
Dalam perjalanan ke Indonesia, Saki begitu gelisah dan tidak tenang. Banyak hal yang ia pikirkan tentang ibunya. Ia takut jika kehadirannya malah memperparah kondisi ibunya. Tapi dalam hatinya ia begitu ingin bertemu ibunya, ingin melihat wajahnya bahkan memeluknya. Jam seakan-akan berjalan sangat lambat entah sudah berapa kali Saki melihat jam tangannya. Johan yang melihat kepanikan dan kekhawatiran diwajah sahabatnya mencoba untuk menenangkan Saki.
"Saki....loe bisa tenang gak sih, loe kan udah biasa ngadepin masalah-masalah yang rumit".
"Tapi kali ini beda Jo, gue gak akan sepanik ini kalo masalah kerjaan, tapi ini masalah ibu kandung gue Jo".
Sebelumnya Saki telah menceritakan semua tentang dirinya dan masalah yang ia hadapi sekarang kepada Johan.
***
Sesampainya dirumah pak Burhan di Indonesia, kedatangan Saki dan Johan sudah disambut oleh asisten rumah tangga pak Burhan yang memang ditugaskan menjaga dan membersihkan rumah selama keluarga pak Burhan tinggal di Jerman.
"Den, Saki ya.... sini kopernya bibi bawakan Den".
"Terimakasih ya Bi....".
Asisten rumah tangganya yang lain juga membantu membawakan barang milik Johan.
"Den...ada yang perlu bibi siapkan? Barangkali den Saki dan den Johan lapar".
"Emmm tolong siapin air panas ya aja bi buat mandi".
"Baik den".
Saki dan Johan membersihkan diri masing-masing setelah perjalanan mereka yang melelahkan, setelah dirasa cukup segar Saki menelfon bundanya untuk memberi kabar bahwa dirinya dan Johan sudah sampai di Indonesia.
"Assalammualaikum, bunda".
"Wallaikumsalam Saki, sudah sampai nak?".
"Alhamdullah sudah bun".
"Yasudah kalau begitu, kamu baik-baik ya disana, kalau butuh apa-apa langsung minta saja ke bibi".
"Iya bun, oiya bun....Saki boleh minta nomor telfon dokter Nadira???".
"Tentu boleh nak, setelah ini bunda kirim nomor dokter Nadira".
"Terimakasih bun".
"Sama-sama nak".
"Johan....johan......".
"Iya".
"Malam ini kita ketemu sama dokter Nadira, nomor telfon dokter Nadira udah gue kirim ke HP loe, loe atur waktu dan tempat kita ketemu".
"Siap bos".
"Oke ,thanks bro".
***
Setelah Johan menghubungi dokter Nadira dan menjelaskan maksud serta tujuannya untuk bertemu dengan dokter Nadira, akhirnya dokter Nadira menyetujui untuk bertemu Saki dan Johan malam ini di Cafe dekat Rumah Sakit tempat dokter Nadira bekerja.
Saki dan Johan lebih dulu sampai di Cafe tersebut, mereka memesan minuman sembari menunggu dokter Nadira datang.
Setelah hampir 30 menit menunggu akhirnya dokter Nadira datang.
"Maaf..., Pak saya terlambat tadi ada pasien yang harus saya tangani".
"Tidak apa-apa dok, silahkan duduk. Perkenalkan saya Johan yang tadi menghubungi bu dokter dan ini Saki".
"Ini pak Saki putra ibu Bianka?".
Mendengar perkataan dokter Nadira dalam hati Saki berkata" Jadi benar dia ibuku".
"Emmm iya dok. Jadi kira-kira kapan saya bisa bertemu dengan ibu saya dok?".
"Emmmm...saya rasa besok bisa pak tapi saya harus menghubungi dokter Bani terlebih dahulu karena setelah ibu Bianka mengalami depresi ibu Bianka sudah dipindahkan ke rumah sakit jiwa".
"Baiklah dok saya tunggu kabar dari dokter kapan saya bisa menemui ibu Bianka. Tapi saya ingin secepatnya ya dok".
"Baik pak nanti saya akan kabari bapak, setelah mendapat persetujuan dari dokter Bani, karena selama ini ibu Bianka belum pernah ada yang mengunjungi selain saya. Saya khawatir jika nantinya ia tidak bisa menerima kehadiran bapak".
"Hhhhhhmmm...baiklah dok".
Setelah pertemuannya dengan dokter Nadira, Saki begitu menggebu-ingin bertemu dengan ibh kandungnya, tapi Saki juga tidak ingin jika kehadirannya malah memperparah kondisi ibunya. Saki memutuskan untuk lebih bersabar lagi sampai waktu yang ia nantikan tiba.