“loe yakin vera, sama keputusanmu?” tanya sintia
“hhhhhhmmmm, ya sin, lagian pak saki acc kok kalau aku resign”
“hah yang bener???? Bukannya kalian have something special?”
“husss, jangan bikin gosip yang enggak-enggak nanti kalo tau orangnya kamu bisa dipecat lho”
“hahahhaha, yang special aja kena kick apalagi gw???
“ati-ati loe di hap, macannya lagi ngamuk”
“ngamuklah ditinggal pawangnya pergi” ledek sintia
“udah ahh kamu bukan bantuin malah ngeledek terus dari tadi” vera mendengus kesal
Setelah selesai membereskan semua barangnya, sintia dan vera saling berpelukan.
“makasih ya sin, udah mau jadi temen gw selama disini”
“iya ver, sama-sama loe ati-ati ya, jangan lupain gw”
“ya enggaklah,loe itu temen gw satu-satunya disini”
“karena Cuma gw disini yang gak naksir sama bos lu wkwkwk”
“huuuu dasar”
“ver, tapi kita masih bisa ketemu kan?”
“gw gak yakin sin, untuk sementara waktu gw mau tinggal dirumah nenek gw di bandung”
“kenapa mesti pergi gitu sih ver”
Vera hanya tersenyum enggan menjawab pertanyaan sintia,
“khhhmmm” suara seseorang berdehem mengagetkan vera dan sintia yang tengah asik berbincang, setelah mengetahui ternyata pak johan yang berdehem sintia bergegas kembali ke ruang kerjanya.
“pak” sapa vera canggung karena sintia kabur meninggalkannya
“ver, aku tau hubunganmu sama saki lagi gak baik tapi ini bukan solusi yang terbaik buat kalian”
“maaf pak, saya rasa waktunya gak tepat jika dibicarakan sekarang”
“oke-oke sorry, tapi ver saki itu sayang banget sama kamu, kamu yakin ninggalin dia begitu aja?”
“biarkan dia pergi, seribu sekertaris kayak dia aku bisa cari dalam waktu sehari” ucap saki yang tiba-tiba datang dari arah pintu
Membuat vera dan johan terkejut.
“ki, loe apa-apaan sih”
“bukannya udah aku tanda tanganin berkasmu, kenapa masih disini? Apa perlu kupanggilkan security untuk mengantarmu keluar”
Ucapan saki sungguh menyakitkan hati vera, vera mengepal kedua tangannya berusaha untuk menahan air matanya.
“saya sudah selesai kok pak, terimakasih sudah menerima saya disini maaf atas kesalahan yang saya perbuat selama menjadi sekertaris bapak, sekali lagi terimakasih, permisi”
“ver…,vera” johan ingin menahan vera namun dihalangi oleh saki.
“ki, loe keterlaluan” kesal johan, yang berlalu pergi meninggalkan saki sendiri
Siang itu juga vera pergi kerumah neneknya yang ada di bandung, meninggalkan semua lukanya disini, berharap bisa hidup lebih baik disana.