
Rasa penasaran Johan terhadap Vera membuatnya berinisiatif untuk menyelidiki siapa Vera sebenarnya.
"Pak Johan ini coffenya".
"Letakkan disitu, Terimakasih Vera".
"Baik pak, apa ada lagi??".
"Emmmm , tidak Vera kamu bisa kembali bekerja........Oh ya Vera apakah kamu mengenal Pak Pino???
"Emmmm.....mmmmm.....".
"Vera kamu kenapa???apa ada yang salah dengan pertanyaanku?".
"Tidak pak?".
"Begini Vera, jika kamu mengenal pak Pino dengan baik saya akan mengusulkan mu untuk ikut kedalam proyek ini".
"Ahhhhh jangan jangan pak, saya belum berpengalaman saya masih baru bekerja disini lagian saya tidak mengenal pak Pino. Saya permisi pak".
"Aneh banget sikap Vera, tapi aku gak boleh gegabah dan bikin Vera jadi gak nyaman kerja disini".
Joh an memutuskan untuk pergi ke bagian HRD dan meminta berkas-berkas Vera, benar saja nama lengkap Veranda Sandywo , ayah kandung Marvel Sandywo.
Tiba-tiba Saki datang mengagetkan Johan yang sedang membaca-baca berkas data diri milik Vera.
"Ngapain loe.....".
"Ehhh gakkk,gak ada".
"Itu yang ada di tangan loe, apaan? ngapain loe sama data diri tuh karyawan baru?".
"Gak ....gak ada gue cuma mau cek aja kan Vera disini baru , belum terdaftar sama program perusahaan kita".
"Itu kan tugas dan kerjaan HRD , ngapain loe repot-repot urusin hal sepele kayak gini...Johan?".
"Ya iseng aj....udah lah gak penting".
"Aneh lu".
Johan sengaja menyembunyikan hal ini terhadap Saki agar Saki tidak semena-mena memecat Vera , Johan masih butuh tenaga dan bantuan Vera karena sejak adanya Vera diperusahaan ini kerjaan Johan jadi lebih ringan dan yahhhh Johan sedikit terhibur karena ada pemandangan indah. Pikiran liar Johan soal wanita memang tidak akan pernah hilang meskipun ia sekarang tinggal di Indonesia.
"Saki ,gue udah lama nih gak ajep-ajep ".
"Ahhhh gue gak tertarik Jo, lagian gue gak bisa tenang kalo belum nemuin titik terang soal masalah ibu gue".
"Ya tapi kita juga butuh hiburan ngerefresh otak gitu".
Saki hanya memandang acuh sahabatnya itu, sambil melangkah kembali menuju ruang kerjanya.
"Kalo gitu nanti malam gue pergi ya".
Saki yang mendengar teriakan Johan mengabaikannya.
Tak sengaja seorang wanita yang berjalan berlawanan arah dengan Saki, menabrak Saki hingga ia jatuh ke lantai dan semua berkas yang dibawa wanita tersebut jatuh berhamburan ke lantai.
brakkkkkkk...."Aduhhh".
"Besok lagi belajar hati-hati".
"Ma-mafin Vera pak, Vera gak sengaja pak!!!".
"Jika sedang bicara dengan orang itu liat wajahnya".
Vera benar-benar ketakutan, tubuhnya semakin gemetar ia bingung apa yang harus ia lakukan.
"Veraaaa..... setelah selesai kamu beresi ini semua kamu keruangan saya".
Vera masih terdiam, bibirnya serasa kaku tak bisa berkata-kata.
"Veraaa....jawab atau kamu saya pecat".
"Baa-baik pak".
Dengan segera Vera membereskan semua berkasnya dan mengikuti langkah Saki menuju ruang kerja Saki.
"Duduk". Perintah Saki yang dipatuhi oleh Vera.
"Pak ,Vera minta maaf Vera gak ada sengaja nabrak bapak tolong jangan pecat Vera".
Saki yang melihat wajah pucat Vera karena ketakutan sedikit merasa kasihan, tapi wajah ketakutan Vera membuat wajah cantiknya semakin lucu. Tanpa disadari Saki menikmati wajah lugu nan cantik milik Vera. Ini bukan kali pertama Saki melihat gadis cantik tapi kecantikan Vera berbeda Dimata Saki, melihat wajah Vera membuat hati Saki terasa damai.
Hampir 15menit Saki menatap Vera, yang membuat Vera semakin gelisah.
"Pak...pak Saki".
"Ekkkhhmmm, kali ini kamu saya maafkan silahkan keluar".
"Benarkah pak??? terimakasih banyak pak".
Vera bergegas keluar meninggalkan ruangan Saki, dan kembali kemeja kerjanya.
"Vera kamu dari mana saja???". Tanya Johan yang kebingungan karena Vera tidak ada dimeja kerjanya.
"Tadi Vera habis dari ruangan pak Saki,pak".
"Ruangan Saki???".
"Iya pak".
Johan yang merasa aneh dengan jawaban Vera ia berbegas keruangan Saki, ia khawatir jika Saki memarahi Vera.
"Saki....loe ngapain si Vera???".
"Vera ngadu ke loe".
"Ya ,enggak sih cuma gue aneh aja ngapain loe nyuruh Vera keruangan loe ??kan gue tau loe gak suka sama cewek!!! ehhh cewek maksud gue".
"Salah gue nyuruh karyawan gue?".
"Ya enggak sih".
"Ya terus???.