
Saki mengepalkan tangannya menahan amarah melihat Vera berada dalam dekapan Johan.
Berkali-kali umpatan keluar dari mulutnya, Saki mulai bertanya pada dirinya sendiri apakah ia menyukai Vera???? Saki yang sedang dalam emosi tiba-tiba teringat ibunya. Saki bergegas pergi menemui ibunya, barangkali dengan bertemu ibunya hatinya lebih tenang.
Langkah kakinya terhenti saat ia sampai di Lobby, Saki melihat Hana disana ia tak ingin Hana melihat dirinya, bisa-bisa moodnya semakin buruk. Saki mengendap-ngendap menuju mobilnya.
"Hana???" sapa Johan dari kejauhan sembari melangkah mendekati Hana.
"Hallo Johan....!!!". Balas Hana
"Kok lu ada disini, bukannya lu tadi lagi sama Saki diruangan???".
"Ini gw lagi nyariin Saki, tadi doi pamit mau ketoilet terus gak balik lagi. Lu liat dia??".
"Lah , enggak. Kenapa gak coba lu telfon aja".
"Ide bagus, kok gw gak kepikiran ya dari tadi".
Hana menghubungi nomor Saki beberapa kali tapi tak ada jawaban darinya.
"hufffthhhhh...gak diangkat".
"Emmm mungkin disilent hpnya. Biasa doi kalau gak mau diganggu gitu".
"Yaudah deh gw balik aj".
"Berani lu balik sendiri??? Apa perlu gw anterin??".
"Lebay lu, gak usah gw takut lu perkosa hahaha".
"Sialan lu, ya kalo lu mau sih gw gak nolak haha".
"Dihhhh ogah gw, bye".
"Okay, take care".
Seperginya Hana , Johan mendadak cemas kenapa Saki tiba-tiba menghilang. Biasanya apa-apa dia pamit sama gw nahhh ini main nyelonong aja.
Mata Saki membola seketika melihat Pak Pink rekan bisnisnya menggenggam erat tangan ibunya, bahkan mereka berdua terlihat begitu akrab. Untuk beberapa menit Saki diam mematung menyaksikan Pak Pino dan Ibunya mengobrol, bahkan sikap pak Pino begitu tulus terhadap ibunya.
Bianka yang menyadari kehadiran putranya memberikan isyarat agar Saki mendekatinya. Pak Pino yang melihat kedatangan Saki mencoba menghapus air matanya. Raut wajah Saki tampak kebingungan. Mengapa pak Pino bisa berada disini.
Kebingungannya semakin bertambah ketika tiba-tiba pak Pino memeluknya, sangat erat hampir ia kehabisan nafas.
"Maaf pak, ijinkan saya untuk bernafas".
"Ohhhhh maaf ya nak Saki, saya sangat-sangat bahagia sekali".
"Tapi saya tidak mengerti, mengapa anda bisa bertemu dengan ibu saya???".
"Maaf pak, ibu Bianka harus kembali beristirahat". Perawat datang menghampiri kursi roda Bianka.
"Tapi saya masih ingin disini, sus."Rengek Bianka.
"Tapi Bu.....".
"Bu, besok Saki kesini lagi. Sekarang ibu minum obat dan istirahat". Saki memberikan kecupan sayang dikening ibunya.
Bianka menatap wajah Saki dan Pino bergantian. Pino memberikan senyumannya untuk Bianka. Bagaimana tidak rindu setelah bertahun-tahun lamanya mereka akhirnya dipertemukan. Bianka adalah cinta pertama Pino hmmmm bisa jadi cinta terakhir juga untuk Pino karena sebenarnya ia sampai sekarang belum pernah menikah.
Pino mengajak Saki untuk minum coffe bersama di cafe sebrang. Pino menceritakan semuanya kepada Saki tanpa terlewatkan satu pun. Mendengar cerita itu hati Saki semakin berkecambuk. Entah ia harus senang atau sedih. Tapi Pino belum menceritakan soal Vera karena Pino tak ingin Saki membenci Vera dan memecat Vera. Pino harus menunggu waktu yang tepat untuk bisa mempertemukan Marvel, Bianka, Saki dan Vera. Tapi pasti tak mudah untuk Pino lakukan.
Pino tak ingin tergesa-gesa .
Ponsel Saki berdering, ternyata sejak tadi Johan terus saja menghubunginya. Iya memang cukup lama Saki pergi.Cukup malas untuk mengangkat telfon dari Johan dan memilih mematikan ponselnya. Walaupun tak seharusnya ia bersikap seperti itu terhadap Johan. Tapi lagi-lagi ini masalah hati!!!!!
Pino yang melihat raut wajah Saki, terkekeh.
"hmmmm Jangan mencampurkan urusan hati dengan kerja bisa kacau nantinya".
Saki yang mendengar ucapan Pino , merasa malu dan canggung.
Akhirnya mereka berdua mengakhiri percakapan dan kembali melanjutkan aktivitasnya kembali. Sebelum pergi mereka saling berpelukan. Saki melangkah dahulu untuk kembali ke kantornya.