Breath Of Love

Breath Of Love
22. Sembilan Bulan



Kehamilanku sudah menginjak sembilan, aku sudah mulai sulit bergerak. Tapi jika aku diam saja bermalas-malasan aku merasa tak enak hati dengan bu Tania. Sebisa mungkin aku mencoba membantu pekerjaan asisten rumah tangga bu Tania, walaupun sebenarnya ia menolak jika aku membantu karena ia tahu bu Tania melarangku mengerjakan pekerjaan apapun.


"Bianka, apa yang sedang kamu lakukan? bukankah saya sudah melarangmu untuk mengerjakan pekerjaan apapun. Biarkan si mbak yang mengerjakan. Kamu duduk saja Bianka!".


" Tapi saya ingin membantu bu, saya bosan jika hanya duduk saja dan tidak melakukan apapun".


"Bianka, saya tau kamu bosan tapi kehamilan kamu sudah sembilan bulan bahkan untuk bergerak jalan saja kamu kesusahan, riskan sekali untukmu terjatuh Bianka. Kemarilah duduklah saja di sofa sambil menonton tv".


"Tapi bu, Bianka .......".


"Ayok kemari, duduklah Bianka".


Aku berjalan kearah bu Tania duduk, sebelum sampai tiba-tiba perutku terasa nyeri hingga aku berteriak. Sakit yang kurasa tak tertahankan. Sepertinya aku akan melahirkan.


Bu Tania berlari menghampiriku dan segera meminta si mbak untuk memanggil supir untuk membawaku kerumah sakit. Dalam perjalan di rumah sakit bu Tania menelfon pak Burhan, mengabarkan jika aku dan bu Tania sedang menuju ke rumah sakit.


Aku tak henti-hentinya meringis kesakitan, kepanikan kami semakin menjadi ketika air ketubanku pecah. Aku mulai menangis mengkhawatirkan bayi yang ada didalam perutku. Dalam hati aku berdoa, jika harus ada yang diselamatkan aku minta agar anak ini saja yang selamat. Setelahnya aku sudah tak mengingat apa-apa.


Karena kondisiku yang memburuk dokter mengambil tindakan untuk operasi caesar.


"Bu, mohon maaf karena kondisi ibunya sangat lemah jadi sangat tidak mungkin untuk melahirkan secara normal, satu-satunya cara ialah dengan operasi caesar bu".


"Lakukan dok, selamatkan ibu dan bayinya".


"Baik kalau begitu bu, saya permisi".


Setelah hampir dua jam dokter bersama Bianka diruang operasi ,akhirnya ke khawatiran bu Tania dan pak Burhan pecah ketika mendengar tangis seorang bayi".


Sebelumnya ,pak Burhan sudah datang sejam yang lalu ketika Bianka sudah berada diruang operasi.


Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang operasi.


"Selamat bu, pak bayinya lahir dengan selamat. Bayinya laki-laki bu,pak".


"Maaf bu, untuk saat ini ibunya masih koma karena terjadi pendarahan yang cukup hebat ketika proses operasi. Sehingga menyebabkan bu Bianka menghabiskan darah yang cukup banyak, untung saja pihak rumah sakit masih memiliki cadangan darah yang sesuai dengan golongan darah bu Bianka. Kita berdoa saja ya pak, bu agar bu Bianka segera sadar dari komanya".


"Tolong berikan perawatan yang terbaik dok, untuk Bianka".


"Baik pak, kami akan berusaha sebaik mungkin. Kalau begitu saya permisi dulu ya bu, pak".


Bu Tania dan pak Burhan melihat Bianka yang terbaring lemas di bed tempat tidur dari kaca jendela. Bu Tania tak kuasa membendung air matanya, ia teringat akan kejadian yang ia alami sehingga rahimnya harus diangkat. Sesekali bu Tania menyeka air matanya, sedangkan suaminya pak Burhan dengan penuh kasih sayang merangkul pundak istrinya sembari menguatkan istrinya. Meskipun tidak dikaruniai seorang anak , pak Burhan dan bu Tania begitu saling mencintai dan mengasihi satu sama lain. Karena bagi keduanya pernikahan bukanlah hanya soal anak tapi bagaimana dua orang yang saling mengasihi tanpa pamrih.


Seorang suster datang menghampiri keduanya, hingga membuat keduanya sedikit terkejut.


"Maaf bu, bapak ini bayinya sudah dibersihkan".


Sembari memberikan bayi yang digendongnya ke bu Tania, bu Tania menyambutnya penuh haru dan bahagia. Bayi yang mereka impikan selama ini, berada dipelukannya meski bayi tersebut tidak lahir dari rahimnya.


"Ganteng ya mah".


"Iya pah, ganteng sekali. Lucu lagi".


"Kalau begitu saya permisi dulu pak,bu".


"Oh...iya sus terimakasih banyak".


Bu Tania dan pak Burhan tak henti-hentinya bergantian menciumi, putra Bianka. Sedangkan Bianka belum sadarkan diri.


"Pah, kita kasih nama siapa ya".


"Terserah mamah saja".


"Emmmm kalau begitu namanya Alsaki Amartya yang artinya bayi tampan murah hati yang nantinya akan menjadi penguasa yang abadi".


"Amin".