Breath Of Love

Breath Of Love
27. Saki yang Menawan



Tak hanya cerdas,kritis dan bertanggungjawab, Saki memiliki kharisma dan wajah yang menawan yang mampu membuat para wanita histeris ketika melihatnya. Tubuhnya yang atletis ,kulitnya yang putih hidung mancung dan alis tebalnya mampu membuat para gadis terpana akan ketampanannya. Tapi sikap cuek dan dingin membuat nyali para wanita menciut untuk mendekatinya.


Selama ini Saki tidak pernah sekalipun dekat dengan wanita, bahkan tak ada wanita yang membuatnya tertarik. Saki hanya memiliki satu teman dekat Johan Sailendra, Saki dan Johan merupakan teman sejak dibangku SMA dan akhirnya memutuskan kuliah dibidang yang sama. Setelah menjabat sebagai CEO diperusahaan ayahnya Saki meminta johan untuk menjadi asistennya. Johan mengiyakan permintaan sahabatnya itu.


"Saki, lu kenapa sih gak cari sekertaris cewek aja kan lebih enak gitu".


"Ekhemmm.....".


Saki hanya mengeluarkan deheman yang bertanda ia tidak menyetujui usulan Johan. Berbeda dengan Saki , Johan hari-harinya selalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Entah hanya untuk menemaninya tidur atau hanya sekedar menemaninya minum.


Karena tumbuh dan besar di Jerman tak ayal membuat Saki mengunjungi tempat-tempat club malam, tapi club yang dikunjungi Saki adalah club kalangan elit dan tidak sembarangan orang bisa masuk. Di club Saki hanya duduk didekat meja bar ditemani segelas bir ditangannya. Saki menolak semua wanita yang mendekatinya, wanita-wanita yang ada di club tersebut adalah wanita-wanita pilihan, paras dan bodynya juga aduhai. Tapi itu semua tak menghoyahkan hasrat Saki. Berbeda dengan Johan yang duduk di sofa dan ditemani dua wanita disampingnya. Yahh.... Saki tak heran dengan tingkah sahabatnya.


"Saki, lu gak have fun bro".


"Shit....".


Saki mengumpat melihat tingkah laku Johan, ia memutuskan untuk pulang karena besok ia harus memimpin rapat.


Saki melajukan kendaraannya, agar cepat sampai dirumah.


Sesampainya dirumah Saki melihat seorang gadis tengah duduk di meja makan bersama ayah dan bundanya. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Hana putri keluarga Gunawan salah satu rekan bisnis pak Burhan.


Hana gadis yang cantik dan anggun ,ia juga gadis berpendidikan. Dilihat dari gerak gerik dan isyarat tubuh Hana, Hana memiliki ketertarikan terhadap Saki. Tapi tak sedikitpun Saki tertarik terhadap Hana. Menyadari Saki tak merespon dirinya Hana pun mendengus kesal.


"Saki, ke kamar dulu ya bun".


"Ehhh kokk... Saki Hananya ditemenin makan dulu".


"Saki capek bun".


"Emmm gak apa-apa kok tante, lagian Hana juga mau pamit besok pagi Hana ada kerjaan".


"Kok buru-buru sih Hana".


"Emmmm....Saki besok boleh kan aku datang ke kantormu".


Mendengar ucapan Hana , Saki hanya mengerutkan dahinya. Ia tak bisa menolak permintaan Hana di depan ayah bundanya, karena itu hal yang percuma. Saki tak menjawab permintaan Hana ia berlalu meninggalkan ayah, bunda dan Hana yang masih dimeja makan menuju kamarnya di lantai atas. Melihat tingkah laku Saki yang dingin terhadapnya Hana merasa kecewa dan sakit hati, selama ini tak ada seorang pria pun yang menolak kecantikannya.


Melihat raut wajah Hana yang kesal karena ulah Saki bu Tania mencoba menenangkan Hana.


"Hana, boleh kok kalau mau main ke tempat kerja Saki. Ohhh ya jangan lupa bawain puding mangga kesukaan Saki. Siapa tau dia jadi terkesan sama kamu".


"oh ya tante??? Baiklah tante besok hana akan buatkan puding mangga spesial untuk Saki. Terimakasih banyak ya tante".


Saran dari bu Tania membuat wajah kesal Hana berubah menjadi senyum bahagia. Melihat wajah Hana yang tak lagi kesal membuat hati bu Tania sedikit lega.


"Om, Tante terimakasih atas makan malamnya masakan tante sungguh enak".


"Hana kamu bisa saja mujinya, sering-sering main kerumah ya Hana".


"Baik tante pasti Hana mampir kalau ada waktu".


"Oh ya Hana salam untuk ayahmu".


"Baik om, nanti Hana sampaikan".


Hana tersenyum manis kearah bu Tania dan pak Burhan sambil berlalu menuju mobilnya.


"Ayah, Bunda pengen dehhh punya menantu seperti Hana".


"Bunda ....bunda , kayak gak tau Saki saja bun".


Mendengar jawaban sang suami , bu Tania sedikit kesal karena suaminya bersikap biasa saja tak memberi dukungan untuk bu Tania menjodohkan Saki dengan Hana.


Didalam kamar Saki mendengus kesal, karena Hana.


"Apasih, maunya perempuan itu. Awas saja jika ia sampai datang ke kantorku....hhhhhhh".


Saki yang merasa kesal, memutuskan untuk


menyegarkan tubuh lelahnya yang seharian berkecimpung dengan berkas dan data.


Air yang mengalir membasahi tubuhnya membuat tubuh atletis Saki semakin hot dan sexy. Dadanya yang bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus, otot-otot perutnya yang membentuk pola membuat siapapun nyaman berada didekapnya.


***


Benar saja pagi harinya Hana datang menemui Saki di kantornya. Saki tak sedikitpun terkejut dengan kedatangan Hana, malah ia terlihat kesal dan tak suka.


"Selamat pagi".


Hana menyapa Saki dan Johan yang sedang berada diruangan kerja Saki. Sapaan Hana tak dihiraukan oleh Saki.


"Wahhhh....wahhh siapa ini cantik sekali?".


"Haloooooo aku Hana".


"Aku Johan.


Saki sejak kapan loe punya teman cewek cantik kayak gini????? isshhh ishhhh ishhhh".


"Tutup mulutmu dan selesaikan pekerjaanmu".


Mendengar perintah Saki , Johan mendengus kesal karena ia masih ingin menikmati kecantikan dan tubuh sexy Hana. Tapi lagi-lagi Saki mengusirnya, yang tak ayal membuat Johan meninghalkan ruang kerja Saki. Karena ia tau ketika sahabatnya marah dunia ini akan hancur dibuatnya.


"Saki, ini aku bawakan puding mangga kesukaanmu".


Shitt....pasti bunda yang memberitahu padanya, Saki mengumpat dalam hatinya.


"Mau apa kamu kesini?. Saya hanya menerima tamu untuk urusan bisnis".


Mendengar pernyataan Saki...Hana malah tersenyum manis dan berjalan menuju tempat Saki duduk. Hana memutar kursi Saki hingga wajah Saki menghadap wajahnya.


Saki tersadar apa yang akan dilakukan Hana terhadapnya, Saki segera mendorong tubuh Hana menjauh dari tubuhnya.


"Jadilah wanita yang bermartabat Hana, jangan kau rendahkan harga dirimu dihadapanku".


Mendengar ucapan Saki, Hana merasa terhina dan meninggalkan ruang kerja Saki. Dalam hatinya Hana bersumpah akan membuat takdirnya bersama Saki apapun caranya.